BigBang Song

Lalala, My girl, BigBang is Vip, This Love (Gdragon), Last farawel, Lies, Haru Haru, My Heaven, With you, Gara gara Go, Beautivul Hangover, Lets me hear your Voice, Make love, Lollipop ft 2Ne1, Lollipop 2, Sunset glows, Hot Issue, Ora Yeah, Stay, Good Person, Tell me goog Bye, Hands Up, Always, Bringing youre love, Forever with you GDTOP ft BOM, Number 1, stylist, We Belong together, Dirty Clas, Tonight, Somebody To love, What is Right, Stupit Liar, Love song, Blue, Bad Boy, Love Dust, Ain't No Fun, Fantastic Baby, Wink's (Daesung), Ego, Feeling. "Taeyang" wedding Dress, Look Only At Me, I Need A Girl, Move ft Teddy, Prayer ft Teddy, Friend ft TOP, Where U at. "Gdragon" HeartBreker, Korean dreams, Shine a Light, She is Gone. "Seungri" What can i do, Strong Baby, VViP. "Daesung " Baby dont Cry, Try To lough. "GDTOP" High High, Oh Yeah, Baby Good Nigh, Jibe Gajima, Dancing on My Own ft Pixie Lott. Monster, Bingle Bingle, Still Alive
Tampilkan postingan dengan label Jang Hyunseung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jang Hyunseung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Oktober 2012

(Fanfiction) Make Me loving You Part 3 B




Author : @deebee_vip

Cast : Han Mika, Dong yongbae
Jang hyun seung, Lee Hanna

Support Cast : Han Taeyang. Han Chaeri, Han Jay bum, Kwon Jiyong, Dongwoon

Makes me loving you part 1
Makes me loving you part 2


Hyunseung Pov :

Aku terus berjalan meninggalkan ruangan itu, rasanya aku ingin segera pergi dari rumah ini. Aku sudah tidak sanggup lagi menerima kenyataan ini. Bagaimana mungkin semua ini terjadi. Apa ada yang salah, namun rasanya tidak mungkin. Semua cerita itu adalah nyata, cerita yang harus aku terima dengan pahit. Aku sudah tidak memperdulikan teriakan mika yang menyuruhku untuk berhenti, kakiku terus melangkah meninggalkannya. Aku sudah tidak ingin mendengarkan penjelasannya lagi. Meskipun kata hatiku ingin sekali untuk berbalik ke arahnya namun ternyata otakku memerintahkan lain.

Aku sudah tidak tahan, benar-benar sudah tidak tahan lagi. Pikiranku kacau. Airmataku menetes tanpa ku sadari. Kenapa semua ini harus terjadi tuhan. Katakan apa kesalahan yang aku perbuat sehingga kau memberikanku cobaan seperti ini.

Author Pov :
Di sudut jalanan itu hyunseung terus mempercepat langkahnya, dia sudah tidak peduli lagi dengan teriakan orang-orang  yang memaki dirinya karena tidak sengaja tertabrak. Jalanan itu memang cukup ramai dengan pejalan kaki, namu karena hyunseung sudah tidak dapat berpikir dengan jernih yang bisa dia lakukan hanya terus berjalan tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya.

Akhirnya pertahanan hyunseung runtuh juga, dia berhenti di tengah-engah jalan, di tengah hiruk pikuk ramainya kegiatan manusia. Hyun seung terdiam cukup lama, dia hanaya mematung tanpa melakukan apapun. Airmatanaya terus menetes dikedua sudut matanya. Namun tiba-tiba dia jatuh tertunduk, lekat manatap tanah yang ada di hadapannya. Dia tidak snggup untuk melihat orang-orang disekitarnya yang menganggap dia aneh. Hyun seung mengepalkan kedua tangannya erat. Hatinya pebuh sesak, sehingga oksigen yang masuk kedalam paru-parunya pun sudah tidak dapat dia rasakan sebagai mana mestinya.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” Hyun seung berteriak keras.

“kenapa, kenapa mika. Kenapa kau lakukan semua ini padaku”

Kata-kata itu reflek keuar dari mulutnya. Dan pada akhirnya laki-laki itu menangis. Meraung mengeluarkan segala beban dan kenyataan pahit yang baru saja diterimanya. Semuanya sudah tidak dia pedulikan lagi. Meski tatap tanya dan tatapan aneh dari setiap pasang mata memperhatikannya. Bagi hyunseung semuanya tidak ada. Dia merasa sedang sendiri di tempat itu. Tangisnya masih terdengar pilu dan menyayat hati. Setelah sekian lama dia berhenti, mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, lalu berdiri. Tegap dan angkuh, hyun seung kembali berjalan meninggalkan tempat itu. Berjalan menuju halte bus terdekat. Wajahnya terlihat dingin dan matanya memerah karena tangis dan amarahnya.

Setelah tiba di halte bus dia menghentikan sebuah taksi, dengar kasar dia membuka pintu taksi itu dan masuk kedalamnya.

oOo

Di tempat lain, yong bae masih dengan setia dan sabar menunggu mika. Dia tahu sebenarnya sejak tadi mika tidak tidur meskipun matanya tertutup secara sempurna. Mudah saja bgi yong bae untuk mengetahui itu karena memang dia sudah mempelajari tahap-tahap seseorang bisa tertidur saat masih kuliah dahulu. Namun yongbae membiarkan mika, selain tidak tega dia tahu bagaimana perasaan mika saat ini, karena itulah dia memilih untuk diam saja.sejak matanya tetutup pun, air mata mika tetap mengalir di kesua sudut, itu bukti kedua bahwa mika hanya berpura-pura tertidur.

“Mika, aku hara kamu baik-baik saja. Dan setelah ini beban di hatimu berkurang. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Kau tahu bagaimana takutnya aku selama ini bukan. Ketakutan terbesarku adalah bahwa hyunseung akan kembali dan kau akan terluka lagi. Dan hari ini semua ketakutanku itu benar-benar terjadi. Sungguh aku sangat mencintai mu begitu juga dengan hyun mi. jadi aku mohon tetaplah tinggal disisiku jangan pernah meninggalkanku apapun yang akan terjadi esok.”

Yongbae membelai rambut mika pelan setelah mengucapkan kalimat itu, sebelah tangannya menggenggam tangan mika erat. Dan yang tak pernah dia sangka sebelumnya yongbae ikut menitikan air matanya. Dia begitu takut akan kehilangan mika setelah kejadian ini.

“Aku mencintaimu, terlalu mencintaimu mika.” Ulang yongbae. Suaranya terdengar serak, terlihat dengan jelas bahwa dia menahan tangisnya agar tak terdengar oleh  mika. “Meskipun aku tahu kau belum mencintauku sepenuh hatiku. Aku terima itu asalkan kau tetap bersamaku”. Yongbae semakin menggenggam erat tangan mika. Dia mendongakkan kepalanya mencoba menhan agar air matanya tidak terus jatuh membasahi pipinya.

Beberapa wantu telah berlalu, namun suasana kamar itu tetap hening. Mika menahan matanya agar tetap tertutup. Yah dia mendengar dengan jelas semua yang di ucapkan oleh yongbae. Sebenarnya dia ingin sekali mengatakan sesuatu tai mulutnya terkunci rapat begitu juga dengan matanya. “Maafkan aku oppa.” Ucap mika dalam hati. “Maafkan aku, sehingga kau harus masuk kedalam hubungan yang rumit ini. Dan maafkan aku jika belum mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Selama ini aku sudah mencobanya, namun hyunseung begitu sulit untuk aku hapus dalam ingatanku”. Namun semua kalimat itu hanya mika ucapkan dalam hatinya, dia belum mampu utnuk mengatakan secra langsung kepada yongbae.

Dengan semua keberaniaanya, mika membuka matanya secara perlahan. Dilihatnya yongbae menengadahkan kepalanya menghadap ke arah langit-langit kamarnya. Mika berusaha untuk bangkit. “oppa.” Pangglkan. Yongbae tersadar dan menolehkan wajahnya menghadap  mika. “Kau sudah bangun.” Mika hanya mengangguk menjawab pertanyaan yongbae.

“oppa aku ingin pulang sekarang.” Pintanya.
“Apa tidak sebaiknya kita menginap disini saja untuk malam ini, nanti setelah keadaanmu membaik kita pulang”. Tawar yongbae sambil membelai kedua wajah mika.

Lagi mika menggeleng, dia merasa tidak nyaman jika malam ini harus menginap di rumah orang tuanya apalagi mengetahui betapa marah kakaknya tadi. “Tidak oppa aku ingin pulang sekarang.”

Yongbae tersenyum dan mengangguk. “Baiklah kalau itu maumu.” Yongbae membantu mika bangun dari tempat tidurnya. Membenarkan baju mika yang kelihatan berantakan dan memakaikan pakaian hangat.
“Kau tunggulah di bawah dan berpamitan pada ayah dan ibu, aku ke kamar hyun mi dulu.”
Mika menggangguk dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan hyunseung. Hyunseung hanya bisa mendesah melihat mika. Namun dia tetap bersabar dan berjalan mengikuti mika dari belakang dan menuju ke kamar hyun mi untuk menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan hyun mi.

oOo

“Ayah, ibu aku akan pulang malam ini.” Mika hanya mengucapkan kata-kata itu tanpa menatap kedua orang tuanya. Bahkan dia tidak duduk di kursi saat mengucapkan itu.

“Apa sebaiknya kalian tidak makan malam dahulu bersama-sama.” Tanya ibu mika.

“Tidak ibu kami akan makan di rumah saja. Aku permisi dulu.” Setelah itu mika meninggalkan kedua orang tuanya dan juga jay bum. Melihat tingkah mika jay bum ingin menghentikan mika, karena menurutnya dia sudah berperilaku tidak sopan. Namun sebelum jay bum berhasil menghentikan langkah mika, tuan han terlebih dahulu menarik tangan jay bum. “biarkan saja, mungkin dia butuh waktu untuk menenagkan diri. Bukankah sudah ada yongbae yang akan menjaganya. Jadi sebaiknya kita percayakan saja semuanya kepadanya.” Kata tuan han bijak. Jay bum hanya bisa mendesah dan kembali duduk di tempatnya semula.
Tidak lama setelah itu terlihat yongbae menggendong hyun mi yang sudah tertidur. Pelayan seo membawakan tasnya mengikuti di belakang yongbae. “Ayah, ibu, hyung kami pulang dulu.” Nyonya han hanya mampu menatap pilu ke arah yongbae, dia berjalan mendekat. Mentap yongbae dengan seksama. Tangannya meraih tangan yongbae sebelah kanan, mengusapnya dengan lembut dan tersenyum ke arah yongbae.

“kami tahu kamu adalah pria baik. Kami juga tahu kamu adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab. Kami serahkan mika dan hyun mi kepamu yongbae-ah.” Yongbae hanya bisa tersenyum sebagai jawaban dia tidak sanggup untuk mengucapkan kata-kata apapun karena dia takut jika saja air matanya akan jatuh lagi.

“Aku akan menjaga mereka dengan semua yang aku punya ibu.” Setelah itu yongbae berpamitan dan segera menuju ke mobilnya yang terparkir di depan rumah keluarga han. Yongbae membuka pintu mobil penumpang yang ada di belakang dan menyerahkan hyun  mi kepada mika. “Dia sudah tidur mika.” Lagi-lagi mika hanya tersenyum dan menerima hyun mi. di tamatinya wajah kecil hyun mi yang sedang tertidur. “Kau sungguh benar-benar mirip dengan appamu hyun mi.” mika membatin. Tangan mika membelai wajah kecil itu lembut dan mendekapnya dalam pelukan hangatnya.

Bibi seo menyerahkan tas yang dibawanya kepada yongbae. “Hati-hati di jalan tuan.” Bibi seo membungkukkan badan lalu meninggalkan yongbae. Dia memasukkan tas itu kedalam pintu samping kemudi. Kemudia dia berputar dan membuka pintu kemudi dan menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga han.

oOo

Alunan musik menggema sangat memekakkan telinga, banyak sekali manusia baik pria ataupun wanita yang menggoyangkan badannya di area dance flor. Di bagian lain terdapat meja-meja yang siap menyambut pelanggan yang datang ke tempat itu. Di salah satu meja terdapat seorang laki-laki yang tengah meneguk minumannya dari gelas hingga habis, kepalanya terus saja bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan musik yang sedang di putar. Sesekali dia tersenyum pahit meratapi nasibnya. Di meja itu terdapat banyak sekali botol wine yang telah kosong. Bukti bahwa pria itu sudah mabuk karena banyak menghabiskan minuman yang beralkohol.

“Ya hallo, ada apa”. Lelaki itu menganggat panggilan telphone dari handphonenya. “Kau dimana, kenapa tidak ada di rumah. Bukankah kau biang akan tinggal di apartementku”.  Lelaki itu hanya tersenyum miris mendengar jawaban dari lawan bicaranya.

“Dongwoon-ah aku sakit, sakit sekali. Rasanya jantungkku ingin pecah saat ini juga”. Dan saat itu juga air mata kembali mengalir dari sudut mata hyun seung, dia juga nampak menekan-nekan dada sebelah kirinya petanda dia merasakan sakit yang amat sangat pada tempat itu.

“Tunggu kau ada di mana sekarang, kenapa berisik sekali.” Tanya dongwoon.

“Sakit dongwoon.” Hyunseung hanya mampu merintih dia tidak mengindahkan pertanyaan dari dongwoon.
“Baiklah aku tahu kamu berada dimana sekarang, tunggu aku disana kau jangan kemana-mana.” Seketika itu juga sambungan telephone terputus.

Lagi hyunseung menuangkan wine nya kedalam gelas yang berisi air es. Dia sudah tidak peduli lagi berapa botol yang akan dia habiskan malam ini. Setelah menegukkan hingga habis hyunseung kembali memejamkan matanya. Dia mengingat bagaimana saat-saat mika tersenyum dan tertawa dengannya. Mengingat setiap kenangan yang terlukis di dalam hatinya.

“Aku tak sanggup, aku tak sanggup tanpamu han  mika. Lalu sekarang apa yang kau lakukan, kau meninggalkanku. Bukankah lebih baik kau membunuhku saja dari pada kau membunuhku dengan perlahan karena kepergianmu.” Gumamnya pelan dan menyenderkan kepalanya di atas meja.

Tidak lama setelah itu muncul sesosok pria. Dia nampak kebingungan, matanya menyelusuri setiap bagian dari tempat itu. Setiap meja dai perhatikan dengan baik dan seksama tidak ingin melewatkan sesuatu yang luput dari pandangannya. Setelah matanya tertuju pada satu meja di sudut ruangan itu, matanya semakin membulat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dengan segera dia berlari ke meja itu.

“Seungie”. Panggilnya pelan. Namun hyun seung tetap tidak merespon panggilan itu.

“Jang hyun seung.” Karena tidak mendapat respon dari hyun seung, pria itu mengguncang bahunya pelan dan menyebutkan nama lengkapnya. Merasa hyunseung mengenali suara yang telah memanggilnya, dia menolehkan wajahnya ke arah pria itu.

Hyunseung menatap dia intens. Seakan pria itu tahu dengan apa yang terjadi dengan hyunseung. Dia menarik kursi di hadapan hyunseung dan duduk di kursi itu. Dia menatap hyunseung lekat. “Apa yang sebenarnya terjadi.” Dia bertanya, namun hyunseung diam mengabaikannya.

Beberapa menit berlalu suasana diantara mereka berdua masih sama-sama saling membisu tidak ada yang berbicara meskipun dalam tempat itu suara musik menggema sangat kerasnya.

“Dia meninggalkanku woon-ah. Dia meninggalkanku seorang diri.” Ucap hyunseung lirih.

“Siapa yang kau maksud seungie.” Dongwoon tetap bertanya meskipun dia tahu betul siapa yang hyunseung maksud.

“Dia sudah menikah. Dan dia juga sudah mempunyai anak. Bagaimana semua ini bisa terjadi padaku.”
Dongwoon sangat terkejut mendengar pengakuan hyunseung dia tidak menyangka jika temannya akan mengetahui kabar itu secapatnya.

“Disini sangat sakit sekali woon-ah.” Sekali lagi hyunseung menekan dadanya kuat dan meremasnya. Dongwoon iba melihat keadaan hyunseung ditambah saat ini dia sedang mabuk.

“Lebih baik kita pulang saja, kita bicarakan masalah ini besok. Kau sudah terlalu mabuk.”
Hyunseung hanya memejamkan mata mendengar ajakan dari dongwoon, dia ingin sekali menolak namun tubuhnya sangat lemah dan entah kapan kekuatannya hilang begitu saja.

Dia tidak melawan saat dongwoon membopong tubuhnya membantu dia untuk berdiri dan bejalan meninggalkan tempat tersebut. Langkah hyunseung tertatih dan sempoyongan namun dengan sigap pula dongwoon menarik dan menopang tubuhnya saat dirasa hyun seung akan terjatuh. Dia tidak peduli lagi dengan banyaknya pasang mata yang memperhatikan mereka berdua, toh juga banyak orang yang terlihat sama seperti hyunseung sekarang ini.

oOo

“mika kita sudah sampai”. Yongbae mencoba membangunkan mika yang tertidur didalam mobil selama berada diperjalanan. Dia meraih hyun mi dari pangkuan mika. Karena merasa ada yang megganggu tidurnya mika terbangun dan kaget karena hyun mi tidak ada di pelukannya. Dia menoleh ke arah pintu mobil yang terbuka dan seketika itu perasaan lega hinggap, ternyata yongbae yang membangunkannya dan membawa hyun mi.

“Kita sudah sampai kau masuklah dulu. Aku akan mengambil tas dan mengantarkan hyun mi ke kamarnya.” Perintah yongbae dan lagi-lagi hanya anggukan kepala yang mika berikan kepadanya. Tanpa seulas senyum dibibirnya yang selama ini selalu dia berikan kepada yongbae.

Setibanya didalam rumah mika langsung menuju kekamarnya, dia mengganti bajunya dan masuk kekamar mandi untuk membasuh wajahnya. Saat memandang wajahnya sendiri didepan cermin. Mika mulai teringat dengan semua kejagian tadi siang di rumah orang tuanya. Cukup lama dia menatap wajahnya sendiri di depan cermin dan dia juga melihat bahwa air matanya kembali menetes.

“Kenapa kau kembali oppa, apa alasanmu kembali dan muncul dihadapanku. Bahkan dengan terang-terangan kau muncul di tengah-tengah keluargaku. Tak tahukah kau akibat dari semua ulahmu itu. Lalu apa yang seharusnya aku lakukan sekarang. Kau membuatku menjadi seorang wanita jahat oppa.” Mika kembali menangis dan tubuhnya roboh dia bersandar di dinding sudut kamar mandi. Dia kembali meraung dalam tangisnya. Mika tidak sanggup membayangkan dengan apa yang akan terjadi esok. Dia membekap mulutnya sendiri agar tangisnya tidak terdengar dari luar. Namun sia-sia karena saat itu juga yongbae sudah membuka kamar mandi dan menyaksikan dengan matanya sendiri apa yang tengah terjadi padanya.

Dengan berlari yongbae menghampiri mika, diraihnya tubuh lemah mika dan di bawanya tubuh itu kedalam dekapan hangat peluknya. Dibenamkannya kepala mika pada dada bidang yongbae, dan tangannya pun mengusap punggung mika lembut. Mika memejamkan mata sejenak kemudian dengan kesabaran yang dia miliki dikecupnya kening mika untuk menenangkan istrinya tersebut. Meskipun yongbae memeluk mika dengan penuh kasih sayang namun tangis mika tidak kunjung reda bahkan isakan mika semakin keras.

“Tenanglah mika, semua akan baik-baik saja. Aku akan terus berada disampingmu untuk menjaga dan menuntunmu”. Kata-kata yang diucapkan yongbae bukannya membuat mika merasa tenang dan menghentikan tangisnya namun malah membuat dia semakin merasa bersalah dan semakin erat membekap mulutnya sendiri.

Tak tega melihat keadaan mika yang semakin tidak karuan, akhirnya yongbae megangkat dan membawa mika untuk istirahat di tempat tidur. Dengan pelan diturunkannya mika ke tempat tidur itu. Yongbae ikut berbaring di sebelah mika. Dia menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua sampai ujung dada. Di tariknya tubuh mika hingga sekarang yongbae bisa mendekap tubuh renta itu. Yongbae sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk menenangkan miika. Untuk saat ini mungkin dengan membiatkan mika tertidur dalam pelukannya bisa membuat wanita itu tenang.

oOo

dongwoon sangat kesulitan membawa hyunseung untuk menuju apartment nya. Meskipun tubuhnya kecil namun dia sangat berat. Setelah dia memasukkan ke pin apartmentnya segera dia membawa hyunseung menuju kamarnya dan menbaringkan tubuh hyun seung. Sejak di perjalannan tadi hyunseung tak henti-hentinya menyebut nama mika dan meremas dadanya sendiri bahkan pria itu sering meneteskan air matanya meskipun dia tidak menangis. Namun dongwoon tahu jika dalam hati hyun seung sudah menangis.
Dongwoon hanya bisa menatap tubuh hyunseung iba. Dia segera meninggalkan kamar itu untuk membiarkan hyunseung beristirahat terlebh dahulu. Sedangkan hyunseung, apa yang terjadi pada pria itu semua tidak tahu. Dia memang memejamkan matanya dan berhenti menyebutkan nama mika. Tapi apakah dia tidur atau tidak tidak ada yang tahu.

Hyunseung mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia merasakan pusing dikepalanya. Perlahan dia membuka matanya dengan sempurna, dan sakit dikepalannya semakin dia rasakan. Dengan berat dia menegakkan tubuhnya berusaha untuk bangun. Setelah dia duduk sejenak, dia berdiri dan berjalan menuju dapur untuk meneguk air putih. Yah dia merasakan kering di tenggerokannya ditambah lagi pusing yang sekarang dirasakannnnya.

Setelah tiba di dapur dia membuka lemari es dan mengambil botol air putih, diteguknya air itu hingga habis setengah.

“Kau sudah bangun”. Suara yang menginteruonya tindakannya dari belakang membuat hyunseung menaruh kembali botol itu kedalam lemari es.

“Hemmmm, kau tidak kerja.” Hyunseung menatap dongwoon sekilas dan melirik jam yang terletak di atas lemari es telah menunjukkan pukul 10 pagi.

“Tidak. Aku sengaja tidak bekerja hari ini. Kau tahu apa alasanku bolos?” tanya dongwoon yang membuat hyunseung menyipitkan matanya.

“Kau tidak sedang merayuku kan woon-ah.” Hyunseung semakin curiga dengan perilaku dongwoon, sedangkan yang diperhatikan sejak tadi hanya mampu tersenyum simpul dan duduk di kursi meja makan.

“Kau belum sarapan kan, ayo kita makan. Aku sengaja menunggumu bangun tadi. Tapi maaf di rumahku ini hanya ada roti tawar.” Dongwoon tidak lagi menunggu jawaban dari hyunseung. Dia langsung mengambil roti yang ada dihadapannya dan menggigitnya agar hyunseung tidak terlalu banyak bertanya. Dan apa yang dilakukaknya memang cukup ampuh. Sekarang hyunseung ikut duduk dihadapan dongwoon dan menikmati sarapan mereka.

“Woon-ah kau sudah tahu semua ini kan.” Hyunseung menatap dongwoon lekat.

“Apa yang kau maksud aku tidak mengerti.” Jawab dongwoon mencoba untuk mengelak.
“Kau jangan mengelak, jawab saja pertanyaanku.” Tuntun hyunseung.

Dongwoon menghembuskan napasnya sejenak. “Tepat 1 bulan lebih setelah kepergianmu dia menikah dengan dokter itu. Aku tidak tahu dengan pasti apa yang membuatnya menikah tiba-tiba. Namun yang jelas setelah 1 minggu kpergianmu. Mika terus saja mencarimu, bahkan setiap hari dia menelphoneku untuk menanyakan apakah ada kabar darimu atau belum. Dia sangat frustasi karena tidak bisa menghubungimu dan tidak lama setelah itu. Dia datang padaku sambil menangis. Dia menyerahkan undangan pernikahannya namun setelah aku menerimanya, dia berlari meninggalkanku tanpa meninggalkan 1 kalimatpun. Aku berusaha untuk meghubunginya mencoba untuk mencari tahu apa alasan yang membuat dia harus menikah secepat itu. Tapi semua itu nihil.”

Hening, itulah suasana yang ada dianatara mereka setelah dongwoon menghentikan cerita singkatnya. Sedangkan hyunseung dia hanya menunjukkan ekspresi datar mendengar penuturan dongwoon.
“Lalu anak itu?” tanya hyunsung lagi.

“seperti yang kau dengar dan tahu. Dia adalah hyun mi anak mika dengan dokter itu”. Sejenak dongwoon terdiam dan menghembuskan napasnya. “Namun aku juga mendengar jika mika melahirkan anak itu sebelum pernikahannya memasuki bulan ke 8”. Banyak berita miring dengan kejanggalan itu tapi pihak rumah sakit dan keluarga mika mengatakan jika mika mengalami kecelakaan, dia terjatuh dan perdarahan sehingga bayinya lahir prematur.

Hyunseung sempat kaget dan menolehkan kepalanya menghadap dongwoon setelah mendengar bahwa ika pernah mengalami kecelakaan. “Lalu apakah kau tidak bertanya kepada hanna?.”

“Untuk apa aku bertanya kepadanya, bahkan kami sudah tidak saling bertemu sejak lulus sma. Kau tahu itu dengan jelas kan”. Dongwoon sepertinya agak emosi dan menaikkan nada bicaranya.

“ya, ya, ya aku tahu itu tapi kau tidak perlu marah dan menaikkan nada bicaramu. Aku sekarang sudah cukup merasakan pusing dikepalaku. Jadi jangan kau tambah lagidengan harus mendengar suaramu.
Dongwoon hanya menyeringai kecil mendengar kemarahan nyunseung.

“Oke aku sekarang harus pergi ke kantor, jika kau ingin keluar pake mobilku. Kuncinya ada di meja kamar. Aku pergi dulu bye”. Setelah itu dongwoon meninggalkan hyunseung sendirian.

“yah, bukannya tadi kau bilang ingin membolos.” Teriak hyunseung.

“aku hanya membolos sampai istirahat makan siang.” Hanya itu yang di ucapkan dongwoon, setelah itu tidak ada suara yang terdengar lagi.

Hyunseung mencoba memikirkan semua yang telah diceritakan oleh dongwoon. Ingin sekali dia menemui mika dan meminta penjelasan darinya, namun disisi lain dia tidak ingin merusah rumah tangga orang lain terlebih lagi tumah tangga orang yang sangat dia cintai. Hyunseung hanya mampu mengacak-acak rambutnya frustasi, dan setelah itu mengusap wajahnya kasar. Dengan segera dia berdiri dan meninggalkan meja makan bergegas ke kamar mandi untuk berendam dan menghilangkan semua penat yang dia rasakan.

oOo

Dan sekarang disinilah dia berada di sudut café rumah sakit tempat dokter itu bekerja. Dia tidak tahu apa yang membuatnya berada disitu namun langkah kakinya menuntunnya hingga tiba di rumah sakit itu. Cukup lama dia menunggu seseorang yang sudah dihubunginya sejak tadi, bahkan kopi yang berada di cup cangkirnyapun nyaris habis. Dia mulai bosan untuk menunggu, namun dia mencoba untuk bertahan.

“Apa kau sudah menunggu lama, maaf aku terlambat.” Sebuah seuara membuyarkan sedikit lamunannya. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Namun tidak untuk seseorang yang menyapanya, dia terlihat enggan untuk menyambut uluran tangan itu.

“Oke, tidak masalah jika kau tidak mau menyambut uluran tanganku. Duduklah .”

“Ada apa kau mencariku.”

Pertanyaan langsung yang tepat pada intinya membuat laki-laki itu tersenyum simpul dan membenarkan letak duduknya dan menatap orang yang berada di hadapannya.


--------------------------------bersambung-------------------------------------------

Sabtu, 15 September 2012

(Fanfiction) Makes Me Loving You Part 3 a




Author  : @deebee_vip

Cast : Han Mika, Dong yongbae
Jang hyun seung, Lee Hanna

Support Cast : Han Taeyang. Han Chaeri, Han Jay bum, Kwon Jiyong, Dongwoon

Makes me loving you part 1
Makes me loving you part 2

Senyum tak pernah lepas dari wajah laki-laki itu. Dia tetap memandang lurus ke arah depan, sesekali memandang ke samping melihat jalanan yang taksi itu lewati. "sudah 2 tahun lebih aku meninggalkan korea,tapi sepertinya tidak ada yang banyak berubah. Aku harap perasaanmu padaku masih sama". Dia berguman dalam hati dan sekali lagi tersenyum.

"hallo, dongwoon apa kau dirumah".
"yah, siapa ini?"
"aish kau melupakanku.ah jinja!"
"hah, apa kau hyunseung!"
"memangnya sapa lagi"
"aku dikantor ada apa kau menelponku?".
"aku di korea sekarang, dan aku butug tumpangan untuk tinggal!"
"Apa kau gila,setelah 2 tahun lebih menghilang dan sekarang sudah berada di korea. Apa kau tahu banyak orang yang mencarimu. Aku sampai tidak tahu lagi harus mencari keberadaanmu dimana!".
"Hahahaha ceritanya panjang, nanti saja semua pasti akan aku ceritakan padamu. Kode apartmentmu belum kau gantikan".
"Ya, ya, apa kau ingin merampok dirumahku. Cieh, dasah anak ini. Hanya 3 nomor belakang yang ganti menjadi 712. Dan ingat kau hutang bnyak pertanyaan dariku".
"Oke, sekarang aku di dalam taksi. Aku butuh istirahat, sampai ketemu nanti".

Tanpa menunggu jawaban dari dongwoon hyunseung menutup saluran telphone tersebut.

Setelah tiba di kawasan apartment yang di maksud hyunseung, taksi itu menepi. Tampak pelayan membukakan pintu untuknya. Sebelum keluar dia memberikan beberapa lembar uang. "oh iya pak, maaf saya hanya akan membersihkan diri dan menhanti baju, jika anda bersedia bisa menunggu saya akan memakai taksi ini lagi?". Hyunseung bertanya kepada sopir taksi tersebut sebelum keluar. "baik saya akan menunhu". Jawab sopir taksi itu dan tersenyum ke arah nya. Setelah keluar dari dalam taksi. Koper2 hyunseung sudah berada di hadapannya. "cepat juga ini pelayan". Ucapnya dalam hati. "lantai 3 no 63". Kata hyunseung ke arah pelayan tersebut dan berjalan mendahuluinya tak lupa dia menggunakan kembali kacamata hitamnya.

Setelah selesai membersihkan diri, hyunseung membongkar kopernya ia nampak mencari dan memilih baju yang sekiranya pantas untuk dia pakai. Hyunseung memakai kemeja itu, kemeja berwarna biru muda, celana hitam, juga jas berwarna hitam pula. Dia tidak memasukkan kemejanya ke dalam celana, kancing atas kemejapun dia biarkan terbuka 2, tanpa menggunakan dasi. Setelah selesai dia tersenyum dan merapikan rambutnya. Perlahan namun pasti lelaki meninggalkan apartment dongwoon, ia melangkah ke arah lift dengan tangan di masukkan kedalam saku semua. Sesekali dia melirik arloji yang berada di lengan kananannya. Tidak butuh waktu lama untuk dia tiba di lobby. Sesampainya di luar gedung itu, mata hyunseung mencari-cari taksi tadi. Mata hyunseung langsung menangkap keberadaan taksi tersebut dan dengan cepat dia berjalan ke arah itu.

"Tolong antarkan aku ke alamat tersebut". Ucapnya dengan menyerahkan selembar kerta kepada sopir taksi setelah sampai di dalam taksi.

oOo

Disebuah taman belakang kediaman orang tua mika berkumpul. Tampak juga lee hanna yang merupakan anak dari sopir keluarga han, lee in guk. Kali ini jay bum juga hadir untuk merayakan anivesary pasangan tuan dan nyonya han. Sedangkan si kecil hyun mi, asyik berceloteh dan bernyanyi ala anak se usia 1 tahun di pangkuan ibu mika. Sedangkan yongbae dan mika hanya bisa tertawa bahagia melihat keluarganya bisa berkumpul bersama dan bercengkrama di sebuah meja taman itu sambil menikmati makan siang. Meskipun tanpa keluarga dari yongbae yang hadir, namun semua itu tidak mengurangi kebahagiaan di wajah mereka semua.

"Mika bukankah sebaiknya kau meminta bibi seo untuk membantumu mengasuh hyun mi, kau lihat dia begitu aktif sekarang apalagi sudah bisa mulai berjalan itu akan sangan merepotkanmu". Nyonya han membuka pembicaraan ditengah derai tawa keluarga tersebut.

"Tidak ibu, aku masih bisa menjaganya dengan baik. Dan lagi pula aku tidak ingin melewatkan setiap perkembangannya. Walaupun itu memang akan menguras tenaga dan waktu tapi aku senang dan bahagia dengan semua itu". Mika tersenyum menjawab pertanyaan dari ibunya. Yongbae ikut tersenyum menatap mika lalu dia menggenggan tangan kiri mika. "ibu biarkan dia melakukan apa yang dia sukai, kami yakin masih sanggup untuk menjaga hyun mi". Yongbae menimpali kata-kata nyonya han dengan sopan dan tegas.

"Aish kalian ini memang sangat kompak kalau sudah urusan melawan kata-kataku, benar tidak hyunmi, dengar ya jika kau sudah besar nanti tidak boleh seperti mommy dan daddy mu itu, kau harus menurut apa yang nenek katakan. Mengerti". Seketika tawa meledak di tengah-tengah perbincangan itu. Hyun mi yang belum mengerti tentang apa yang orang-orang dewasa itu katakan hanya bisa tertawa dan sesekali berteriak mengucapkan kata "mommy"

Dari kejauhan nampak seorang pelayan yang berjalan mendekati ke arah mereka.

"Maaf tuan saya mengganggu". Pelayan itu memberikan hormatnya dan membungkukukan setengah badannya. "iya ada apa". Kata han taeyang.

"Sekarang di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan nyonya muda". Seketika semua terdiam mendengar perkataan pelayan itu.

"Aku? Siapa". Ucap mika kemudian.

"Orang tersebut tidak mengatakan apapun. Yang dia katakan hanyalah nyonya muda mengenalnya dan dia adalah teman lama anda".

"Memangnya siapa kenapa aneh sekali". Mika berdiri hendak menemui orang tersebut. Mika berjalan beberapa langkah dari kursinya namun mendadak berhenti mendengar teriakan hanna.

"Mika tunggu. Biar aku saja yang menemuinya". Teriak hanna.

"Eh kenapa??".

"Sudahlah kau duduk saja, lanjutkan perbincangan kalian. Lagi pula jika dia temanmu bukankah dia temanku juga. Lagi pula kalian jarang sekali berkumpul. Jadi manfaatkan kesempatan kali ini". Hanna tersenyum dan meninggalkan tempat duduknya dan berjalan ke dalam bersama pelayan tadi. "aku permisi dulu". Ucapnya kemudian sebelum benar-benar meninggalkan tempat tersebut.

"Dimana sekarang dia berada". Hanna bertanya kepada pelayan itu.

"Diruang tamu, saya akan menyiapkan minuman dan juga makanan ringan sebentar".

"Baik jangan lama-lama pelayan goo".

Satu langkah dua langkah, hanna berjalan pelan memasuki ruang tamu kediaman keluarga han. "selamat siang". Sapa nya setelah tiba ruang tamu tersebut.

Pria itu hanya tersenyum mendengar sapaan hanna. Lantar dia beranjar berdiri dari duduknya. Di ulurkannya tangan sebelah kanan untuk berjabat tangan. "selamat siang lee hanna, bagaimana kabarmu". Pria itu tetap mengangkat tangan sebelah kanannya, namun hanna tidak juga menyambut uluran tangannya.

Hanna masih diam terpaku di tempatnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Yang jelas untuk saat ini semuanya seakan-akan adalah permainan yang hampir mendekati dengan kata game over.

Risih dengan reaksi yang di tunjukkan oleh hanna, hyunseung menarik kembali tangan kanannya. "ciih, kau seperti baru pertama kali saja bertemu denganku". Hardik hyunseung.

"Benarkah kau hyun seung. Jang hyun seung". Ucap hanna kemudian dan mengulangi nama yang dia katakan.

"Kau pikir siapa lagi. Memangnya berapa orang lagi yang mempunyai nama jang hyunseung dengan wajah setampan aku ini".

"Bagaimana kau bisa ada di sini". Tanya hanna lagi, namun dia belum juga beranjak dari tempat duduknya.

"Yah apa begini caramu menerima tamu. Bahkan sejak tadi kau hanya berdiri di situ tanpa mempersilahkanku duduk". Setelah mengucapkan kata itu hyunseung kembali duduk di sofa berwarna merah tua yang terletak di tengah-tengah ruang tamu itu.

Sadar jika hanna masih belum beranjak dari tempat dia berdiri, akhirnya hanna duduk di sisi lain sofa itu tapi tetap menghadap ke arah hyunseung.

"Apa yang kau lakukan. Apa yang sebenarnya terjadi. Kemana saja kau selama ini pergi, kenapa tidak ada kabar sama sekali. Kau seperti hilang di telan bumi". Hanna membrondong pertanyaan untuk hyunseung.

Berbeda dengan hanna yang menunjukkan ekspresi tegang. Hyunseung tampak sangat tenang. "dimana mika bukankah pelayan tadi memberitahukanku jika mika ada". Tanya hyunseung tanpa memperdulikan pertanyaan dari hanna.

"Gila, ini semua benar-benar akan membuat semuanya kacau". Gerutu hanna dalam hati. "kau benar-benar gila jang hyun seung". Hanna berucap dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku". Tunjuk hyunseung pada dirinya sendiri. "apa maksudmu dengan aku gila". Tanya hyunseung balik.


"Sebaiknya sekarang kau pergi dari sini. Apa kau tahu jika kehadiranmu hanya akan membuat suasana dan keadaan semakin kacau. Tak tahu kah kau jika kepergianmu yang tiba-tiba itu sudah menimbulkan banyak sekali masalah". Pinta hanna kepada hyunseung.

Hyunseung menyipitkan matanya, tidak mengerti dengan apa yang barusan wanita itu ucapkan. "apa maksudmu sebenarnya hanna".

Hanna masih terdiam, dia bimbang dengan apa yang harus dia lakukan. Mengusir lelaki yang tengah duduk di hadapannya saat ini. Atau memberitahukan kepana hanna langsung. Tapi semua itu akan sangat beresiko. Di tengah kekalapannya nama jay bum terlintar dalam benaknya. "atau mungkin aku memberitahu bum oppa saja". Ucapnya dalam hati. Setelah mempertimbangkan semuanya akhirnya wanita itu membuka layar handphone yang sejak tadi berada di genggamannya.

"Oppa bisakah kau keruang tamu sebentar. Ada sedikit masalah. Tapi tolong jangan katakan apapun kepada yang lainnya".

Seperti itulah kata-kata yang dia kirimkan untuk jaybum.

Hyun my sedang bercelotek ria dalam gendongan jay bum. Mereka berjalan-jalan mengitari taman menyaksikan ikan-ikan yang terletak dalam kolam di taman itu. Tiba-tiba sakunya bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk. Dengan tangan kanannya yang mengganggur di rogohnya saku tersebut dan mengambil barang flat tersebut. Dahinya nampak mengernyit membaca pesan singkat yang telah di kirimkan oleh hanna. Tampa membuang waktu lebih lama lagi jay bum meninggalkan kolam itu berjalan mendekati tempat keluarga han berkumpul. Di berikannya hyun mi ke pangkuan mika. "aku akan masuk sebentar". Ucapnya kemudian dan meninggalkan tempat itu tanpa berkata apapun lagi. Entah apa yang dia rasakan namun jay bum seperti merasa ada yang mengganjil di hatinya semenjak menerima pesan dari hanna tadi. Cepat-cepat dia menepis segala macam pikiran yang berkelebat di otaknya. Dia terus menarik nafas panjang untuk menetralkan adrenalinnya.

Langkahnya sebentar lagi mendekati ruang tamu, dan entah datangnya dari mana hati jay bum semakin berdebar-debar. Mata laki-laki itu seketika melotot melihat pemandangan di hadapannya. Sekarang hyun seung tengah duduk tepat beberapa meter dari jay bum berdiri. Dia mengepalkan kedua genggaman tangannya, nampak sekali jika jay bum memendang segala amarah yang siap meledak begitu saja. Mati-matian dia meredam segala amarahnya namun ternyata semua tidak seperti keinginannya.

Dengan cepat dia berlari ke arah hyun seung mengepalkan genggaman tangan kanannya erat-erat. Setibanya di hadapan hyunseung di tariknya kerah kemeja itu sehingga membuat hyunseung berdiri karena tarikan yang terlalu kuat dari jay bum. Tanpa berkata apa-apa sebuah tinjuan mendarat di pipi kiri hyun seung, lagi dan lagi sehingga hyun seung tidak sempat melontarkan pertanyaan kenapa bum melakukan semuanya kepada dirinya.

Nafas jay bum tersengal-sengal memburu oksigen semampu yang dia dapatkan. Matanya memerah, lagi dia menarik kerak hyun seung dan meninju pipik kanannya karena jay bum sudah merasakan nyeri di punggung tangan kanan.

"Kau benar-benar brengsek, bagaimana mungkin kau masih bisa menunjukkan batang hidungmu disini setelah apa yang kau lakukan hah". Lagi jay bum memberikan pukulannya.

Merasakan sakit di pipi kanan dan kirinya serta daerah bibir, hyunseung tidak mampu mengucapkan kata-kata apapun juga. Hyunseung menarik tangan tangan kiri jay bum yang hendak memberinya pukulan lagi. "maaf hyung atas kelancanganku, tapi ada apa ini kenapa kau memukulku begitu saja". Hyunseung memelas di hadapan jay bum.

"Apa kau tidak sadar juga hah, kau itu benar-benar lelaki brengsek, kau telah menghancurkan mika, kau membuat mika ha...". Seketika ucapan jay bum terputus karena mendengar suara gelas yang terjatuh begitu keras.

"Prangg".

Dan semuanya mematung, melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mika tampak terkejut dengan apa yang terlihat di hadapannya. Dia tidak bisa mengatakan apapun, mulutnya mengangan. Nampak yang sejak tadi dipegangnya ikut terjatuh dengan gelas-gelas tadi. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, hyunseung lelaki itu berada tepat di depannya. Dengan keadaan yang sangat kacau karena telah di pukuli oleh kakaknya sendiri. Mulutnya masih menganga lebar, dan detik itu pula dia membungkam mulut dengan tangannya sendiri. Karena dia masih belum percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Dan tiba-tiba tubuh mika ambruk. Dia merakan sesak di dadanya perlahan namun pasti air matanya mengalir di antara sela-sela mata dan jatuh begitu saja tana bisa dia kendalikan. Wanita itu masih menatap lurus ke arah hyunseung yang sekarang masih berada di hadapan jay bum. Wanita itu menangis tanpa suara, tubuhnya dingin membeku, nafasnya memburu, dadanya terasa sesak. Dia sudah tidak bisa merasakan apapun juga.

"Mika, apa kau tidak apa-apa". Tanya hanna menghampiri mika. Hanna memegang kedua bahu mika. Wanita itu menatap hanna dan menggelengkan kepalanya, dan air mata masih mengalir di pipinya.

Hanna prihatin melihat keadaan mika. Dari arah lain dari dalam. Muncul ayah dan ibu mika. "ada apa ini kenapa berisik sekali" tanya nyonya han. Dan saat itu juga dia tidak membutuhkan jawaban atas pertanyaannya setelah melihat keadaan mika dan hyunseung yang berada ditengah-tengah mereka. Semua masih terdiam tidak ada yang membuka percakapan. "kita bicarakan diruang tengah, bum panggil yongbae. Dan kau hanna ambil kotak obat dan obati luka hyunseung". Kata ayah mika pada akhirnya. Dan lelaki paruh baya itu berjalan terlebih dahulu meninggalkan ruang tamu menuju ruang tengah atau juga ruang keluarga.

Ibu mika menghampirinya, ditariknya agar mika berdiri. Tubuh wanita itu benar-benar seperti patung dan terasa dingin. Mika hanya mampu memandang ibunya dengan pandangan kosong,wajahnya memucat. "kita ke ruang tengah sekarang, tenanglah semua akan baik-baik saja". Nyonya han berusaha menenangkan mika dan mengelus wajahnya lembut penuh kasih sayang.

oOo
  
Suasana sepi langsung menghimpit ruang tengah itu. Yongbae yang baru tiba dari taman bersama dengan hyun mi langsung berjalan ke arahnya. "kau tidak apa-apa kenapa wajahmu pucat sekali". Yongbae bertanya dan langsung duduk di sebelahnya. Namun mika tidak mengindahkan sama sekali pertanyaan yongbae, yang ada di dalam benaknya sekarang ini hanyalah hyunseung yang duduk tak jauh dari hadapannya. Jay bum yang baru tiba bersama yongbae langsung mengambil posisi duduk di sebelah ayahnya. Sedangkan nyonya han tetap berada di samping mika menggenggam tangannya untuk sekedah menenangkannya.

Hanna yang sudah berada di sana sejak tadi langsung mengobati luka-luka di sekitar bibir hyunseung yang nampak berdarah. Sesekali hyunseung merintih dan menahan perih akibat luka tersebut. Dalam otak hyunseung masih berkelebat bermacam-macam pertanyaan. Dia sendiri bingung apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga ini. Kenapa tiba-tiba mendadak semua membencinya. Apalagi jay bum tanpa sebab yang jelas dia memukulinya habis-habisan, sebenarnya jika mau dia bisa membalasnya namun semua itu tidak dilakukan karena menghormati bum sebagai kakak mika. Dan siapa laki-laki yang yang menggendong seorang bayi perempuan duduk di sebelah mika. Sekiranya itulah yang terus mengganggu pikiran hyunseung. "kenapa dia sangat cemas dan sangat perhatian dengan mika". Tanyanya dalam hati.

Hyun seung tetap menatap mika walaupun dia sedang di obati oleh hanna, merasa di sedang di perhatikan dia menoleh ke sebelah kiri mika. Yah dialah orang yang sejak tadi menatapnya penuh tanda tanya. Tak mau kalah dengan tatapan itu, hyunseung juga menatap yongbae dengan tatapan dinginnya. Seolah mengerti apa yang di pikirkan oleh hyunseung, yongbae mengalihkan pandangannya kepada hyun mi. Entah kenapa sejak tadi hyun mi tidak mau diam, dia selalu saja ingin menangis dan meronta-ronta dalam dekapan yongbae.

Melihat yongbae mengalihkan pandangannya kepada bayi kecil dalam pangkuannya. Hyunseung menatap bayi perempuan itu, lama dan intens. "deg, perasaan apa ini, kenapa semua mendadak sesak. Bayi itu kenapa membuatku merinding". Tanyanya dalam hati lagi. Hyunseung memalingkan wajahnya dari hyun mi ke arah yongbae. Dia terus menatap dan mengingat-ingat siapa lelaki itu. "bukankah dia teman jay bum hyung, seorang dokter". Katanya dalam hati.

"Sudah selesai". Hanna menghentikan kegiatannya mengobati hyunseung setelah menempelkan plester transparan di sudut bibir hyunsung yang terluka. 


Setelah hanna  selesai mengobati hyun seung, suasana cangguh semakin tercipta di antara mereka. Laki-laki itu bahkan tidak mengucapkan apa-apa kepada hanna. Sesekali Nampak tuan han mendesah dan menghembuskan napasnya pelan. Sedangkan mika yang menjadi objek kali ini hanya mampu menunduk, dia tidak sanggup walau hanya sekedar mengangkat kepalanya. Wajahnya masih pucat pasi, banyak sekali yang dipikirkan wanita itu namun sekali lagi tidak ada yang bias dia lakukan.

“Mika, sebenarnya apa yang terjadi”. Tanya yong bae kemudian.

Wanita itu masih diam tidak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan yong bae.
“Sebaiknya kau pergi dari sini, bukankah lukamu sudah selesai di obati. Aku sangat muak melihat wajahmu”. Cecar jay bum.

“Sebaiknya kau diam dulu bum, biarkan semua kita selesaikan di sini”. Timpal ayah mika.

“Maaf ayah siapa dia, Kenapa semua membicarakan laki-laki itu”. Mendengar pertanyaan yong bae semua hanya bisa menutup mulut mereka rapat-rapat. Di sisi lain terdengar desahan napas ibu mika. “Dia hyunseung, Yong bae”. Setelah kata-kata yang keluar dari mulur perempuan paruh baya itu, kembali suasana sunyi bahkan lebih sunyi lagi dari pada sebelumnya. Yong bae terdiam, namun  matanya tak beranjak sedikitpun dari wajah hyun seung, dia bergantian menatap hyun seung dan mika yang sejak tadi menundukkan kepalanya bahkan terlihat dengan jelas di matanya bila sejak tadi pula air mata mengalir di pipinya.

Tatapan itu, tatapan mata hyun seung mengisyaratkan bahwa dia meminta penjelasan atas semuanya namun semua masih saja bungkam.
“Tidak adakah yang bisa menjelaskan semuanya disini, atau aku harus membawa mika keluar dari ruangan ini”. Pinta hyun seung akhirnya.

“Seungie sebaiknya kau lupakan mika, dan meneruskan hidupmu”. Ucap ayah mika.
Hyun seung mendelik tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh tuan han. Apa maksudnya, kenapa dia harus melupakan mika. Bukankah mereka semua juga sudah tahu jika dia dan mika sama-sama saling mencintai dan sekarang dia di perintahkan untuk melupakan mika. “itu mustahil”. Jawab hyun seung”.

“Kenapa mustahil tidak ada yang mustahil untukmu”. Timpal jay bum. “Dan yang harus kau ketahui dan ingat selamanya adalah bahwa sekarang mika sudah menikah dengan dokter yong bae. Dan kau lihat itu bayi perempuan di pangkuannya yang sejak tadi rewel. Itu adalah anak mika. Anak han mika”. Jay bum lebih menekankan kalimat terakhirnya dengan tatapan benci kea rah hyun seung. Sama sekali tidak ada tatapan persahabatan dari wajah itu.

Hyun seung tersentak kaget mendengar penjelasan dari jay bum. Bagimana mungkin mika sudah menikah dan mempunyai seorang bayi. Hyun seung menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Tidak mungkin, Kau pasti berbohongkan hyung”. Balas hyun seung menatap jay bum, menuntut penjelasan.

“Cieh. Kau yakin sekali jika aku berbohong, kau bisa menanyakan langsung kepada orang tuaku atau kepada mika secara langsung. Bukankah sekarang dia ada di antara kami”.

Seketika itu pula hyun seung memalingkan pandangannya kea rah mika. Di litany mika yang sejak tadi masih menundukkan kepalanya. Kedua tangannya menggenggam erat ujung bajunya, dan dia Nampak bergetar hebat. Hyun seung masih menatap mika. “Mika apa benar semua yang dikatakana oleh jay bum hyung tadi”. Mika masih dia tidak menjawab pertanyaan hyun seung.

“Jawab pertanyaanku han mika”. Hyun seung mulai menaikkan intonasi suaranya agar mika menjawab pertanyaan darinya. Laki-laki itu mulai geram melihat mika yang tidak menunjukkan reaksi apapun juga.
“Han mika”. Teriak hyun seung kemudian. Dan mendengar teriakan hyun seung semuanya terlonjak kaget tidak mengira jika lelaki itu sedemian marahnya, namun tetap saja dia tidak pantas untuk melakukan semua itu.

“Kau pikir kau itu siapa hah, dasar brengsek”. Jay bum berdiri hendak menuju kea rah hyun seung lagi namun dengan cepat di tahannya dia oleh ayah mika.

“Kami memang sudah menikah dan dia adalah hyun mi anak kami”. Yong bae menghentikan ketegangan di antara mereka semua dengan mengakui jika memang dia dan mika sudah menikah. Namun berbeda dengan hyun mi sekarang bayi kecil itu mulai tidak tenang dia, dia mulai menangis dan meronta-ronta di pangkuan yong bae. Dengan cepat pula yong bae menenangkannya, namun seakan hyun mi mengerti dengan situasi yang tengah terjadi di ruangan itu sama sekali dia tidak mau diam dan menangis semakin keras. “Ada apa denganmu hyun mi, daddy mohon tenanglah, mommy tidak mungkin menenangkanmu dengan keadaannya yang seperti ini”. Ucapnya dalam hati.

Melihat cucunya rewel nyonya han tidak tahan juga “Bibi Seo” teriak wanita itu. Tidak beberapa lama kemudian pelayan yang di sebut dengan bibi seo itu muncul. “Tolong bawa hyun mi kedalam dan tidurkan dia”. Perintah nyonya han. Dan pelayan itu menuruti semua perintah majikannya. Diambilnya hyun mi dari pangkuan yong bae.

“Mika katakana sesuatu kepadaku, jangan hanya diam dan menunduk”. Hyu seung mengulangi pertanyaannya.

Sementara mika masih diam seribu bahasa yong bae mencoba meyakinkan hyun seung juika mereka memang sudah benar-benar menikah. “Kami sudah menikah dan mika sekarang dalah istriku hyun seung”.
“Aku tidak butuh penjelasan darimu”. Hyun seung menatap yong bae tajam, seakan-akan dia sama sekali tidak butuk jawaban dari laki-laki itu.

“Maafkan aku oppa”. Jawab mika akhirnya dengan masih menunduk.

“Angkat kepalamu”. Mika mengangkat kepalanya setelah mendengar pewrintah dari hyun seung, namun wanita itu hanya sekedar mengangkat kepala saja dia tidak menatap kea rah hyun seung dan itu membuatnya semakin geram. Hyun seung terus menatap mika intens dan lama. Matanya Nampak memerah karena menahan amarah rahangnya mengatup keras. Merasa di intimidasi oleh hyun seung akhirnya mika memberanikan diri menatap hyun seung. Tatapan mata mereka bertemu ada getir kesedihan dari setiap tatapan mata mika dan lagi-lagi air matanya tak lagi bisa di bending mengalir begitu saja. Lama mereka berpandangan seolah dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua. Ada perasaan bahagian di dalam lubuk hati mika setelah bisa melihat wajah lelaki itu, wajah lelaki yang selama ini sangat sulit untuk di hapusnya dalam ingatannya. Namun di sisi hatinya yang lain terdapat luka yang menganga yang tak seorangpun bisa mengobati. Dia takut akan hari esok, takut menerima keadaan jika semua akan tidak baik-baik saja ketika hyun seung kembali. Takut jika hatinya akan goyah kembali. Takut jika nanti dia akan jatuh kepada hyun seung untuk yang kedua kalinya.

“Maafkan aku oppa, aku memang sudah menikah dengan yong bae oppa”. Ulang mika.

Lelaki itu mematung mendengar penjelasan secara langsung dari mika. Dia merasakan sakit yang amat sangat di dalam hatinya. Tiba-tiba saja dia merasakan sesak dan sulit untuk bernapas. Dia menggelngkan kepala, mengusap seluruh wajahnya tidak peduli jika saat ini wajahnya tengah terluka karena hatinya jauh terluka dan lebih sakit dari apa yang dia rasakan dari pukulan tadi.

Semua terdiam menunggu reaksi dari hyun seung, namun seakan dia mendapatkan petaka yang sangat besar. Hyun seung sama sekali tidak mengeluarkan suaranya dan tak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya.

“Maafkan aku, tolong maafkan aku oppa”. Ulang mika menekannkan permohonan maafnya, kini dia terisak menahan tangis yang sejak tadi bisa dia kendalikan. Tangannya membekap mulutnya kembali mencoba untuk meredam tangisnya sendiri. Yongbae yang melihat keadaan mika semakin tidak baik, hanya mampun mendekapnya kedalam rengkuhan pelukan mencoba untuk menenangkan mika.
Melihat apa yang terjadi diantara mika dan yong bae semakin membuat hyun seung geram dan menaikkan emosinya pada level tertinggi.

“Buat apa akau minta maaf mika, tidak seharusnya kau meminta maaf kepada laki-laki ini. Bahkana dialah yang seharusnya meminta maaf padanya”. Sentak jay bum.

Hyun seung sudah tidak tahan dengan semua ini. Dia beranjak dari duduknya, berdiri dan meninggalkan ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mika yang melihat kepergian hyun seung masih diam dia bimbang antara mengejarnya atau membiarkannya. Laki-laki itu sudah tak terlihat lagi dari pandangan mata semua orang namun mika tiba-tiba berdiri dan berlari mengejar hyun seung. “Oppa, Tunggu. Oppa”. Teriaknya agar hyun seung mendengar dan berhenti untuk menunggunya.

“Mika mau kemana kau”. Cegah jay bum. Namun seakan dia tidak mendengar teriakan kakaknya, dia terus berlari mengejar hyun seung. “Han mika berhenti”. Teriaknya sekali lagi. Namun mika tetap berlari tidak mengindahkan perintah kakaknya.

“Mika, jangan kejar dia”. Akhirnya jay bum bisa mencekal sebelah tangan kiri mika, dia menarik tangan mika agar wanita itu tidak terus berlari. “Lepaskan oppa, aku mohon”. Mika memelas di hadapan kakaknya.

“Aku bilang berhenti”. Teriak jay bum, namun mika tetap saja meronta-ronta agar terlepas dari genggaman kakaknya yag terasa kuat di pergelangan tangan kirinya. Wanita it uterus berteriak meminta untuk di lepaskan dan menangis.

“Han mika. Plakk!!”. Mika berhenti untuk melawan jay bum setelah lelaki itu menamparnya cukup keras. Tubuh mika ambruk, dia sudah tidak sanggup menopang beban tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat karena tangisnya. Dia meraung-raung menangis semakin keras. Beban yang selama ini di pikulnya semakin bertambah semenjak kehadiran hyun seung kembali. Dia sudah tidak tahan dengan semuanya. Melihat mika yang semakin kalut. Jay bum menarik mika ke dalam pelukannya, dai tidak tahan jika harus menyaksikan penderitaan mika selama ini.

“Lupakan dia, ada yang jauh lebih baik dari pada dia. Kau pantas untuk bahagian mika”. Ucap jay bum berusaha untuk menenangkan dan menyakinkan mika.

“Hyun seung, dia kembali oppa. Dia kembali untukku”. Mika berucap di sela-sela tangisnya. Bibirnya tak henti-hentinya menguvcapkan nama lelaki itu “hyun seung”. Jay bum mengeratkan pelukannya untuk m ika. Dia mengsat puncak kepala mika lembut. “Lupakan, lupakan dia. Dia tidak panatas untukmu”. Ulang jay bum.

Mika menggeleng, dia sangat yakin jika hyun seung kembali untuk dirinya. Dan mengetahui kenyataan itu hatinya semakin terasa perih sesak sekali di dadanya. Dia tak berhenti menangis. Sekali lagi dia meronta dari pelukan jay bum. “Aku harus mengejarnya oppa”. Namun secepat rontaan mika, secepat kilat juga jay bum mengunci tubuh wanita itu dalam pelukannya agar dia dtidak bisa kemana-mana lagi. Membiarkan mika meluapkan segala emosi dan tangis yang dia yakini selama ini mika pendam.

Menyaksikan kejadian yng sangat mengaharukan di hadapannya, ibu mika tidak bisa menahan tangisnya. Wanita paaruh baya itu juga menangis harus menyaksiskan penderitaan yang harus di alami anaknya. Tuan han yang mengerti dengan keadaan ini mencoba menenangkan istrinya dengan merangkul bahunya. Sedangkan yongbae, dia hanya bisa berdiri mematung di ujung pintu ruang tengah itu. Tidak pasti apa yang terlintas dalam pikirannya karena dia hanya diam sejak tadi menyaksikan segalanya dari mata nya sendiri. Dia tidak sanggup atau mungkin lebih tepatnya tidak tahu apa yang harus di perbuat.

Setelah sekian lama tangis mika meredam, namun itu belum menghentikannya menangis. Tubuhnya masih berguncang. “Yong bae, bawa mika kekamar”. Mendengar perintah jay bum, yong bae berjalan mendekat. Dia berjongkok untuk meraaih tubuh mika. Dibantunya mika agar berdiri. Wanita itu hanya menurut semua yang dilakukan oleh yong bae. Mika sudah tidak mempunyai kekuatan untuk berdiri bahkan untuk bertahan, melihat itu yongbae mengangkatnya dan menggendong agar membuat wanita itu semakin nyaman dan tidak perlu susah-susah untuk berjalan.

Setibanya di kamar, direbahkannya mika did atas tempat tidur. Yongbae menarik selimut dan menyelimutkan ke atas tubuh mika agar dai merasa lebih hangat. Di usapnya air mata yang terus mengalir di kedua mata mika. Dia membelai wajah mika lembut. “Istirahatlah, aku akan menjagamu disini”. Setelah mengucapkan kalimat itu yongbae mengecup kening mika lembut dan lama mencurahkan segala kassih sayangnya kepada mika agar wanita itu merasa lebih terlindungi.

Yongbae masih duduk di tepian tempat tidur mereka mencoba menenangkannya dengan segala tindakan bukan ucapan. Karena mika belum juga meredakan taangissnya, yang bisa dia lakukan hanya sekedar menggenggam sebelah tangan mika dan menepuk-nepuk bahu mika. Dia menatap mika iba namun juga syarat dengan kesedihan di setiap tatapannya. Betapa dia sangat mencintai wanita yang berada di hadapannya ini, namun dia tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan untuk mika.

oOo

TBC

Kamis, 06 September 2012

(Fanfiction) My Birthday Part 2 End





Author : @deebee_vip

Cast : Jang hyun seung, Han mika


Genre : Romantic


Aku memejamkan mataku cukup lama. Aku mengintip Mika dari ekor mataku yang sedang tertidur dipangkuanku saat ini. Wajahnya tetap tersenyum meskipun matanya terpejam. Tangannya menggenggam tanganku erat. Aku merasakan rasa itu kembali dalam hatiku setelah selama 2 minggu lebih aq merasakan hatiku betapa kosongnya. Yah hanya saat Mika berada didekatkulah, aku bisa merasakan bahwa mika sangat berarti untukku. Aku tidak akan membiarkan dia pergi dariku. Walaupun saat dia tidak berada di sisiku maka ruang dalam sisi hatiku akan terasa kosong.

Aku Merasakan setiap kebersamaan kami sangatlah berharga, tidak ada yang lebih berharga dari pada kehadirannya dalam hidupku. Karena itulah aku mencoba bertahan meskipun terkadang aku merasakan dia juga cukup mengganggu hidupku. Sekian lama aku merasakan kesendirian karena jauh dari orang tua. Dan karena kehadiran Mikalah hidupku jauh lebih berwarna lagi. Aku sangat berterima kasih padanya, walaupun begitu, Aku tetap merasa sepi. Aku merindukan mereka. Sekali lagi aku menghembuskan nafas beratku. Betapa aku ingin papa dan mama segera untuk kembali ke korea.

            oOo

Mika Pov

Pagi ini seperti biasanya, aku bangun cukup pagi. Hari ini adalah hari terakhir kami untuk liburan sekolah. Rencananya Kami akan jalan-jalan di taman biasanya yang sering kami kunjungi. Hyunseung menyarankan untuk membawa bekal makan siang dan dia meminta untuk aku memasak sendiri. Hufft Padahal dia tahu aku tidak bisa masak, Menyebalkan sekali. Karena itulah sekarang aku ada disisni, didapur dengan di bantu ibu untuk menyiapkan bekal tersebut. Ibu sesekali tersenyum kearahku karena melihat perubahan yang aku alami. Aku hanya bisa membalas senyuman ibu dengan wajah memerah. Ah jika saha Bum oppa tahu perubahanku pasti dia akan menertawakanku habis-habisan "ih menyebalkan", gerutuku dalam hati.

Sekarang bekal itu sudah selesai aku siapakan, aku tersenyum dalam hati melihat satu ranjang bekal yang terletak di atas meja. Sesekali aku menoleh pada arloji yanng aku pakai di lengan kananku. Sudah 15 memit dari jam yang dia janjikan untuk menjemputku. Tapi sampai sekarang dia belum juga menunjukkan batang hidungnya. "Hufft, selalu saja begini. Terlambat datang, sampai kapan dia akan menjadi seorang yang bisa tepat waktu". Tiba-tiba handphone ku bergetar, dengan perasaan senang dan senyum yang terlukis di bibirku aku membuka pesan yang ada di handphone tersebut.

"Aku di depan sekarang cepatlah keluar"

Itulah pesan yang tertera dalam layar handphoneku. "Ibu aku berangkat dulu. Oppa sudah menungguku di depan". Aku berpamitan dengan ibu tetap dengan senyum yang masih mengembangn di bibirku.

"Hati-hati, dan jangan pulang terlalu malam". Sekiranya itulah yang aku dengar dari ibu saat aku berjalan menjauh darinya.

oOo

"Hari ini kita akan pergi kemana". Tanyaku setelah duduk di dalam mobil yang di bawanya. Sejenak aku menoleh ke arahnya untuk mendengar jawaban.

"Sungai han. Kita sudah lama bukan tidak pergi ke tempat itu. Aku ingin menghabiskan hari ini denganmu disana. Bagaimana?". Jawabnya menoleh padaku juga. Dan tetap sama seperti kencan-kencan kami sebelumnya tidak ada senyum yang terlukis di wajahnya. Terkadang aku berfikir apa benar laki-laki ini mencintaiku edngan sungguh-sungguh, Karena jarang sekali aku melihatnya tersenyum saat berdua denganku. Dan terkadang wajah dinginnyalah yang selalu aku temui sepanjang hari saat kencan. Yah memang mungkin aku harus sedikit bersabar dengan segala macam bentuk keanehan yang ada pada dirinya itu. Namun terkadang aku juga mengiunginkan dia untuk dapat tersenyum padaku sepanjang waktu yang kami lalui bersama. Tapi anehnya saat kami8 berada di tengah-tengah teman yang sedanng berkumpul, Dia sangat banyak menunjukkan senyumnya itu. Sebenarnya Jati diri seperti apa yangn ada pada seorang Jang hyun seung bahkan sampai sekarang aku belum sepernuhnya mengerti tentang dia.

Hyun seung keluar dari mobil audi berwarna putih itu. Sejenak dia menghirup udara yang bebas untuk merasakan betapa indahnya pagi yang akan dia lewati. Dia tersadar dari lamunan sejenaknya, kemudia dia berputar ke arah sampang kemudi mobilnya, membukakan pintu itu dan mika keluar dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Hyun seung hanya menatap mika dari atap sampai bawah, Heran karena diperhatikan intens oleh hyun seung seketika mika berpaling untuk tidak menatapnya, dan kembali masuk kedalam mobil untuk mengambil bekal yang telah dia siapkan sebelumnya.

"Sini, biar aku yang bawa".  Hyun seung menarik keranjang makanan yang ada di tangan mika, membawanya dan berjalan terlebih dahulu tanpa mengatakan apapun lagi. Mengerti dengan tingkah hyun seung yang tidak akan pernah bicara untuk mengajaknya berjalan seiringan bahkan menggandeng tangan mika pun tidak. Sejenak mika menghembuskan napas pelan karena itu, dan berjalan mengikuti lelaki itu di belakang tidak jauh hanya terpaut jarak 1 meter.

Setelah mereka berjalan cukup jauh dan menemukan tempat yang cocok untuk duduk, Hyun seungpun berhenti. "Disini lebih baik, Duduklah". Perintahnya kepada mika.

"Aishh, kau selalu saja seperti itu". Mika duduk di sebelah hyunseung dengan wajah di tekuk. "Apa kau akan selalu saja seperti ini. Tidak mau menggandeng tanganku saat berjalan. Bahkan jika aku tidak mengikutimu berjalan dengan cepat, mungkin kau akan meninggalkanku.". gerutu mika.

"Kenapa aku harus melakukan itu!!!. Bukankah memang kita selama ini selalu seperti itu, ada apa kau memintaku untuk menggandeng tanganmu.". Jawab hyunseung dingin.

Mika hanya melirik hyunseung sekilah dan menghembuskan napas berat. "Bukan apa-apa, Lupakan saja". Jawab mika akhirnya.

Waktu bejalan dengan sangat cepat bagi mereka, menghabiskan hari dengan hanya berdua di tepi sungai han. Keduanya hanya saling melempar senyum masing-masing walaupun mika sering merasa kesal karena hyunsung sangat pelit untuk tersenyum. Namun di balik wajah dingin hyunseung, Dia sama sekali tidak melepaskan tatapannya dari wajah mika. Dan saat mika menyadari bahwa hyunseung selalu saja memperhatikannya, sontak dia akan menoleh untuk menghindari tatapan tajam hyunseung.

Hari menjelang sore. Hyunseung memutuskan untuk mengajak mika pulang. Setelah sampai di kediaman mika, dia tidak langsung pulang. Lelaki itu terlebih dahulu menemui kedua orang tua mika. Walau hanya untuk sekedar basa-basi. Namun itu penting untuk hyun seung karena semua itu adalah bentuk sopan santun yang harus dia lakukan.Mereka Berempat asyik bercanda dan saling menceritakan kisah masing-masing di ruang tamu rumah keluarga mika. Memang lebih banyak Ibu mika yang menceritakan kisah masa kecil mika, Atau Ayah Mika yang menceritakan kisah hubungannya dengan ibu mika sebelum menikah. Dan setelah di rasa cukup untuk hyunseung, selain itu memang sudah waktunya pulang. Dai berpamitan untuk pulang.

oOo

Setelah sekian lama aku merenungi apa yang sebenarnya terjadi dalam
hubungan ini. Aku cukup mengerti dan paham jika, tanpa adanya dia maka
hariku akan semakin sepi. Setiap malam wajahnya selalu saja terbayang
dalam benakku,sulit sekali untuk menghapusnya. Senyuman itu masih
teringat dengan jelas. Bagaimana ekspresi wajahnya ketika tertawa,
tersenyum, marah, bahkan menangis sekalipun. Sekali lagi aku
memikirkannya, memikirkan gadis itu. Han mika kenapa kau begitu
menjadi candu dalam hidupku, kau selalu kubutuhkan setiap saat.
Walaupun sekarang memang ku akui merasa bosan denganmu. Tapi fakta
lain yang benar-benar baru ku sadari sekarang adalah aku tidak bisa
lepas darimu.



Aku pandangi sekali lagi sebuah bingkai yang terletak di meja dekat
tempat tidurku. Ku raih bingkai tersebut, lama kupandangi gambar yang
ada di dalam bingkai itu. Poto saat anivesary pertama kami. Mika
nampak tersenyum ke arahku, dan aku hanya mampu memandang kearah
kamera. Saat-saat seperti inilah yang selalu aku rindukan bila bersama
dengannya. Dia tidak akan pernah berhenti tersenyum sekalipun aku
hanya diam di sampingnya. Betapa aku sangat mencintai gadis ini.
Sekali lagi pandanganku tertuju pada bingkai tersebut. Banyak sekali
pikiran yang berterbangan dalam otakku. "Aku sunggu merindukanmu Han
Mika", gumanku pelan.

Kuraih handphone yang tergelatak sejak tadi di samping bantal tempatku
berbarin. Cukup lama aku memandangi barang tersebut. Sampai
sekarangpun aku masih berfikir apa perlu menghubunginya. Aku hanya
mampu mendesah pelan mengingat semuanya. Jika dalam 1 bulan terakhir
ini hubunganku dengannya tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

Aku masih mempertimbangkan apa yang sebaiknya dilakukan. Handphone itu
tetap setia dalam genggamanku, aku masih ragu harus mengiriminya pesan
atau harus menelfonnya. Ku edarkan pandanganku ke seisi kamar ini,
masih sama. Namun aku merasakan kosong dalam hatiku. Lagi ku pandangi
langit-langit kamarku. Huft rasanya lelah sangat lelah. "mungkin
sebaiknya memang aku mengirimkan pesan untuknya".

"Apa yang kau lakukan".

"Tidak ada, hanya membaca buku. Ada apa?"

"Tidak, hanya ingin tahu apa yang sedang kau lakukan saja".

"Tumben!!!"

"Kenapa, bukannya kau juga sedang menunggu pesan dariku!!"

"aihs...apa yang kau katakan, selalu saja membual. Apa hanya itu yang
bisa kau katakan".

"Aku akan keluar dengan dongwoon. Jangan membaca sampai larut. Sampai
ketemu besok. Love you"

"ya. Love you too"

Mika Pov

Semua berjalan sesuai dengan keinginanku. Tapi ada yang lain di dirinya. entahlah aku tidak tahu pasti itu apa. Hanya saja aku melihat ada yang berbeda dari dirinya. setiap aku bertanya apa ada sesuatu yang ingin dia katakan, maka dia hanya menjawab dengan tidak. Aku benar-benar bingung dan tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Dan setiap kali ku ajak dia untuk makan siang bersama saat istirahat maka hanya menunjukkan wajah lesu, dan itu semakin membuatku muak. Lama-lama aku merasa bosan dengan keadaan yang seperti ini terus.

Seperti Biasa Hari ini dia menjemputku untuk berangkat ke sekolah bersama-sama. Memang tidak menjemput di rumahku, dia hanya menungguku di Halte bus tenpat pemberhentian bus yang aku tumpangi. Dia hanya tersenyum tipis dan menghampiriku. Meminta tasku untuk dia bawakan. "Selamat pagi". Ucapku. "Selamat pagi". Dia hanya membalas singkat dengan masih senyum tipis di bibirnya. Setelah itu dia berjalan di depanku tanpa mengatakan apa-apa lagi. Sebenarnya apa yang ada didalam benakknya kenapa semakin hari sikapnya semakin aneh saja. aku menghembuskan napas beratku. Lama aku mengamatinya, nyaris tidak ada yang berubah dari segi fisiknya tapi yang aku rasa, jiwanya agak tergantikan dengan orang lain.

"Apa kau akan terus saja disitu, kita sudah hampir terlambat". dia berbalik dan memaksaku untuk sesegera ungkin mengikutinya dari belakang karena waktu memang sudah sangat siang. Aku sedikit berlari untuk mensejajarkan langkangku dengannya. "Apa kau sudah makan". Aku mencoba untuk membuka percakapan dengannya untuk membunuh waktu perjalanan ke sekolah kami yang memang memakan waktu 10 menit.

"Sudah". Jawabnya singkat tanpa menoleh kepadaku.

"Ada apa sih denganmu oppa!!! Kenapa akhir-akhir ini kau aneh sekali". Tanyaku dengan wajah cemberut.

Dia berhenti sejenak dan menoleh ke arahku. "Tidak apa-apa, aku hanya lelah saja. Memang ada apa".
Jawabnya lagi.

"Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa kau sangat aneh?".

"Nanti sehabis pulanng sekolah kau ada acara tidak". Dia bertanya dengan pandangan lurus ke depan.

"Tidak, memangnya kau mau mengajakku kemana nanti".  Jawabku ketus.

"Hanya jalan-jalan itu kalau kau mau".

"Cieh". Aku mencibir pelan. "Iya aku mau". Jawabku singkat.

"Baiklah aku tunggu nanti kau di depan kelas. Dan oh ya nanti istirahat aku tidak bisa menemanimu makan siang. Aku harus ke ruang musik. Kalau kau mau, kau bisa menemuiku disana"

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku hanya menganggukkan kepala sedikit sebagai jawabanku untuknya. Aku yakin dia melihat itu karena dia sempat menoleh ke arahku sejenak.

oOo

Sore itu banyak sekali siswa siswi yang keluar dari gerbang sebuah sekolah menengah. Mereka asyik berjalan dan saling bercerita tentang hari yang di lalui di sekolah hari ini. Di antara ratusan siswa yang keluar dari gerbang itu ada sepasang siswa yang berjalan beriringan namun tidak ada komunikasi diantara mereka. Laki-laki itu Hyunseung berjalan agak sedikit di depan mika.Meskipun hyunseung hanya diam saja namun terlihat sekali dia sangat bahagia. Berbeda dengan mika wajahnya menggambarkan berbagai pertanyaan  yang belum dia dapatkan samapai saat ini.

"Kita ke taman". Ajak hyunseung.

"Iya". Lagi mika menjawab dengan singkat.

Sore ini jam menunjukkan pukul 16.30. Untuk ukuran sebuah taman pada jam-jam ini memangn belum cukup ramai untuk pengunjung. Hyun seung nampak melihat-lihat sekelilingnya mencari sebuah bangku kosong yang bisa dia gunakan untuk beristirahat dengan mika atau hanya sekedar duduk-duduk saja.

"Kau duduklah di bangku itu aku akan mencari minuman dulu". Tunjuk hyunseung pada sebuah bangku yang terletak di paling ujung taman dekat ayunan taman itu.

Mika hanya mengangguk dan segera menuju ke bangku yang telah di tunjuk hyunseung tadi.

15 menit telah berlalu. Nampak hyunseung yang berjalan mendekat ke arah mika dengan dua kaleng minuman dingin di genggamannya.

"Minumlah dulu".

Mika meraih kaleng yang diberikan oleh hyunseung kepadanya.

Suasana hening menyelimuti mereka berdua. Tanpa satu katapun yang keluar dari mulut masing-masing untuk memulai pembicaraan. ssesekali terdengnar hun seung menghembuskan napas beratnya. Mika mulai bosa n dengnan situasi seperti ini. Bukankah tadi lelaki ini yang mengajakknya kesini, akan tetapi sampai sekarang mereka belum juga membicarakan satu hal pun.

Mika hendak beranjak dari duduknya, namun niat itu dia urungkan karena mendnegar suara hyun seung.

"Aku bosan". itulah yang lelaki itu ucapkan.

Sesaat setelah wanita itu duduk kembali diposisi semua, dia hanya diam mencerna apa yang berusan dikatakan oleh pacarnya tersebut. Cukup lama dia terdiam karena ucapan yang tiba-tiba dan langsung pada pokok bahasan itu.

"Jadi itu yang membuatmu berubah sikap akhir-akhir ini". Tanya mika menatap ke arah hyun seung.

Laki-laki itu masih diam membisu enggan menjawab pertanyaan mika. Seakan mulutnya terkunci rapat, dia belum juga menjawab.

"Katakan oppa.:. Tanya mika sekali lagi.

"Aku hanya merasa bosan dengan hubungan ini, Tapi tidak denganmu.". Hyunseung menjawab dan langsung menatap mika tepat di manik mata wanita tersebut.

"Hah... Bukankah itu sama saja. Bagi seorang laki-laki kata bosan adalah sama saja. Aku mengerti". Seketika itu juga mika menoleh membuang muka dari hadapan hyun seung.

"Jika kau tanya masihkah angan dan harapku ada padamu. Maka jawannya adalah iya. Lali jika kau tanyakan apakah aku masih mencintaimu. Untuk sekarang jawabannya iya". Hyunseung berbicara dan menarik lengan mika agar wanita itu maus ekali lagi menghadap ke arahnya.

"Aku tak mengerti, sama sekali tidak mengerti dengan yang kau katakan. Sesaat kau membuatku terhempas ke jurang namun detik itu juga kau akan membuatku terbang ke awan. Dan di waktu yag sama kau membuah hatiku berbungan-bungan, namun kau juga menorehkan luka di hati ini.". Jawab mik sarkartis.

"Bukankah kau bertanya apa yang sedang terjadi padaku. Dan itulah jawaban atas pertanyaanmu". lagi laki-laki itu menjawab dengan angkuhnya dan tetap menatap tetap di manik mata mika.

Untuk sejenak mereka hanya saling pandang. Hanya saling pandang, tidak ada kata-kata yang terucap.

"Baiklah, aku mengerti. Lalu apa maumu sekarang".

"Aku minta waktu sendiri. Paling tidak 1 minggu biarkan aku sendiri dahulu.". hyunseung menjawab pertanyaan mika dengan pandangan yang berpaling dan menatap ke arah langit.

Mika menghembuskan napas sejenak. "Baiklah, akan aku penuhi permohonanmu. Namun jangan salahkan aku jika selama 1 minggu itu maka perasaanku padamu sudah tak sama lagi". Jawab mika dan berdiri untuk meninggalkan hyun seung.

"Aku mohon bertahanlah. Ini buykan sebuah permintaan namun sebuah perintah" Hyun seung menarik lengan kiri mika yang saat itu dalam posisi berdiri.

Mika masih bungkam tidak menjawab. "Aku pulang dulu". Jawabnya kemudian dan berjalan ke arah yang berlawanan dari hyunsung berdiri. Wanita itu terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arah hyun seung.

"Apapun yang kau rsakan selama 1 minggu itu akan ku pastikan kau akan tetap berada di sisisku". Teriak hyunseung namun masih tidak di hiraukannya semua itu oleh mika.

oOo

Waktu 1 minggu berlalu sedemikian cepat namun bagi mika dan hyun seung waktu  1 minggu bagaikan 1 tahun. Selama 1 minggu itu pula tidak ada percakapan, makan siang, berangkat atau pulang sekolah bersama. Yang mereka lakukan hanya sekedar mengirimkan pesan singkat hanya suntuk menanyakan kaeadaan mereka masing-masing. Bahkan jika suatu ketika mereka bertemu di sekolah, mereka memilih untuk menghindar atau tidak saling menyapa. Dan itu sangat membuat Dongwoon sahabat dekat hyun seung kawatir dan cemas. Sesekali dongwoon bertanya apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua. Namun hyunh seung memilih untuk diam membisu tidak memberitahukan keadaan yang sebenarnya terjadi.

Tidak berbeda jauh dengan hyun seung wanita itu, Mika sama sekali tidak peduli dengannya. Sebenarnya dalam hati kecilnya, mika sangat mengkhawatirkan hyunseung. Namun egonya lebih mendominasi dari pada perasaannya. Mika kehilangan semangat belajarnya di sekolah namun semua itu masih bisa dia tutupi.

Mika POV

"Besok adalah hari ke 8 setelah kejadian itu". Mika berkata pelan. Aku mendesah lagi. entah ini sudah yang ke berapa kalinya aku sendiri tidak tahu. Ku amati sebuah kotak yang tergeletak di atas meja belajarku. Masih tetap ku amati kotak itu. Ingin sekali rasanya aku meraih kotak tersebut namun ada perasaan lain yang mengganjal di hatiku.

"Besok Hari ulang tahunnya. Dan sekarang sudah jam 10 malam. Apakah masih perlu nanti aku untuk menelponnya. haishhh rasanya tidak perlu, dia juga belum tentu masih terjaga jam segitu". Aku mengusap-ngusap wajahku kasar dan gusar. "Oh tuhan aku sudah tidak bisa berfikir lagi". gerutuku.

Akhirnya dengan perasaan setengah hati, ku hampiri kotak tersebut. Kutarik kursi yang ada di sebelah meja tersebut dan duduk di situ. Masih saja ku amatai kotak itu. Kotak dengan panjang 10cm dan lebar 8cm terbungkus dalam kertas kado berwarna biru motif kupu-kupu. Aku sendiri tidak tahu kenapa memilih motif kupu-kupu padahal diakan laki-laki. Ku letakkan kepalaku di atas meja. lalu kepala itu ku sangga dengan tanganku sendiri.

"Aku tidak peduli, besok au akan menemuinya". Kataku dalam hati.

oOo

Dan ternyata inilah akhir dari penantian jawaban yang selama ini Hyunseung cari. Meskipun lelaki itu merasa bosan dengan hubungannya dengan mika. Namun dia tidak sanggup untuk jauh dari wanita itu. Dia masih belum siap untuk merasa sendiri. Dia sadar bahwa memang mikalah napas dalam hidupnya. MIkalah darah yang mengalir dalam setiap pembuluh darahnya. Namun meskipun lelaki itu menyadari betapa pentingnya mika, sampai saat ini dia belum mau untuk menghubungi mika. Jawabannya cukup sederhana. Bahwa laki-laki itu malu untuk mengakui bahwa hidupnya tak berarti tanpa mika.

Dia masih berada di kamarnya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. sejam yang lalu ke dua orang tuanya memberikan ucapan selamat dan mengirimkan sebuah kado. Tidak tanggung-tanggung hadiah yang dia terima kali ini adalah mobil audi berwarna putih. Sebenarnya semua itu tidak perlu karena mobil yang ada saat ini saja masih jarang dia gunakan. Apalagi kedua orang tuanya sangat jarang berada di rumah. Namun hyun seung tidak bisa menolak karena mobil itu sejak pagi tadi sudah terparkir di halaman rumahnya sebelum dia berangkat ke sekolah.

Tiba-tiba handphone meneriakkan sebuah ringtone tanda ada panggilan masuk.

Hyun seung nampak terkejut melihat nama yang tertera dalam layar handphonenya, baru saja dia memikirkannya.

"Yah, hallo".

"Kau dimana oppa".

"Dirumah, ada apa".

"Bisakah kau keluar sebentar, aku ingin bertemu".

"Memangnya ada apa".

"Ada yang ingin aku sampaikan, jika kau sibuk aku akan menunggumu".

"Memangnya sekarang kau dimana".

"Ditaman dekat rumahmu".

"Baiklah tunggu sebentar, aku akan segera kesana".

"Baik aku tunggu".

"oya kau ke sana dengan siapa".

"Sendiri, tadi aku naik taksi".

"Baik aku akan membawa mobil. Tungg 10 menit lagi"




Hyun seung langsung mematikan hubungan telephone tersebut dan langsung berlari keluar kamar. dia menyambar kunci yang tergeletak di atas meja dekat ruang tamu. Tidak sampai 10 menit hyunseung sudah sampai di taman di dekat rumah yang mika maksud tadi. Dia menepikan mobilnya dan langsung membuka pintu mobil menutupnya dengan sangat tergesa-gesa. Dia langsung berlari mencari sosok mika. Bukan apa-apa ini sudah malam meskipun taman itu di terangi oleh lampu hyun seung harus menajamkan penglihatannya untuk mencari dimana keberadaan mika.

Setelah dia menemukan keberadaan mika, langsung saja hyunseung berlari ke arah tempat mika. Setelah jarak anatara dirinya dan mika mencapai kurang dari 10 meter. Hyunseung berhenti berlari dan mengatur napasnya yang naik-turun karena berlari dan hati yang berdebar-debar.

"Apa kau sudah lama menunggu". Tanyanya setelah sampau di tempat mika dan mengampil posisi di sebelah kanan mika. Duduk dan menatap wanita itu dengan intens. Ada sirat kerinduan dalam mata laki-laki itu namun sejak tadi ditahannya untuk tidak mengucapkan kalimat itu dan untuk tidak memeluh mika dalah rengkuhannya.

"Tidak". Jawab mika singkat dan menatap hyun seung sesaat.

"Ada apa" Tanya hyun seung.

Mika tidak menjawab pertanyaan itu. dia membuka tas yang di bawanya dan mengambil sesuatu didalam tas tersebut. Sebuah kotak kecil kini telah berada di tangannya. Sesat mika memandang hyun seung dan tersenyum. "Selamat ulang tahun oppa, maaf telat mengucapkannya dan baru bisa memberikan ini sekarang.". Kotak tersebut dia serahkan kepada hyun seung. Karena lelaki itu tidak merespon di tariknya tangan kiri dan diletakkan kotak tersebut di genggaman tangan hyun seung.

Mika  tersentak kaget setelah secara tiba-tiba hyun seung menariknya dalam dekapannya. Wanita itu tidak bisa berkata apa-apa karena kejadian itu terjadi dengan tiba-tiba. "Aku merindukanmu, sangat merindukanmu Han mika". Kata hyun seung lirih dan memejamkan mata menikmati aroma tubuh mika dalam dekapannya.

Mika berusaha untuk melepaskan pelukan itu namun hyun seung semakin erat memelukknya. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah diam menunggu lelaki itu yang melepaskan pelukannya.

"Aku merindukanmu sangat Mika". Ulang hyun seung mengucapkan kata yang telah keluar dari mulutnya tadi.

"Aku tahu". Jawab mika dan melepaskan hyun seung kali ini dia tidak menahannya. Mereka berdua berhadapan dan bertatapan sejenak.

"Lalu". Tanya hyun seung menyipitkan matanya.

"Bukankah kau sendiri yang meminta wantu untuk menyendiri dan kau sendiri pula yang mengatakan bila bosan dengan hubungan ini. Jadi walaupun aku tahu kau sangat merindukankku..". Mika menggantung kalimatnya dan mengangkat kedua bahunya.." Aku tidak tahu, jadi yang kulakukan adalah menuruti permintaanmu dan membiarkan waktu yang menjawabnya".

"Jadi kau menyalahkanku sekarang".

"Aku tidak menyalahkanmu, bukankah memang ini semua maumu lalu kenapa kau keberatan".

"Aku tidak akan mengatakan panjang kali lebar yang bisa aku katakan saat ini adalah aku merindukanmu bahkan sangat merindukanmu. Selain itu aku sangat mencintaimu, dan tidak akan membiarkan kau pergi dari sisiku". Jawab hyun seung dan menarik mika lagi kedalam pelukannya.

"Ciehhh, Kau egois sekali Tuan jang berbuat sesuka hatimu bahkan kau tidak bertanya apa yang ku rasakan selama ini atas semua sikapmu." Jawab mika ketus.

"Aku tahu apa yang kau rasakan dan aku juga tahu apa yang kau pikirkan jadi aku tidak perlu lagi bertanya padamu". Hyun seung melepas pelukannya dan menatap mika lagi tepat ke dalam manik mata mika. Perlahan namun pasti hyun seung mnggerakkan kepalanya ke arah mika. Dan saat ini hangat napas hyun seung sangat jelas bisa dia rasakan. tidak kurang dari 5 detik bibir manis itu sudah menempel di bibir mika. cukup singkat kecupan itu.

"Liat bahkan kau tidak menolah untuk ku cium berarti jawaban yang selama ini kupikirkan sama dan benar". Hyun seung terseyum dan mengedipkan satu matanya.

"Yahhh, Kenapa kau senang sekali mengerjaiku". Mika menjitak kepala hyun seung yang bisa di raihnya.

"Karena kau sangat manis saat marah seperti ini". Jawab hyun seung dengan tawa yang meledah.

Di malam itu, di sebuah taman di saksikan oleh gelapnya malam mika dan Hyun seung kembali menemukan setengah hati yang selama ini mereka ragukan.

------------------------------Fin--------------------------------

Minggu, 02 September 2012

Lyric - Lirik Hyun Seung ft Kikwang Let It Snow With English+Indonesia Translation




Romanized


I’m let it snow, I’m let it snow
da-ga-wa an-ah-jwo nae-ge dol-ah-wa-jwo
I’m let it snow, I’m let it snow
nan da-si jam-deul-eo kkum-eh-seo gi-da-lyeo neol
haeng-bok-haet-deon neo-wa-ui si-gan-ih da-si ol sun eobt-neun-ji
(neo dol-ah-ol su eobt-neun-ji, neol nae-ge jul su eobt-neun-ji)
I don’t know why I’m doing this song
You’re ma sweetie, girl, ma lady
Cha-ga-weo-jin nal an-ah-jweo my love
neo-ui ib-sul-eul neo-ui ki-seu-leul ba-lae
neo-ui sa-lang-leul won-hae
(ne sa-lang-eul won-hae)
neo-ui jin-sim-eul ba-lae
(ne jin-sim-eul ba-lae)
oh-neul bam neo-leul won-hae
neo-ui jeon-bu-leul neo-ui mo-deun geol won-hae
(baby love you girl, baby love you girl)
I’m let it snow, I’m let it snow
neo-eh-ge da-ga-ga da-si son-eul jab-ah
I’m let it snow, I’m let it snow
nan da-si tteol-lyeo-wa geu-ttae-lo dol-ah-ga
so jung-haet-deon neo-wa-ui si-gan-eul da-si jul sun eobt-neun-ji
(da-si neo ol sun eobt-neun-ji, neol gat-eul su-neun eobt-neun-ji)
I don’t know why I’m doing this song
You’re ma sweetie, girl, ma lady
Da-si nae-ge-ro do-ra-wa my baby
neo-ui ib-sul-eul neo-ui ki-seu-leul ba-lae
neo-ui sa-lang-eul won-hae
(ne sa-lang-eul won-hae)
neo-ui jin-sim-eul ba-lae
(ne jin-sim-eul ba-lae)
oh-neul bam neo-leul won-hae
neo-ui jeon-bu-leul neo-ui mo-deun geol won-hae
(baby love you girl, baby love you girl)
nun-ih oh-neun oh-neul-do ih got-se-seo
ne-ga oh-gil na-neun gi-da-lyeo, da-si neo woot-seu-myeo ol geot gat-ah-seo
hok-si an on-de-do na-neun yeo-gi it-sseul-ge
Baby love you girl, baby love you girl
Baby love you girl
Let it snow (I’m let it snow)
Let it snow (I’m let it snow)
Let it snow (I’m let it snow)


Translation


Let it snow, Let it snow
Come to me, come back to me
Let it snow, Let it snow
I go back to sleep again, I wait for you in my dreams
Can’t the happy times between us come back to us again
(Can’t you come back, can’t you give yourself to me)
I don’t know why I’m doing this song
You’re ma sweetie, girl, ma lady
Hug my coldness my love
I want your lips, your kiss
I want your love
(Your love)
I want your honesty
(Your honesty)
Tonight, I want you again
All of my all wants all of you
(baby love you girl, baby love you girl)
Let it snow, Let it snow
I come to you, I hold your hands again
Let it snow, Let it snow
I start to shake again, I go back to those times
The precious times between us, can you return those times back to me?
(Can’t you come back to me again, can’t I have you?)
I don’t know why I’m doing this song
You’re ma sweetie, girl, ma lady
Come back to me again my baby
I want your lips, your kiss
I want your love
(Your love)
I want your honesty
(Your honesty)
Tonight, I want you again
All of my all wants all of you
(baby love you girl, baby love you girl)
At this place where the snow falls
I wait for you to come, because I think that you are going to come back to me with a smile
Even if you say that you won’t return I will be here
Baby love you girl, baby love you girl
Baby love you girl
Let it snow (I’m let it snow)
Let it snow (I’m let it snow)
Let it snow (I’m let it snow)
 
Indonesian Translation
 
Let it snow, Let it snow

Datanglah ke saya, datang kembali padaku
Let it snow, Let it snow
Aku kembali tidur lagi, aku menunggu untuk Anda dalam mimpiku
Tidak bisa saat bahagia antara kami kembali ke kita lagi
(Apa kau tidak bisa kembali, tidak bisa Anda memberikan diri Anda kepada saya)
Aku tidak tahu mengapa aku melakukan lagu ini
Kau ma Sayang, gadis, ma lady
Peluk dinginnya saya cintaku
Saya ingin bibir Anda, ciuman Anda
Aku ingin cintamu
(Cinta Anda)
Saya ingin kejujuran Anda
(Kejujuran Anda)
Malam ini, aku ingin kau lagi
Semua dari semua saya ingin kalian semua
(bayi mencintaimu perempuan, bayi mencintaimu perempuan)
Let it snow, Let it snow
Saya datang kepada Anda, saya memegang tangan Anda lagi
Let it snow, Let it snow
Saya mulai goyang lagi, saya kembali ke saat-saat
Waktu yang berharga antara kami, bisa Anda kembali saat-saat kembali ke saya?
(Tak bisakah kau kembali padaku lagi, aku tidak bisa kan?)
Aku tidak tahu mengapa aku melakukan lagu ini
Kau ma Sayang, gadis, ma lady
Ayo kembali ke saya lagi bayi saya
Saya ingin bibir Anda, ciuman Anda
Aku ingin cintamu
(Cinta Anda)
Saya ingin kejujuran Anda
(Kejujuran Anda)
Malam ini, aku ingin kau lagi
Semua dari semua saya ingin kalian semua
(bayi mencintaimu perempuan, bayi mencintaimu perempuan)
Pada tempat di mana salju jatuh
Saya menunggu Anda untuk datang, karena saya berpikir bahwa Anda akan kembali ke saya dengan senyum
Bahkan jika Anda mengatakan bahwa Anda tidak akan kembali aku akan berada di sini
Bayi mencintaimu perempuan, bayi perempuan mencintaimu
Bayi mencintaimu gadis
Let it snow (saya biarkan salju)
Let it snow (saya biarkan salju)
Let it snow (saya biarkan salju)