BigBang Song

Lalala, My girl, BigBang is Vip, This Love (Gdragon), Last farawel, Lies, Haru Haru, My Heaven, With you, Gara gara Go, Beautivul Hangover, Lets me hear your Voice, Make love, Lollipop ft 2Ne1, Lollipop 2, Sunset glows, Hot Issue, Ora Yeah, Stay, Good Person, Tell me goog Bye, Hands Up, Always, Bringing youre love, Forever with you GDTOP ft BOM, Number 1, stylist, We Belong together, Dirty Clas, Tonight, Somebody To love, What is Right, Stupit Liar, Love song, Blue, Bad Boy, Love Dust, Ain't No Fun, Fantastic Baby, Wink's (Daesung), Ego, Feeling. "Taeyang" wedding Dress, Look Only At Me, I Need A Girl, Move ft Teddy, Prayer ft Teddy, Friend ft TOP, Where U at. "Gdragon" HeartBreker, Korean dreams, Shine a Light, She is Gone. "Seungri" What can i do, Strong Baby, VViP. "Daesung " Baby dont Cry, Try To lough. "GDTOP" High High, Oh Yeah, Baby Good Nigh, Jibe Gajima, Dancing on My Own ft Pixie Lott. Monster, Bingle Bingle, Still Alive
Tampilkan postingan dengan label Taeyang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taeyang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Oktober 2012

(Fanfiction) Make Me loving You Part 3 B




Author : @deebee_vip

Cast : Han Mika, Dong yongbae
Jang hyun seung, Lee Hanna

Support Cast : Han Taeyang. Han Chaeri, Han Jay bum, Kwon Jiyong, Dongwoon

Makes me loving you part 1
Makes me loving you part 2


Hyunseung Pov :

Aku terus berjalan meninggalkan ruangan itu, rasanya aku ingin segera pergi dari rumah ini. Aku sudah tidak sanggup lagi menerima kenyataan ini. Bagaimana mungkin semua ini terjadi. Apa ada yang salah, namun rasanya tidak mungkin. Semua cerita itu adalah nyata, cerita yang harus aku terima dengan pahit. Aku sudah tidak memperdulikan teriakan mika yang menyuruhku untuk berhenti, kakiku terus melangkah meninggalkannya. Aku sudah tidak ingin mendengarkan penjelasannya lagi. Meskipun kata hatiku ingin sekali untuk berbalik ke arahnya namun ternyata otakku memerintahkan lain.

Aku sudah tidak tahan, benar-benar sudah tidak tahan lagi. Pikiranku kacau. Airmataku menetes tanpa ku sadari. Kenapa semua ini harus terjadi tuhan. Katakan apa kesalahan yang aku perbuat sehingga kau memberikanku cobaan seperti ini.

Author Pov :
Di sudut jalanan itu hyunseung terus mempercepat langkahnya, dia sudah tidak peduli lagi dengan teriakan orang-orang  yang memaki dirinya karena tidak sengaja tertabrak. Jalanan itu memang cukup ramai dengan pejalan kaki, namu karena hyunseung sudah tidak dapat berpikir dengan jernih yang bisa dia lakukan hanya terus berjalan tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya.

Akhirnya pertahanan hyunseung runtuh juga, dia berhenti di tengah-engah jalan, di tengah hiruk pikuk ramainya kegiatan manusia. Hyun seung terdiam cukup lama, dia hanaya mematung tanpa melakukan apapun. Airmatanaya terus menetes dikedua sudut matanya. Namun tiba-tiba dia jatuh tertunduk, lekat manatap tanah yang ada di hadapannya. Dia tidak snggup untuk melihat orang-orang disekitarnya yang menganggap dia aneh. Hyun seung mengepalkan kedua tangannya erat. Hatinya pebuh sesak, sehingga oksigen yang masuk kedalam paru-parunya pun sudah tidak dapat dia rasakan sebagai mana mestinya.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” Hyun seung berteriak keras.

“kenapa, kenapa mika. Kenapa kau lakukan semua ini padaku”

Kata-kata itu reflek keuar dari mulutnya. Dan pada akhirnya laki-laki itu menangis. Meraung mengeluarkan segala beban dan kenyataan pahit yang baru saja diterimanya. Semuanya sudah tidak dia pedulikan lagi. Meski tatap tanya dan tatapan aneh dari setiap pasang mata memperhatikannya. Bagi hyunseung semuanya tidak ada. Dia merasa sedang sendiri di tempat itu. Tangisnya masih terdengar pilu dan menyayat hati. Setelah sekian lama dia berhenti, mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, lalu berdiri. Tegap dan angkuh, hyun seung kembali berjalan meninggalkan tempat itu. Berjalan menuju halte bus terdekat. Wajahnya terlihat dingin dan matanya memerah karena tangis dan amarahnya.

Setelah tiba di halte bus dia menghentikan sebuah taksi, dengar kasar dia membuka pintu taksi itu dan masuk kedalamnya.

oOo

Di tempat lain, yong bae masih dengan setia dan sabar menunggu mika. Dia tahu sebenarnya sejak tadi mika tidak tidur meskipun matanya tertutup secara sempurna. Mudah saja bgi yong bae untuk mengetahui itu karena memang dia sudah mempelajari tahap-tahap seseorang bisa tertidur saat masih kuliah dahulu. Namun yongbae membiarkan mika, selain tidak tega dia tahu bagaimana perasaan mika saat ini, karena itulah dia memilih untuk diam saja.sejak matanya tetutup pun, air mata mika tetap mengalir di kesua sudut, itu bukti kedua bahwa mika hanya berpura-pura tertidur.

“Mika, aku hara kamu baik-baik saja. Dan setelah ini beban di hatimu berkurang. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Kau tahu bagaimana takutnya aku selama ini bukan. Ketakutan terbesarku adalah bahwa hyunseung akan kembali dan kau akan terluka lagi. Dan hari ini semua ketakutanku itu benar-benar terjadi. Sungguh aku sangat mencintai mu begitu juga dengan hyun mi. jadi aku mohon tetaplah tinggal disisiku jangan pernah meninggalkanku apapun yang akan terjadi esok.”

Yongbae membelai rambut mika pelan setelah mengucapkan kalimat itu, sebelah tangannya menggenggam tangan mika erat. Dan yang tak pernah dia sangka sebelumnya yongbae ikut menitikan air matanya. Dia begitu takut akan kehilangan mika setelah kejadian ini.

“Aku mencintaimu, terlalu mencintaimu mika.” Ulang yongbae. Suaranya terdengar serak, terlihat dengan jelas bahwa dia menahan tangisnya agar tak terdengar oleh  mika. “Meskipun aku tahu kau belum mencintauku sepenuh hatiku. Aku terima itu asalkan kau tetap bersamaku”. Yongbae semakin menggenggam erat tangan mika. Dia mendongakkan kepalanya mencoba menhan agar air matanya tidak terus jatuh membasahi pipinya.

Beberapa wantu telah berlalu, namun suasana kamar itu tetap hening. Mika menahan matanya agar tetap tertutup. Yah dia mendengar dengan jelas semua yang di ucapkan oleh yongbae. Sebenarnya dia ingin sekali mengatakan sesuatu tai mulutnya terkunci rapat begitu juga dengan matanya. “Maafkan aku oppa.” Ucap mika dalam hati. “Maafkan aku, sehingga kau harus masuk kedalam hubungan yang rumit ini. Dan maafkan aku jika belum mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Selama ini aku sudah mencobanya, namun hyunseung begitu sulit untuk aku hapus dalam ingatanku”. Namun semua kalimat itu hanya mika ucapkan dalam hatinya, dia belum mampu utnuk mengatakan secra langsung kepada yongbae.

Dengan semua keberaniaanya, mika membuka matanya secara perlahan. Dilihatnya yongbae menengadahkan kepalanya menghadap ke arah langit-langit kamarnya. Mika berusaha untuk bangkit. “oppa.” Pangglkan. Yongbae tersadar dan menolehkan wajahnya menghadap  mika. “Kau sudah bangun.” Mika hanya mengangguk menjawab pertanyaan yongbae.

“oppa aku ingin pulang sekarang.” Pintanya.
“Apa tidak sebaiknya kita menginap disini saja untuk malam ini, nanti setelah keadaanmu membaik kita pulang”. Tawar yongbae sambil membelai kedua wajah mika.

Lagi mika menggeleng, dia merasa tidak nyaman jika malam ini harus menginap di rumah orang tuanya apalagi mengetahui betapa marah kakaknya tadi. “Tidak oppa aku ingin pulang sekarang.”

Yongbae tersenyum dan mengangguk. “Baiklah kalau itu maumu.” Yongbae membantu mika bangun dari tempat tidurnya. Membenarkan baju mika yang kelihatan berantakan dan memakaikan pakaian hangat.
“Kau tunggulah di bawah dan berpamitan pada ayah dan ibu, aku ke kamar hyun mi dulu.”
Mika menggangguk dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan hyunseung. Hyunseung hanya bisa mendesah melihat mika. Namun dia tetap bersabar dan berjalan mengikuti mika dari belakang dan menuju ke kamar hyun mi untuk menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan hyun mi.

oOo

“Ayah, ibu aku akan pulang malam ini.” Mika hanya mengucapkan kata-kata itu tanpa menatap kedua orang tuanya. Bahkan dia tidak duduk di kursi saat mengucapkan itu.

“Apa sebaiknya kalian tidak makan malam dahulu bersama-sama.” Tanya ibu mika.

“Tidak ibu kami akan makan di rumah saja. Aku permisi dulu.” Setelah itu mika meninggalkan kedua orang tuanya dan juga jay bum. Melihat tingkah mika jay bum ingin menghentikan mika, karena menurutnya dia sudah berperilaku tidak sopan. Namun sebelum jay bum berhasil menghentikan langkah mika, tuan han terlebih dahulu menarik tangan jay bum. “biarkan saja, mungkin dia butuh waktu untuk menenagkan diri. Bukankah sudah ada yongbae yang akan menjaganya. Jadi sebaiknya kita percayakan saja semuanya kepadanya.” Kata tuan han bijak. Jay bum hanya bisa mendesah dan kembali duduk di tempatnya semula.
Tidak lama setelah itu terlihat yongbae menggendong hyun mi yang sudah tertidur. Pelayan seo membawakan tasnya mengikuti di belakang yongbae. “Ayah, ibu, hyung kami pulang dulu.” Nyonya han hanya mampu menatap pilu ke arah yongbae, dia berjalan mendekat. Mentap yongbae dengan seksama. Tangannya meraih tangan yongbae sebelah kanan, mengusapnya dengan lembut dan tersenyum ke arah yongbae.

“kami tahu kamu adalah pria baik. Kami juga tahu kamu adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab. Kami serahkan mika dan hyun mi kepamu yongbae-ah.” Yongbae hanya bisa tersenyum sebagai jawaban dia tidak sanggup untuk mengucapkan kata-kata apapun karena dia takut jika saja air matanya akan jatuh lagi.

“Aku akan menjaga mereka dengan semua yang aku punya ibu.” Setelah itu yongbae berpamitan dan segera menuju ke mobilnya yang terparkir di depan rumah keluarga han. Yongbae membuka pintu mobil penumpang yang ada di belakang dan menyerahkan hyun  mi kepada mika. “Dia sudah tidur mika.” Lagi-lagi mika hanya tersenyum dan menerima hyun mi. di tamatinya wajah kecil hyun mi yang sedang tertidur. “Kau sungguh benar-benar mirip dengan appamu hyun mi.” mika membatin. Tangan mika membelai wajah kecil itu lembut dan mendekapnya dalam pelukan hangatnya.

Bibi seo menyerahkan tas yang dibawanya kepada yongbae. “Hati-hati di jalan tuan.” Bibi seo membungkukkan badan lalu meninggalkan yongbae. Dia memasukkan tas itu kedalam pintu samping kemudi. Kemudia dia berputar dan membuka pintu kemudi dan menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga han.

oOo

Alunan musik menggema sangat memekakkan telinga, banyak sekali manusia baik pria ataupun wanita yang menggoyangkan badannya di area dance flor. Di bagian lain terdapat meja-meja yang siap menyambut pelanggan yang datang ke tempat itu. Di salah satu meja terdapat seorang laki-laki yang tengah meneguk minumannya dari gelas hingga habis, kepalanya terus saja bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan musik yang sedang di putar. Sesekali dia tersenyum pahit meratapi nasibnya. Di meja itu terdapat banyak sekali botol wine yang telah kosong. Bukti bahwa pria itu sudah mabuk karena banyak menghabiskan minuman yang beralkohol.

“Ya hallo, ada apa”. Lelaki itu menganggat panggilan telphone dari handphonenya. “Kau dimana, kenapa tidak ada di rumah. Bukankah kau biang akan tinggal di apartementku”.  Lelaki itu hanya tersenyum miris mendengar jawaban dari lawan bicaranya.

“Dongwoon-ah aku sakit, sakit sekali. Rasanya jantungkku ingin pecah saat ini juga”. Dan saat itu juga air mata kembali mengalir dari sudut mata hyun seung, dia juga nampak menekan-nekan dada sebelah kirinya petanda dia merasakan sakit yang amat sangat pada tempat itu.

“Tunggu kau ada di mana sekarang, kenapa berisik sekali.” Tanya dongwoon.

“Sakit dongwoon.” Hyunseung hanya mampu merintih dia tidak mengindahkan pertanyaan dari dongwoon.
“Baiklah aku tahu kamu berada dimana sekarang, tunggu aku disana kau jangan kemana-mana.” Seketika itu juga sambungan telephone terputus.

Lagi hyunseung menuangkan wine nya kedalam gelas yang berisi air es. Dia sudah tidak peduli lagi berapa botol yang akan dia habiskan malam ini. Setelah menegukkan hingga habis hyunseung kembali memejamkan matanya. Dia mengingat bagaimana saat-saat mika tersenyum dan tertawa dengannya. Mengingat setiap kenangan yang terlukis di dalam hatinya.

“Aku tak sanggup, aku tak sanggup tanpamu han  mika. Lalu sekarang apa yang kau lakukan, kau meninggalkanku. Bukankah lebih baik kau membunuhku saja dari pada kau membunuhku dengan perlahan karena kepergianmu.” Gumamnya pelan dan menyenderkan kepalanya di atas meja.

Tidak lama setelah itu muncul sesosok pria. Dia nampak kebingungan, matanya menyelusuri setiap bagian dari tempat itu. Setiap meja dai perhatikan dengan baik dan seksama tidak ingin melewatkan sesuatu yang luput dari pandangannya. Setelah matanya tertuju pada satu meja di sudut ruangan itu, matanya semakin membulat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dengan segera dia berlari ke meja itu.

“Seungie”. Panggilnya pelan. Namun hyun seung tetap tidak merespon panggilan itu.

“Jang hyun seung.” Karena tidak mendapat respon dari hyun seung, pria itu mengguncang bahunya pelan dan menyebutkan nama lengkapnya. Merasa hyunseung mengenali suara yang telah memanggilnya, dia menolehkan wajahnya ke arah pria itu.

Hyunseung menatap dia intens. Seakan pria itu tahu dengan apa yang terjadi dengan hyunseung. Dia menarik kursi di hadapan hyunseung dan duduk di kursi itu. Dia menatap hyunseung lekat. “Apa yang sebenarnya terjadi.” Dia bertanya, namun hyunseung diam mengabaikannya.

Beberapa menit berlalu suasana diantara mereka berdua masih sama-sama saling membisu tidak ada yang berbicara meskipun dalam tempat itu suara musik menggema sangat kerasnya.

“Dia meninggalkanku woon-ah. Dia meninggalkanku seorang diri.” Ucap hyunseung lirih.

“Siapa yang kau maksud seungie.” Dongwoon tetap bertanya meskipun dia tahu betul siapa yang hyunseung maksud.

“Dia sudah menikah. Dan dia juga sudah mempunyai anak. Bagaimana semua ini bisa terjadi padaku.”
Dongwoon sangat terkejut mendengar pengakuan hyunseung dia tidak menyangka jika temannya akan mengetahui kabar itu secapatnya.

“Disini sangat sakit sekali woon-ah.” Sekali lagi hyunseung menekan dadanya kuat dan meremasnya. Dongwoon iba melihat keadaan hyunseung ditambah saat ini dia sedang mabuk.

“Lebih baik kita pulang saja, kita bicarakan masalah ini besok. Kau sudah terlalu mabuk.”
Hyunseung hanya memejamkan mata mendengar ajakan dari dongwoon, dia ingin sekali menolak namun tubuhnya sangat lemah dan entah kapan kekuatannya hilang begitu saja.

Dia tidak melawan saat dongwoon membopong tubuhnya membantu dia untuk berdiri dan bejalan meninggalkan tempat tersebut. Langkah hyunseung tertatih dan sempoyongan namun dengan sigap pula dongwoon menarik dan menopang tubuhnya saat dirasa hyun seung akan terjatuh. Dia tidak peduli lagi dengan banyaknya pasang mata yang memperhatikan mereka berdua, toh juga banyak orang yang terlihat sama seperti hyunseung sekarang ini.

oOo

“mika kita sudah sampai”. Yongbae mencoba membangunkan mika yang tertidur didalam mobil selama berada diperjalanan. Dia meraih hyun mi dari pangkuan mika. Karena merasa ada yang megganggu tidurnya mika terbangun dan kaget karena hyun mi tidak ada di pelukannya. Dia menoleh ke arah pintu mobil yang terbuka dan seketika itu perasaan lega hinggap, ternyata yongbae yang membangunkannya dan membawa hyun mi.

“Kita sudah sampai kau masuklah dulu. Aku akan mengambil tas dan mengantarkan hyun mi ke kamarnya.” Perintah yongbae dan lagi-lagi hanya anggukan kepala yang mika berikan kepadanya. Tanpa seulas senyum dibibirnya yang selama ini selalu dia berikan kepada yongbae.

Setibanya didalam rumah mika langsung menuju kekamarnya, dia mengganti bajunya dan masuk kekamar mandi untuk membasuh wajahnya. Saat memandang wajahnya sendiri didepan cermin. Mika mulai teringat dengan semua kejagian tadi siang di rumah orang tuanya. Cukup lama dia menatap wajahnya sendiri di depan cermin dan dia juga melihat bahwa air matanya kembali menetes.

“Kenapa kau kembali oppa, apa alasanmu kembali dan muncul dihadapanku. Bahkan dengan terang-terangan kau muncul di tengah-tengah keluargaku. Tak tahukah kau akibat dari semua ulahmu itu. Lalu apa yang seharusnya aku lakukan sekarang. Kau membuatku menjadi seorang wanita jahat oppa.” Mika kembali menangis dan tubuhnya roboh dia bersandar di dinding sudut kamar mandi. Dia kembali meraung dalam tangisnya. Mika tidak sanggup membayangkan dengan apa yang akan terjadi esok. Dia membekap mulutnya sendiri agar tangisnya tidak terdengar dari luar. Namun sia-sia karena saat itu juga yongbae sudah membuka kamar mandi dan menyaksikan dengan matanya sendiri apa yang tengah terjadi padanya.

Dengan berlari yongbae menghampiri mika, diraihnya tubuh lemah mika dan di bawanya tubuh itu kedalam dekapan hangat peluknya. Dibenamkannya kepala mika pada dada bidang yongbae, dan tangannya pun mengusap punggung mika lembut. Mika memejamkan mata sejenak kemudian dengan kesabaran yang dia miliki dikecupnya kening mika untuk menenangkan istrinya tersebut. Meskipun yongbae memeluk mika dengan penuh kasih sayang namun tangis mika tidak kunjung reda bahkan isakan mika semakin keras.

“Tenanglah mika, semua akan baik-baik saja. Aku akan terus berada disampingmu untuk menjaga dan menuntunmu”. Kata-kata yang diucapkan yongbae bukannya membuat mika merasa tenang dan menghentikan tangisnya namun malah membuat dia semakin merasa bersalah dan semakin erat membekap mulutnya sendiri.

Tak tega melihat keadaan mika yang semakin tidak karuan, akhirnya yongbae megangkat dan membawa mika untuk istirahat di tempat tidur. Dengan pelan diturunkannya mika ke tempat tidur itu. Yongbae ikut berbaring di sebelah mika. Dia menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua sampai ujung dada. Di tariknya tubuh mika hingga sekarang yongbae bisa mendekap tubuh renta itu. Yongbae sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk menenangkan miika. Untuk saat ini mungkin dengan membiatkan mika tertidur dalam pelukannya bisa membuat wanita itu tenang.

oOo

dongwoon sangat kesulitan membawa hyunseung untuk menuju apartment nya. Meskipun tubuhnya kecil namun dia sangat berat. Setelah dia memasukkan ke pin apartmentnya segera dia membawa hyunseung menuju kamarnya dan menbaringkan tubuh hyun seung. Sejak di perjalannan tadi hyunseung tak henti-hentinya menyebut nama mika dan meremas dadanya sendiri bahkan pria itu sering meneteskan air matanya meskipun dia tidak menangis. Namun dongwoon tahu jika dalam hati hyun seung sudah menangis.
Dongwoon hanya bisa menatap tubuh hyunseung iba. Dia segera meninggalkan kamar itu untuk membiarkan hyunseung beristirahat terlebh dahulu. Sedangkan hyunseung, apa yang terjadi pada pria itu semua tidak tahu. Dia memang memejamkan matanya dan berhenti menyebutkan nama mika. Tapi apakah dia tidur atau tidak tidak ada yang tahu.

Hyunseung mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia merasakan pusing dikepalanya. Perlahan dia membuka matanya dengan sempurna, dan sakit dikepalannya semakin dia rasakan. Dengan berat dia menegakkan tubuhnya berusaha untuk bangun. Setelah dia duduk sejenak, dia berdiri dan berjalan menuju dapur untuk meneguk air putih. Yah dia merasakan kering di tenggerokannya ditambah lagi pusing yang sekarang dirasakannnnya.

Setelah tiba di dapur dia membuka lemari es dan mengambil botol air putih, diteguknya air itu hingga habis setengah.

“Kau sudah bangun”. Suara yang menginteruonya tindakannya dari belakang membuat hyunseung menaruh kembali botol itu kedalam lemari es.

“Hemmmm, kau tidak kerja.” Hyunseung menatap dongwoon sekilas dan melirik jam yang terletak di atas lemari es telah menunjukkan pukul 10 pagi.

“Tidak. Aku sengaja tidak bekerja hari ini. Kau tahu apa alasanku bolos?” tanya dongwoon yang membuat hyunseung menyipitkan matanya.

“Kau tidak sedang merayuku kan woon-ah.” Hyunseung semakin curiga dengan perilaku dongwoon, sedangkan yang diperhatikan sejak tadi hanya mampu tersenyum simpul dan duduk di kursi meja makan.

“Kau belum sarapan kan, ayo kita makan. Aku sengaja menunggumu bangun tadi. Tapi maaf di rumahku ini hanya ada roti tawar.” Dongwoon tidak lagi menunggu jawaban dari hyunseung. Dia langsung mengambil roti yang ada dihadapannya dan menggigitnya agar hyunseung tidak terlalu banyak bertanya. Dan apa yang dilakukaknya memang cukup ampuh. Sekarang hyunseung ikut duduk dihadapan dongwoon dan menikmati sarapan mereka.

“Woon-ah kau sudah tahu semua ini kan.” Hyunseung menatap dongwoon lekat.

“Apa yang kau maksud aku tidak mengerti.” Jawab dongwoon mencoba untuk mengelak.
“Kau jangan mengelak, jawab saja pertanyaanku.” Tuntun hyunseung.

Dongwoon menghembuskan napasnya sejenak. “Tepat 1 bulan lebih setelah kepergianmu dia menikah dengan dokter itu. Aku tidak tahu dengan pasti apa yang membuatnya menikah tiba-tiba. Namun yang jelas setelah 1 minggu kpergianmu. Mika terus saja mencarimu, bahkan setiap hari dia menelphoneku untuk menanyakan apakah ada kabar darimu atau belum. Dia sangat frustasi karena tidak bisa menghubungimu dan tidak lama setelah itu. Dia datang padaku sambil menangis. Dia menyerahkan undangan pernikahannya namun setelah aku menerimanya, dia berlari meninggalkanku tanpa meninggalkan 1 kalimatpun. Aku berusaha untuk meghubunginya mencoba untuk mencari tahu apa alasan yang membuat dia harus menikah secepat itu. Tapi semua itu nihil.”

Hening, itulah suasana yang ada dianatara mereka setelah dongwoon menghentikan cerita singkatnya. Sedangkan hyunseung dia hanya menunjukkan ekspresi datar mendengar penuturan dongwoon.
“Lalu anak itu?” tanya hyunsung lagi.

“seperti yang kau dengar dan tahu. Dia adalah hyun mi anak mika dengan dokter itu”. Sejenak dongwoon terdiam dan menghembuskan napasnya. “Namun aku juga mendengar jika mika melahirkan anak itu sebelum pernikahannya memasuki bulan ke 8”. Banyak berita miring dengan kejanggalan itu tapi pihak rumah sakit dan keluarga mika mengatakan jika mika mengalami kecelakaan, dia terjatuh dan perdarahan sehingga bayinya lahir prematur.

Hyunseung sempat kaget dan menolehkan kepalanya menghadap dongwoon setelah mendengar bahwa ika pernah mengalami kecelakaan. “Lalu apakah kau tidak bertanya kepada hanna?.”

“Untuk apa aku bertanya kepadanya, bahkan kami sudah tidak saling bertemu sejak lulus sma. Kau tahu itu dengan jelas kan”. Dongwoon sepertinya agak emosi dan menaikkan nada bicaranya.

“ya, ya, ya aku tahu itu tapi kau tidak perlu marah dan menaikkan nada bicaramu. Aku sekarang sudah cukup merasakan pusing dikepalaku. Jadi jangan kau tambah lagidengan harus mendengar suaramu.
Dongwoon hanya menyeringai kecil mendengar kemarahan nyunseung.

“Oke aku sekarang harus pergi ke kantor, jika kau ingin keluar pake mobilku. Kuncinya ada di meja kamar. Aku pergi dulu bye”. Setelah itu dongwoon meninggalkan hyunseung sendirian.

“yah, bukannya tadi kau bilang ingin membolos.” Teriak hyunseung.

“aku hanya membolos sampai istirahat makan siang.” Hanya itu yang di ucapkan dongwoon, setelah itu tidak ada suara yang terdengar lagi.

Hyunseung mencoba memikirkan semua yang telah diceritakan oleh dongwoon. Ingin sekali dia menemui mika dan meminta penjelasan darinya, namun disisi lain dia tidak ingin merusah rumah tangga orang lain terlebih lagi tumah tangga orang yang sangat dia cintai. Hyunseung hanya mampu mengacak-acak rambutnya frustasi, dan setelah itu mengusap wajahnya kasar. Dengan segera dia berdiri dan meninggalkan meja makan bergegas ke kamar mandi untuk berendam dan menghilangkan semua penat yang dia rasakan.

oOo

Dan sekarang disinilah dia berada di sudut café rumah sakit tempat dokter itu bekerja. Dia tidak tahu apa yang membuatnya berada disitu namun langkah kakinya menuntunnya hingga tiba di rumah sakit itu. Cukup lama dia menunggu seseorang yang sudah dihubunginya sejak tadi, bahkan kopi yang berada di cup cangkirnyapun nyaris habis. Dia mulai bosan untuk menunggu, namun dia mencoba untuk bertahan.

“Apa kau sudah menunggu lama, maaf aku terlambat.” Sebuah seuara membuyarkan sedikit lamunannya. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Namun tidak untuk seseorang yang menyapanya, dia terlihat enggan untuk menyambut uluran tangan itu.

“Oke, tidak masalah jika kau tidak mau menyambut uluran tanganku. Duduklah .”

“Ada apa kau mencariku.”

Pertanyaan langsung yang tepat pada intinya membuat laki-laki itu tersenyum simpul dan membenarkan letak duduknya dan menatap orang yang berada di hadapannya.


--------------------------------bersambung-------------------------------------------

Sabtu, 15 September 2012

(Fanfiction) Makes Me Loving You Part 3 a




Author  : @deebee_vip

Cast : Han Mika, Dong yongbae
Jang hyun seung, Lee Hanna

Support Cast : Han Taeyang. Han Chaeri, Han Jay bum, Kwon Jiyong, Dongwoon

Makes me loving you part 1
Makes me loving you part 2

Senyum tak pernah lepas dari wajah laki-laki itu. Dia tetap memandang lurus ke arah depan, sesekali memandang ke samping melihat jalanan yang taksi itu lewati. "sudah 2 tahun lebih aku meninggalkan korea,tapi sepertinya tidak ada yang banyak berubah. Aku harap perasaanmu padaku masih sama". Dia berguman dalam hati dan sekali lagi tersenyum.

"hallo, dongwoon apa kau dirumah".
"yah, siapa ini?"
"aish kau melupakanku.ah jinja!"
"hah, apa kau hyunseung!"
"memangnya sapa lagi"
"aku dikantor ada apa kau menelponku?".
"aku di korea sekarang, dan aku butug tumpangan untuk tinggal!"
"Apa kau gila,setelah 2 tahun lebih menghilang dan sekarang sudah berada di korea. Apa kau tahu banyak orang yang mencarimu. Aku sampai tidak tahu lagi harus mencari keberadaanmu dimana!".
"Hahahaha ceritanya panjang, nanti saja semua pasti akan aku ceritakan padamu. Kode apartmentmu belum kau gantikan".
"Ya, ya, apa kau ingin merampok dirumahku. Cieh, dasah anak ini. Hanya 3 nomor belakang yang ganti menjadi 712. Dan ingat kau hutang bnyak pertanyaan dariku".
"Oke, sekarang aku di dalam taksi. Aku butuh istirahat, sampai ketemu nanti".

Tanpa menunggu jawaban dari dongwoon hyunseung menutup saluran telphone tersebut.

Setelah tiba di kawasan apartment yang di maksud hyunseung, taksi itu menepi. Tampak pelayan membukakan pintu untuknya. Sebelum keluar dia memberikan beberapa lembar uang. "oh iya pak, maaf saya hanya akan membersihkan diri dan menhanti baju, jika anda bersedia bisa menunggu saya akan memakai taksi ini lagi?". Hyunseung bertanya kepada sopir taksi tersebut sebelum keluar. "baik saya akan menunhu". Jawab sopir taksi itu dan tersenyum ke arah nya. Setelah keluar dari dalam taksi. Koper2 hyunseung sudah berada di hadapannya. "cepat juga ini pelayan". Ucapnya dalam hati. "lantai 3 no 63". Kata hyunseung ke arah pelayan tersebut dan berjalan mendahuluinya tak lupa dia menggunakan kembali kacamata hitamnya.

Setelah selesai membersihkan diri, hyunseung membongkar kopernya ia nampak mencari dan memilih baju yang sekiranya pantas untuk dia pakai. Hyunseung memakai kemeja itu, kemeja berwarna biru muda, celana hitam, juga jas berwarna hitam pula. Dia tidak memasukkan kemejanya ke dalam celana, kancing atas kemejapun dia biarkan terbuka 2, tanpa menggunakan dasi. Setelah selesai dia tersenyum dan merapikan rambutnya. Perlahan namun pasti lelaki meninggalkan apartment dongwoon, ia melangkah ke arah lift dengan tangan di masukkan kedalam saku semua. Sesekali dia melirik arloji yang berada di lengan kananannya. Tidak butuh waktu lama untuk dia tiba di lobby. Sesampainya di luar gedung itu, mata hyunseung mencari-cari taksi tadi. Mata hyunseung langsung menangkap keberadaan taksi tersebut dan dengan cepat dia berjalan ke arah itu.

"Tolong antarkan aku ke alamat tersebut". Ucapnya dengan menyerahkan selembar kerta kepada sopir taksi setelah sampai di dalam taksi.

oOo

Disebuah taman belakang kediaman orang tua mika berkumpul. Tampak juga lee hanna yang merupakan anak dari sopir keluarga han, lee in guk. Kali ini jay bum juga hadir untuk merayakan anivesary pasangan tuan dan nyonya han. Sedangkan si kecil hyun mi, asyik berceloteh dan bernyanyi ala anak se usia 1 tahun di pangkuan ibu mika. Sedangkan yongbae dan mika hanya bisa tertawa bahagia melihat keluarganya bisa berkumpul bersama dan bercengkrama di sebuah meja taman itu sambil menikmati makan siang. Meskipun tanpa keluarga dari yongbae yang hadir, namun semua itu tidak mengurangi kebahagiaan di wajah mereka semua.

"Mika bukankah sebaiknya kau meminta bibi seo untuk membantumu mengasuh hyun mi, kau lihat dia begitu aktif sekarang apalagi sudah bisa mulai berjalan itu akan sangan merepotkanmu". Nyonya han membuka pembicaraan ditengah derai tawa keluarga tersebut.

"Tidak ibu, aku masih bisa menjaganya dengan baik. Dan lagi pula aku tidak ingin melewatkan setiap perkembangannya. Walaupun itu memang akan menguras tenaga dan waktu tapi aku senang dan bahagia dengan semua itu". Mika tersenyum menjawab pertanyaan dari ibunya. Yongbae ikut tersenyum menatap mika lalu dia menggenggan tangan kiri mika. "ibu biarkan dia melakukan apa yang dia sukai, kami yakin masih sanggup untuk menjaga hyun mi". Yongbae menimpali kata-kata nyonya han dengan sopan dan tegas.

"Aish kalian ini memang sangat kompak kalau sudah urusan melawan kata-kataku, benar tidak hyunmi, dengar ya jika kau sudah besar nanti tidak boleh seperti mommy dan daddy mu itu, kau harus menurut apa yang nenek katakan. Mengerti". Seketika tawa meledak di tengah-tengah perbincangan itu. Hyun mi yang belum mengerti tentang apa yang orang-orang dewasa itu katakan hanya bisa tertawa dan sesekali berteriak mengucapkan kata "mommy"

Dari kejauhan nampak seorang pelayan yang berjalan mendekati ke arah mereka.

"Maaf tuan saya mengganggu". Pelayan itu memberikan hormatnya dan membungkukukan setengah badannya. "iya ada apa". Kata han taeyang.

"Sekarang di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan nyonya muda". Seketika semua terdiam mendengar perkataan pelayan itu.

"Aku? Siapa". Ucap mika kemudian.

"Orang tersebut tidak mengatakan apapun. Yang dia katakan hanyalah nyonya muda mengenalnya dan dia adalah teman lama anda".

"Memangnya siapa kenapa aneh sekali". Mika berdiri hendak menemui orang tersebut. Mika berjalan beberapa langkah dari kursinya namun mendadak berhenti mendengar teriakan hanna.

"Mika tunggu. Biar aku saja yang menemuinya". Teriak hanna.

"Eh kenapa??".

"Sudahlah kau duduk saja, lanjutkan perbincangan kalian. Lagi pula jika dia temanmu bukankah dia temanku juga. Lagi pula kalian jarang sekali berkumpul. Jadi manfaatkan kesempatan kali ini". Hanna tersenyum dan meninggalkan tempat duduknya dan berjalan ke dalam bersama pelayan tadi. "aku permisi dulu". Ucapnya kemudian sebelum benar-benar meninggalkan tempat tersebut.

"Dimana sekarang dia berada". Hanna bertanya kepada pelayan itu.

"Diruang tamu, saya akan menyiapkan minuman dan juga makanan ringan sebentar".

"Baik jangan lama-lama pelayan goo".

Satu langkah dua langkah, hanna berjalan pelan memasuki ruang tamu kediaman keluarga han. "selamat siang". Sapa nya setelah tiba ruang tamu tersebut.

Pria itu hanya tersenyum mendengar sapaan hanna. Lantar dia beranjar berdiri dari duduknya. Di ulurkannya tangan sebelah kanan untuk berjabat tangan. "selamat siang lee hanna, bagaimana kabarmu". Pria itu tetap mengangkat tangan sebelah kanannya, namun hanna tidak juga menyambut uluran tangannya.

Hanna masih diam terpaku di tempatnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Yang jelas untuk saat ini semuanya seakan-akan adalah permainan yang hampir mendekati dengan kata game over.

Risih dengan reaksi yang di tunjukkan oleh hanna, hyunseung menarik kembali tangan kanannya. "ciih, kau seperti baru pertama kali saja bertemu denganku". Hardik hyunseung.

"Benarkah kau hyun seung. Jang hyun seung". Ucap hanna kemudian dan mengulangi nama yang dia katakan.

"Kau pikir siapa lagi. Memangnya berapa orang lagi yang mempunyai nama jang hyunseung dengan wajah setampan aku ini".

"Bagaimana kau bisa ada di sini". Tanya hanna lagi, namun dia belum juga beranjak dari tempat duduknya.

"Yah apa begini caramu menerima tamu. Bahkan sejak tadi kau hanya berdiri di situ tanpa mempersilahkanku duduk". Setelah mengucapkan kata itu hyunseung kembali duduk di sofa berwarna merah tua yang terletak di tengah-tengah ruang tamu itu.

Sadar jika hanna masih belum beranjak dari tempat dia berdiri, akhirnya hanna duduk di sisi lain sofa itu tapi tetap menghadap ke arah hyunseung.

"Apa yang kau lakukan. Apa yang sebenarnya terjadi. Kemana saja kau selama ini pergi, kenapa tidak ada kabar sama sekali. Kau seperti hilang di telan bumi". Hanna membrondong pertanyaan untuk hyunseung.

Berbeda dengan hanna yang menunjukkan ekspresi tegang. Hyunseung tampak sangat tenang. "dimana mika bukankah pelayan tadi memberitahukanku jika mika ada". Tanya hyunseung tanpa memperdulikan pertanyaan dari hanna.

"Gila, ini semua benar-benar akan membuat semuanya kacau". Gerutu hanna dalam hati. "kau benar-benar gila jang hyun seung". Hanna berucap dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku". Tunjuk hyunseung pada dirinya sendiri. "apa maksudmu dengan aku gila". Tanya hyunseung balik.


"Sebaiknya sekarang kau pergi dari sini. Apa kau tahu jika kehadiranmu hanya akan membuat suasana dan keadaan semakin kacau. Tak tahu kah kau jika kepergianmu yang tiba-tiba itu sudah menimbulkan banyak sekali masalah". Pinta hanna kepada hyunseung.

Hyunseung menyipitkan matanya, tidak mengerti dengan apa yang barusan wanita itu ucapkan. "apa maksudmu sebenarnya hanna".

Hanna masih terdiam, dia bimbang dengan apa yang harus dia lakukan. Mengusir lelaki yang tengah duduk di hadapannya saat ini. Atau memberitahukan kepana hanna langsung. Tapi semua itu akan sangat beresiko. Di tengah kekalapannya nama jay bum terlintar dalam benaknya. "atau mungkin aku memberitahu bum oppa saja". Ucapnya dalam hati. Setelah mempertimbangkan semuanya akhirnya wanita itu membuka layar handphone yang sejak tadi berada di genggamannya.

"Oppa bisakah kau keruang tamu sebentar. Ada sedikit masalah. Tapi tolong jangan katakan apapun kepada yang lainnya".

Seperti itulah kata-kata yang dia kirimkan untuk jaybum.

Hyun my sedang bercelotek ria dalam gendongan jay bum. Mereka berjalan-jalan mengitari taman menyaksikan ikan-ikan yang terletak dalam kolam di taman itu. Tiba-tiba sakunya bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk. Dengan tangan kanannya yang mengganggur di rogohnya saku tersebut dan mengambil barang flat tersebut. Dahinya nampak mengernyit membaca pesan singkat yang telah di kirimkan oleh hanna. Tampa membuang waktu lebih lama lagi jay bum meninggalkan kolam itu berjalan mendekati tempat keluarga han berkumpul. Di berikannya hyun mi ke pangkuan mika. "aku akan masuk sebentar". Ucapnya kemudian dan meninggalkan tempat itu tanpa berkata apapun lagi. Entah apa yang dia rasakan namun jay bum seperti merasa ada yang mengganjil di hatinya semenjak menerima pesan dari hanna tadi. Cepat-cepat dia menepis segala macam pikiran yang berkelebat di otaknya. Dia terus menarik nafas panjang untuk menetralkan adrenalinnya.

Langkahnya sebentar lagi mendekati ruang tamu, dan entah datangnya dari mana hati jay bum semakin berdebar-debar. Mata laki-laki itu seketika melotot melihat pemandangan di hadapannya. Sekarang hyun seung tengah duduk tepat beberapa meter dari jay bum berdiri. Dia mengepalkan kedua genggaman tangannya, nampak sekali jika jay bum memendang segala amarah yang siap meledak begitu saja. Mati-matian dia meredam segala amarahnya namun ternyata semua tidak seperti keinginannya.

Dengan cepat dia berlari ke arah hyun seung mengepalkan genggaman tangan kanannya erat-erat. Setibanya di hadapan hyunseung di tariknya kerah kemeja itu sehingga membuat hyunseung berdiri karena tarikan yang terlalu kuat dari jay bum. Tanpa berkata apa-apa sebuah tinjuan mendarat di pipi kiri hyun seung, lagi dan lagi sehingga hyun seung tidak sempat melontarkan pertanyaan kenapa bum melakukan semuanya kepada dirinya.

Nafas jay bum tersengal-sengal memburu oksigen semampu yang dia dapatkan. Matanya memerah, lagi dia menarik kerak hyun seung dan meninju pipik kanannya karena jay bum sudah merasakan nyeri di punggung tangan kanan.

"Kau benar-benar brengsek, bagaimana mungkin kau masih bisa menunjukkan batang hidungmu disini setelah apa yang kau lakukan hah". Lagi jay bum memberikan pukulannya.

Merasakan sakit di pipi kanan dan kirinya serta daerah bibir, hyunseung tidak mampu mengucapkan kata-kata apapun juga. Hyunseung menarik tangan tangan kiri jay bum yang hendak memberinya pukulan lagi. "maaf hyung atas kelancanganku, tapi ada apa ini kenapa kau memukulku begitu saja". Hyunseung memelas di hadapan jay bum.

"Apa kau tidak sadar juga hah, kau itu benar-benar lelaki brengsek, kau telah menghancurkan mika, kau membuat mika ha...". Seketika ucapan jay bum terputus karena mendengar suara gelas yang terjatuh begitu keras.

"Prangg".

Dan semuanya mematung, melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mika tampak terkejut dengan apa yang terlihat di hadapannya. Dia tidak bisa mengatakan apapun, mulutnya mengangan. Nampak yang sejak tadi dipegangnya ikut terjatuh dengan gelas-gelas tadi. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, hyunseung lelaki itu berada tepat di depannya. Dengan keadaan yang sangat kacau karena telah di pukuli oleh kakaknya sendiri. Mulutnya masih menganga lebar, dan detik itu pula dia membungkam mulut dengan tangannya sendiri. Karena dia masih belum percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Dan tiba-tiba tubuh mika ambruk. Dia merakan sesak di dadanya perlahan namun pasti air matanya mengalir di antara sela-sela mata dan jatuh begitu saja tana bisa dia kendalikan. Wanita itu masih menatap lurus ke arah hyunseung yang sekarang masih berada di hadapan jay bum. Wanita itu menangis tanpa suara, tubuhnya dingin membeku, nafasnya memburu, dadanya terasa sesak. Dia sudah tidak bisa merasakan apapun juga.

"Mika, apa kau tidak apa-apa". Tanya hanna menghampiri mika. Hanna memegang kedua bahu mika. Wanita itu menatap hanna dan menggelengkan kepalanya, dan air mata masih mengalir di pipinya.

Hanna prihatin melihat keadaan mika. Dari arah lain dari dalam. Muncul ayah dan ibu mika. "ada apa ini kenapa berisik sekali" tanya nyonya han. Dan saat itu juga dia tidak membutuhkan jawaban atas pertanyaannya setelah melihat keadaan mika dan hyunseung yang berada ditengah-tengah mereka. Semua masih terdiam tidak ada yang membuka percakapan. "kita bicarakan diruang tengah, bum panggil yongbae. Dan kau hanna ambil kotak obat dan obati luka hyunseung". Kata ayah mika pada akhirnya. Dan lelaki paruh baya itu berjalan terlebih dahulu meninggalkan ruang tamu menuju ruang tengah atau juga ruang keluarga.

Ibu mika menghampirinya, ditariknya agar mika berdiri. Tubuh wanita itu benar-benar seperti patung dan terasa dingin. Mika hanya mampu memandang ibunya dengan pandangan kosong,wajahnya memucat. "kita ke ruang tengah sekarang, tenanglah semua akan baik-baik saja". Nyonya han berusaha menenangkan mika dan mengelus wajahnya lembut penuh kasih sayang.

oOo
  
Suasana sepi langsung menghimpit ruang tengah itu. Yongbae yang baru tiba dari taman bersama dengan hyun mi langsung berjalan ke arahnya. "kau tidak apa-apa kenapa wajahmu pucat sekali". Yongbae bertanya dan langsung duduk di sebelahnya. Namun mika tidak mengindahkan sama sekali pertanyaan yongbae, yang ada di dalam benaknya sekarang ini hanyalah hyunseung yang duduk tak jauh dari hadapannya. Jay bum yang baru tiba bersama yongbae langsung mengambil posisi duduk di sebelah ayahnya. Sedangkan nyonya han tetap berada di samping mika menggenggam tangannya untuk sekedah menenangkannya.

Hanna yang sudah berada di sana sejak tadi langsung mengobati luka-luka di sekitar bibir hyunseung yang nampak berdarah. Sesekali hyunseung merintih dan menahan perih akibat luka tersebut. Dalam otak hyunseung masih berkelebat bermacam-macam pertanyaan. Dia sendiri bingung apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga ini. Kenapa tiba-tiba mendadak semua membencinya. Apalagi jay bum tanpa sebab yang jelas dia memukulinya habis-habisan, sebenarnya jika mau dia bisa membalasnya namun semua itu tidak dilakukan karena menghormati bum sebagai kakak mika. Dan siapa laki-laki yang yang menggendong seorang bayi perempuan duduk di sebelah mika. Sekiranya itulah yang terus mengganggu pikiran hyunseung. "kenapa dia sangat cemas dan sangat perhatian dengan mika". Tanyanya dalam hati.

Hyun seung tetap menatap mika walaupun dia sedang di obati oleh hanna, merasa di sedang di perhatikan dia menoleh ke sebelah kiri mika. Yah dialah orang yang sejak tadi menatapnya penuh tanda tanya. Tak mau kalah dengan tatapan itu, hyunseung juga menatap yongbae dengan tatapan dinginnya. Seolah mengerti apa yang di pikirkan oleh hyunseung, yongbae mengalihkan pandangannya kepada hyun mi. Entah kenapa sejak tadi hyun mi tidak mau diam, dia selalu saja ingin menangis dan meronta-ronta dalam dekapan yongbae.

Melihat yongbae mengalihkan pandangannya kepada bayi kecil dalam pangkuannya. Hyunseung menatap bayi perempuan itu, lama dan intens. "deg, perasaan apa ini, kenapa semua mendadak sesak. Bayi itu kenapa membuatku merinding". Tanyanya dalam hati lagi. Hyunseung memalingkan wajahnya dari hyun mi ke arah yongbae. Dia terus menatap dan mengingat-ingat siapa lelaki itu. "bukankah dia teman jay bum hyung, seorang dokter". Katanya dalam hati.

"Sudah selesai". Hanna menghentikan kegiatannya mengobati hyunseung setelah menempelkan plester transparan di sudut bibir hyunsung yang terluka. 


Setelah hanna  selesai mengobati hyun seung, suasana cangguh semakin tercipta di antara mereka. Laki-laki itu bahkan tidak mengucapkan apa-apa kepada hanna. Sesekali Nampak tuan han mendesah dan menghembuskan napasnya pelan. Sedangkan mika yang menjadi objek kali ini hanya mampu menunduk, dia tidak sanggup walau hanya sekedar mengangkat kepalanya. Wajahnya masih pucat pasi, banyak sekali yang dipikirkan wanita itu namun sekali lagi tidak ada yang bias dia lakukan.

“Mika, sebenarnya apa yang terjadi”. Tanya yong bae kemudian.

Wanita itu masih diam tidak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan yong bae.
“Sebaiknya kau pergi dari sini, bukankah lukamu sudah selesai di obati. Aku sangat muak melihat wajahmu”. Cecar jay bum.

“Sebaiknya kau diam dulu bum, biarkan semua kita selesaikan di sini”. Timpal ayah mika.

“Maaf ayah siapa dia, Kenapa semua membicarakan laki-laki itu”. Mendengar pertanyaan yong bae semua hanya bisa menutup mulut mereka rapat-rapat. Di sisi lain terdengar desahan napas ibu mika. “Dia hyunseung, Yong bae”. Setelah kata-kata yang keluar dari mulur perempuan paruh baya itu, kembali suasana sunyi bahkan lebih sunyi lagi dari pada sebelumnya. Yong bae terdiam, namun  matanya tak beranjak sedikitpun dari wajah hyun seung, dia bergantian menatap hyun seung dan mika yang sejak tadi menundukkan kepalanya bahkan terlihat dengan jelas di matanya bila sejak tadi pula air mata mengalir di pipinya.

Tatapan itu, tatapan mata hyun seung mengisyaratkan bahwa dia meminta penjelasan atas semuanya namun semua masih saja bungkam.
“Tidak adakah yang bisa menjelaskan semuanya disini, atau aku harus membawa mika keluar dari ruangan ini”. Pinta hyun seung akhirnya.

“Seungie sebaiknya kau lupakan mika, dan meneruskan hidupmu”. Ucap ayah mika.
Hyun seung mendelik tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh tuan han. Apa maksudnya, kenapa dia harus melupakan mika. Bukankah mereka semua juga sudah tahu jika dia dan mika sama-sama saling mencintai dan sekarang dia di perintahkan untuk melupakan mika. “itu mustahil”. Jawab hyun seung”.

“Kenapa mustahil tidak ada yang mustahil untukmu”. Timpal jay bum. “Dan yang harus kau ketahui dan ingat selamanya adalah bahwa sekarang mika sudah menikah dengan dokter yong bae. Dan kau lihat itu bayi perempuan di pangkuannya yang sejak tadi rewel. Itu adalah anak mika. Anak han mika”. Jay bum lebih menekankan kalimat terakhirnya dengan tatapan benci kea rah hyun seung. Sama sekali tidak ada tatapan persahabatan dari wajah itu.

Hyun seung tersentak kaget mendengar penjelasan dari jay bum. Bagimana mungkin mika sudah menikah dan mempunyai seorang bayi. Hyun seung menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Tidak mungkin, Kau pasti berbohongkan hyung”. Balas hyun seung menatap jay bum, menuntut penjelasan.

“Cieh. Kau yakin sekali jika aku berbohong, kau bisa menanyakan langsung kepada orang tuaku atau kepada mika secara langsung. Bukankah sekarang dia ada di antara kami”.

Seketika itu pula hyun seung memalingkan pandangannya kea rah mika. Di litany mika yang sejak tadi masih menundukkan kepalanya. Kedua tangannya menggenggam erat ujung bajunya, dan dia Nampak bergetar hebat. Hyun seung masih menatap mika. “Mika apa benar semua yang dikatakana oleh jay bum hyung tadi”. Mika masih dia tidak menjawab pertanyaan hyun seung.

“Jawab pertanyaanku han mika”. Hyun seung mulai menaikkan intonasi suaranya agar mika menjawab pertanyaan darinya. Laki-laki itu mulai geram melihat mika yang tidak menunjukkan reaksi apapun juga.
“Han mika”. Teriak hyun seung kemudian. Dan mendengar teriakan hyun seung semuanya terlonjak kaget tidak mengira jika lelaki itu sedemian marahnya, namun tetap saja dia tidak pantas untuk melakukan semua itu.

“Kau pikir kau itu siapa hah, dasar brengsek”. Jay bum berdiri hendak menuju kea rah hyun seung lagi namun dengan cepat di tahannya dia oleh ayah mika.

“Kami memang sudah menikah dan dia adalah hyun mi anak kami”. Yong bae menghentikan ketegangan di antara mereka semua dengan mengakui jika memang dia dan mika sudah menikah. Namun berbeda dengan hyun mi sekarang bayi kecil itu mulai tidak tenang dia, dia mulai menangis dan meronta-ronta di pangkuan yong bae. Dengan cepat pula yong bae menenangkannya, namun seakan hyun mi mengerti dengan situasi yang tengah terjadi di ruangan itu sama sekali dia tidak mau diam dan menangis semakin keras. “Ada apa denganmu hyun mi, daddy mohon tenanglah, mommy tidak mungkin menenangkanmu dengan keadaannya yang seperti ini”. Ucapnya dalam hati.

Melihat cucunya rewel nyonya han tidak tahan juga “Bibi Seo” teriak wanita itu. Tidak beberapa lama kemudian pelayan yang di sebut dengan bibi seo itu muncul. “Tolong bawa hyun mi kedalam dan tidurkan dia”. Perintah nyonya han. Dan pelayan itu menuruti semua perintah majikannya. Diambilnya hyun mi dari pangkuan yong bae.

“Mika katakana sesuatu kepadaku, jangan hanya diam dan menunduk”. Hyu seung mengulangi pertanyaannya.

Sementara mika masih diam seribu bahasa yong bae mencoba meyakinkan hyun seung juika mereka memang sudah benar-benar menikah. “Kami sudah menikah dan mika sekarang dalah istriku hyun seung”.
“Aku tidak butuh penjelasan darimu”. Hyun seung menatap yong bae tajam, seakan-akan dia sama sekali tidak butuk jawaban dari laki-laki itu.

“Maafkan aku oppa”. Jawab mika akhirnya dengan masih menunduk.

“Angkat kepalamu”. Mika mengangkat kepalanya setelah mendengar pewrintah dari hyun seung, namun wanita itu hanya sekedar mengangkat kepala saja dia tidak menatap kea rah hyun seung dan itu membuatnya semakin geram. Hyun seung terus menatap mika intens dan lama. Matanya Nampak memerah karena menahan amarah rahangnya mengatup keras. Merasa di intimidasi oleh hyun seung akhirnya mika memberanikan diri menatap hyun seung. Tatapan mata mereka bertemu ada getir kesedihan dari setiap tatapan mata mika dan lagi-lagi air matanya tak lagi bisa di bending mengalir begitu saja. Lama mereka berpandangan seolah dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua. Ada perasaan bahagian di dalam lubuk hati mika setelah bisa melihat wajah lelaki itu, wajah lelaki yang selama ini sangat sulit untuk di hapusnya dalam ingatannya. Namun di sisi hatinya yang lain terdapat luka yang menganga yang tak seorangpun bisa mengobati. Dia takut akan hari esok, takut menerima keadaan jika semua akan tidak baik-baik saja ketika hyun seung kembali. Takut jika hatinya akan goyah kembali. Takut jika nanti dia akan jatuh kepada hyun seung untuk yang kedua kalinya.

“Maafkan aku oppa, aku memang sudah menikah dengan yong bae oppa”. Ulang mika.

Lelaki itu mematung mendengar penjelasan secara langsung dari mika. Dia merasakan sakit yang amat sangat di dalam hatinya. Tiba-tiba saja dia merasakan sesak dan sulit untuk bernapas. Dia menggelngkan kepala, mengusap seluruh wajahnya tidak peduli jika saat ini wajahnya tengah terluka karena hatinya jauh terluka dan lebih sakit dari apa yang dia rasakan dari pukulan tadi.

Semua terdiam menunggu reaksi dari hyun seung, namun seakan dia mendapatkan petaka yang sangat besar. Hyun seung sama sekali tidak mengeluarkan suaranya dan tak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya.

“Maafkan aku, tolong maafkan aku oppa”. Ulang mika menekannkan permohonan maafnya, kini dia terisak menahan tangis yang sejak tadi bisa dia kendalikan. Tangannya membekap mulutnya kembali mencoba untuk meredam tangisnya sendiri. Yongbae yang melihat keadaan mika semakin tidak baik, hanya mampun mendekapnya kedalam rengkuhan pelukan mencoba untuk menenangkan mika.
Melihat apa yang terjadi diantara mika dan yong bae semakin membuat hyun seung geram dan menaikkan emosinya pada level tertinggi.

“Buat apa akau minta maaf mika, tidak seharusnya kau meminta maaf kepada laki-laki ini. Bahkana dialah yang seharusnya meminta maaf padanya”. Sentak jay bum.

Hyun seung sudah tidak tahan dengan semua ini. Dia beranjak dari duduknya, berdiri dan meninggalkan ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mika yang melihat kepergian hyun seung masih diam dia bimbang antara mengejarnya atau membiarkannya. Laki-laki itu sudah tak terlihat lagi dari pandangan mata semua orang namun mika tiba-tiba berdiri dan berlari mengejar hyun seung. “Oppa, Tunggu. Oppa”. Teriaknya agar hyun seung mendengar dan berhenti untuk menunggunya.

“Mika mau kemana kau”. Cegah jay bum. Namun seakan dia tidak mendengar teriakan kakaknya, dia terus berlari mengejar hyun seung. “Han mika berhenti”. Teriaknya sekali lagi. Namun mika tetap berlari tidak mengindahkan perintah kakaknya.

“Mika, jangan kejar dia”. Akhirnya jay bum bisa mencekal sebelah tangan kiri mika, dia menarik tangan mika agar wanita itu tidak terus berlari. “Lepaskan oppa, aku mohon”. Mika memelas di hadapan kakaknya.

“Aku bilang berhenti”. Teriak jay bum, namun mika tetap saja meronta-ronta agar terlepas dari genggaman kakaknya yag terasa kuat di pergelangan tangan kirinya. Wanita it uterus berteriak meminta untuk di lepaskan dan menangis.

“Han mika. Plakk!!”. Mika berhenti untuk melawan jay bum setelah lelaki itu menamparnya cukup keras. Tubuh mika ambruk, dia sudah tidak sanggup menopang beban tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat karena tangisnya. Dia meraung-raung menangis semakin keras. Beban yang selama ini di pikulnya semakin bertambah semenjak kehadiran hyun seung kembali. Dia sudah tidak tahan dengan semuanya. Melihat mika yang semakin kalut. Jay bum menarik mika ke dalam pelukannya, dai tidak tahan jika harus menyaksikan penderitaan mika selama ini.

“Lupakan dia, ada yang jauh lebih baik dari pada dia. Kau pantas untuk bahagian mika”. Ucap jay bum berusaha untuk menenangkan dan menyakinkan mika.

“Hyun seung, dia kembali oppa. Dia kembali untukku”. Mika berucap di sela-sela tangisnya. Bibirnya tak henti-hentinya menguvcapkan nama lelaki itu “hyun seung”. Jay bum mengeratkan pelukannya untuk m ika. Dia mengsat puncak kepala mika lembut. “Lupakan, lupakan dia. Dia tidak panatas untukmu”. Ulang jay bum.

Mika menggeleng, dia sangat yakin jika hyun seung kembali untuk dirinya. Dan mengetahui kenyataan itu hatinya semakin terasa perih sesak sekali di dadanya. Dia tak berhenti menangis. Sekali lagi dia meronta dari pelukan jay bum. “Aku harus mengejarnya oppa”. Namun secepat rontaan mika, secepat kilat juga jay bum mengunci tubuh wanita itu dalam pelukannya agar dia dtidak bisa kemana-mana lagi. Membiarkan mika meluapkan segala emosi dan tangis yang dia yakini selama ini mika pendam.

Menyaksikan kejadian yng sangat mengaharukan di hadapannya, ibu mika tidak bisa menahan tangisnya. Wanita paaruh baya itu juga menangis harus menyaksiskan penderitaan yang harus di alami anaknya. Tuan han yang mengerti dengan keadaan ini mencoba menenangkan istrinya dengan merangkul bahunya. Sedangkan yongbae, dia hanya bisa berdiri mematung di ujung pintu ruang tengah itu. Tidak pasti apa yang terlintas dalam pikirannya karena dia hanya diam sejak tadi menyaksikan segalanya dari mata nya sendiri. Dia tidak sanggup atau mungkin lebih tepatnya tidak tahu apa yang harus di perbuat.

Setelah sekian lama tangis mika meredam, namun itu belum menghentikannya menangis. Tubuhnya masih berguncang. “Yong bae, bawa mika kekamar”. Mendengar perintah jay bum, yong bae berjalan mendekat. Dia berjongkok untuk meraaih tubuh mika. Dibantunya mika agar berdiri. Wanita itu hanya menurut semua yang dilakukan oleh yong bae. Mika sudah tidak mempunyai kekuatan untuk berdiri bahkan untuk bertahan, melihat itu yongbae mengangkatnya dan menggendong agar membuat wanita itu semakin nyaman dan tidak perlu susah-susah untuk berjalan.

Setibanya di kamar, direbahkannya mika did atas tempat tidur. Yongbae menarik selimut dan menyelimutkan ke atas tubuh mika agar dai merasa lebih hangat. Di usapnya air mata yang terus mengalir di kedua mata mika. Dia membelai wajah mika lembut. “Istirahatlah, aku akan menjagamu disini”. Setelah mengucapkan kalimat itu yongbae mengecup kening mika lembut dan lama mencurahkan segala kassih sayangnya kepada mika agar wanita itu merasa lebih terlindungi.

Yongbae masih duduk di tepian tempat tidur mereka mencoba menenangkannya dengan segala tindakan bukan ucapan. Karena mika belum juga meredakan taangissnya, yang bisa dia lakukan hanya sekedar menggenggam sebelah tangan mika dan menepuk-nepuk bahu mika. Dia menatap mika iba namun juga syarat dengan kesedihan di setiap tatapannya. Betapa dia sangat mencintai wanita yang berada di hadapannya ini, namun dia tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan untuk mika.

oOo

TBC

Selasa, 14 Agustus 2012

(Fanfiction) Makes Me Loving You Part 2















 Author  : @deebee_vip

Cast : Han Mika, Dong yongbae
Jang hyun seung, Lee Hanna

Support Cast : Han Taeyang. Han Chaeri, Han Jay bum, Kwon Jiyong, Dongwoon

Makes me loving you part 1
 
Pagi ini aku terbangun lebih awal, aku tidak mungkin membiarkan yongbae oppa untuk bangun terlebih dahulu. Aku menatap wajah terlelapnya. Sungguh lekuk wajah yang sangat sempurna. Aku terus tersenyum menatap wajah itu. Mulai saat ini dengan dirinyalah akan kujalani kehidupan yang baru. Lalu bagaimana dengan perasaanku, jujur saya sampai saat inipun aku masih memikirkan hyunseung oppa. Aku tidak bisa begitu saja melupakannya. Tanpa terasa airmata ini menetes kembali, dengan cepat segera aku  menghapusnya. Tidak mungkin aku terlalu lama untuk terpuruk dalam kesedihan ini bukan. Aku bangun dari tempat tidur ini, segera saja aku bergegas kekamar mandi. Aku harus segera memasak untuk sarapan pagi kami.
30 menit aku berada didalam kamar mandi, dan akhirnya aku putuskan untuk keluar. Betapa terkejutnya aku tidak melihat sosok tubuh laki-laki itu. Aku bingung kemana yongbae oppa kapan dia bangun. Aku putuskan untuk keluar kamat.
Aku tidak mendapati sosoknya diruang tengah maupun di ruang tamu, apa mungkin oppa berada di dapur !!!
Oppa apa yang kau lakukan. Kapan kau bangun kenapa aku tidak tahu. Tanya mika bertubi-tubi.
Yongbae hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari mika.
“Aku bangun 10 menit yang lalu, dan aku tidak menemukanmu disisiku lalu aku mendengar suara gemericik air dalam kamar mandi, dan aku tahu pasti kau sedang mandi jadi aku pikir tidak ada salahnya jika aku menyiapkan sarapan untuk kita berdua”
Lebih baik sekarang oppa mandi saja, biar aku yang menyiapkan sarapannya. Aku tidak mungkin membiarkan oppa memasak bukan.
Memangnya kenapa ? aku sudah terbiasa menyiapkan makanan ku sendiri.
Tidak oppa jawab mika tegas. Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa sekarang kau adalah suamiku dan sudah menjadi kewajibanku untuk melayanimu. Lebih baik sekarang oppa cepat mandi saja.
“Baiklah nyonya dong mika”. yongbae menjawab pertanyaan mika dengan senyuman dan dia bergegas kekamarnya.

"Apa makanannya sudah siap, tanya yongbae."
"Sebentar lagi oppa."
“Kau memasak apa, sepertinya sejak tadi aku mencium bau harus dari sini. Apa kau membuat sarapan yang special untuk kita hari ini”.
Yongbae oppa bertanya begitu gembira setibanya di meja makan, aku tahu sebenarnya dia ingin sekali meraskan masakanku. Aku tahu itu dari caranya berbicara dan juga mimik wajahnya yang menunjukkan rasa penasaran.  Pagi ini aku hanya membuatkan sandwich dan secangkir susu hangat, aku harap yongbae oppa akan menyukainya.
“Sudah siap oppa, aku hanya memasak ini untuk sarapan kita pagi ini, maaf aku tidak bisa membuatkan yang lebih”.
Kau membuat sandwich!!! bisa aku cicipi sekarang, tanya yongbae antusias.
“Silahkan oppa. Jawab mika dengan tersenyum”.
Aku mencoba untuk mencicipi makanan yang telah disiapkan oleh mika, rasanya tidak buruk untuk gadis seusianya. Dan yang aku tahu segala kebutuhannya selalu terpenuhi tanpa dia harus menyiapkan semuanya sendiri. Aku tersenyum menatap mika yang sedang menapaku seolah-olah bertanya apakah masakan yang telah dibuatnya enak atau tidak.
“enak, hanya itu jawabanku dengan senyuman”
Sebuah senyuman terlukis dari bibir manisnya setelah mendengar satu kata dari ku. Aku harap dia benar-benar bahagia.
“kalau begitu habiskan, kata mika antusias”
30 menit sudah kami menikmati  sarapan pertama kami. Ada satu hal yang aku katakan padanya. Aku tidak tahu apakah ini tepat atau tidak tapi aku harus mengatakannya segera mungkin karena semua ini demi dirinya juga.
“Mika bagaimana kalau hari ini kita memeriksakan kandungan ke dokter, bukankah lebih cepat akan lebih baik untukmu dan juga untuk bayimu.
Aku terdiam mendengar pertanyaan dari yongbae oppa. Dia mengajakku untuk memeriksakan kandungan ini. Apa yang harus aku lakukan bahkan pernikahanku baru satu hari yang lalu. Apa yang akan dikatakan semua orang jika mereka semua tahu. Dan jika ayah tahu pasti beliau akan sangat marah padaku.
“Apa maksud oppa, kita tidk mungkin memeriksakannya oppa, ini masih 1 bulan. Dan kemarin baru saja kita menikah. Apa semuanya akan baik-baik saja”
Kau tahu dokter kwon jiyong kan, dia adalah temanku dan juga seorang dokter specialis kandungan, aku bisa mengatakan padanya untuk merahasiakan semuanya. Kau bisa tenang sekarang.
“Tidak oppa, tidak untuk sekarang. Biar saja dulu semua seperti ini. Aku tahu kau sangat mengkhawatirkanku, jika jika kita gegabah dalam menjalani semuanya. Tidak akan baik untuk kita semuanya”
Baiklah kalau itu maunmu. Lalu hari ini kemana kita akan pergi. Aku tidak tahu kapan mendapatkan libur lagi selain hari ini. Kau tahukan aku bisa saja setiap saat di hubungi oleh rumah sakit untuk datang kapanpun jika ada keadaan darurat.
“kita bisa kerumah orangtua oppa, kebetulah aku belum begitu mengenal mereka. Bagaimana ??”
Baiklah kalau begitu. Kau siap-siap saja terlebih dahulu. Biar aku yang membeskan semuanya
“Tidak, aku yang akan membereskan semuanya. Lebih baik sekarang oppa saja yang bersiap-siap”
Kau ini selalu saja membantah apa yang aku katakan. Baiklah aku ke kamar dahulu.
Yongbae meninggalkan ruang makan dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

Mika POV
Tidak terasa suidah 3 bulan aku menjalani kehidupan rumah tangga dengan yongbae oppa. Dia adalah sesosok  lelaki yang bertanggung jawab dan juga selalu ada saat aku membutuhkannya. Sampai saat ini kandunganku masih baik-baik saja. Dokter kwon menjadi dokterku sekarang setiap bulannya aku harus kontrok untuk memeriksakan bayi yang ada dalam perutku ini.
Hubunganku dengan yongbae oppa semakin hari juga semakin membaik dia tidak pernah memasakkan kehendaknya padaku. Namun ada saat-saat aku sangat membutuhkannya namun dia tidak ada disampingku. Setiap hari waktunya hanya dihabiskan dirumah sakit bahwa tidak jarang tengah malam oppa harus terbangun dan bergegas ke rumah sakit karena ada pasien yang dalam keadaan kritis. Bukan itu saja bahkan setiap hari minggu tak jarang kami menghabiskan waktu berada dirumah sakit, karena oppa harus standby disana.
Tepat 1 bulan yang lalu saat aku memeriksakan kandunganku tanpa diduga ayah mauk keruangan dokter kwon dan itu sangat membuat aku dan juga yongbae oppa terkejut. Dari situlah ayah tahu jika yongbae sudah mengetahui tentang kehamilan ini sejak pertemuan di restoran itu. Ayah bersujud dihadapan yongbae oppa. Beliau menangis dan juga meminta maaf karena telah melibatkan oppa kedalam masalah keluarga kami. Aku tidak bisa lagi membentung air mataku saat itu. Dan yang aku lakukan juga berlutut dihadapan yongbae oppa.
Yang membuat aku semakin menangis terharu adalah. Saat itulah aku mendengar pengakuan cinta dari seorang malaikat bernama Dong yongbae.
“Tolong jangan lakukan ini padaku ayah, anda tidak berhak untuk melakukan ini semua. Aku melakukannya atas kemauanku sendiri juga karena aku mencintai putrimu Han Mika”
Saat itu ayah semakin menangiss tersedu dan memeluk yongbae oppa. Berkali-kali ayah mengucapkan terima kasih dan berulang-ulang kali pula ayah mengucapkan kata maaf. Aku hanya mampu menahan tangisku saat itu. Bahkan dokter kwon yang menyaksikan kejadian itu turut menitikan air matanya dan tak lama setelah dia keluar dari ruangan membiarkan kami untuk menyelesaikan masalah yang ada.
Sejak saat itu aku putuskan untuk memulai melupakan masa laluku. Bahkan sampai saat inipun aku tidak tahu keberadaan hyunseung dan kabarnyapun aku tidak tahu. Biarlah dia menjadi kenangan terindah dalam hidupku yang akan menjadi memori-memori yang mampu aku jadikan cerita kelak untuk anak-anakku. Dan sejak saat itu pula aku memutuskan untuk menerima cinta dari yongbae oppa.
Aku masih ingat dengan jelas apa yang dia katakan saat kami kembali dari rumah orang tuanya.
“Kau bisa memulai semuanya dari nol, jika hatimu masis menuju kearahnya maka jangan mencoba untuk menuju ke arahku juga. Kau harus menentukan jalan mana yang akan pilih. Tetap bertahan dengan masalalumu atau kau menghadapi masa depanmu sekarang denganku. Aku akan menunggumu hingga kaau benar-benar siap untuk menerima semua perasaanku dan melupakan segalanya tentang hyunseung. Aku tidak mau kau menerimaku tetapi sebagian hatimu masih bersamanya. Karena itu hanya akan membuat aku sakit”
Saat itu hanya kata maaf dan terima kasih yang mampu aku katakan padanya. Aku tidak tahu kenapa ada seorang yang berhati malaikat sepertinya. Aku sungguh berterima kasih kepada tuhan karena telah mengirimkanku seorang sseperti yongbae oppa.

7 bulan kemudian.
Yongbae POV
Hari ini adalah hari sabtu namun pekerjaanku masih belum selesai juga. Jadwal operasiku baru akan selesai jam 7 malam nanti. Sebenarnya aku sudah tidak sabar untuk pulang. Karena mika bilang sudah menyiapkan makan malam yang special untuk kami berdua.
“Maaf dokter dong, apa kau buru-buru untuk pulang aku tahu mika sekarang pasti sedang menunggumu dirumah. Aku bisa mengubah jadwal operasi terakhirmu dengan dokter anathyesi lain jika kau mau”.
Aku tersenyum mendengar penawaran dari suster Lee hanna dia adalah asistenku saat operasi dilakukan ataupun saat-saat ada pasien dalam keadaan kritis, dan juga dia adalah sahabat sejak kecil mika. Dia adalah putri tunggal lee ahjushi sopir kepercayaan dokter han sejak dulu. “Maaf, tidak baik untuk mengganti jadwal seenaknya saja. Aku akan menyelesaikannya. Dan kau tenang saja suster lee mika sudah mengerti dengan keadaan ini, jawabku dengan masih tersenyum”.
“Baiklah dokter dong aku akan menyiapkan operasi yang selanjutnya, masih ada 3 operasi lagi kuharap kau masih tetap bersemangat untuk melakukannya”
Aku hanya bisa tertawa mendengar pengakuan jujur dari suster Lee. “Baiklah aku akan melakukan semuanya dengan benar dan semangat agar aku nanti cepat bertemu dengan mika”.

Saat ini aku duduk di subuah sudut ssofa depan tv menunggu yongbae oppa pulang. Sudah lebih dari satu jam aku menunggu oppa, bukannya tadi dia bilang jam 8 sudah dalam perjalanan menuju rumah lalu kenapa sampai sekarang belum juga sampai dirumah, ini sudah jam 9 malam. Aku mulai khawatir, sms pun tidak dia balas. Telephoin juga tidak diangkatnya.
Tidak lama setelah itu terdengar bel berbunyi. Mungkinkah itu yongbae oppa. Aku ssegera bergegas menuju ke arah pintu. Dan betapa terkejutnya aku setelah membuka pintun dihadapanku sekarang ada 1 karangan bunga mawar merah yang sangat cantik dan oppa tersenyum dengan manisnya menggenggam erat bunga itu.
“Maaf membuatmu menunggu terlalu lama”
Itulah kalimat yang terucap oleh bibir manisnya. Aku tersenyum dan berlari kearah yongbae oppa, aku memeluknya dan berkata “terima kasih sudah pulang dengan selamat”
Apa kau akan memelukku terus disini apa kau tidak malu jika ada tetangga yang akan mengetahui semua ini, dan apa kau tidak suka dengan bunga ini kenap kau membiarkanku menggenggamnya terlalu lama. Cerocos yongbae.
Ehhhhh.........maafkan aku oppa terima kasih bunganya aku sangat menyukainya. Apa oppa lelah, ayo kita masuk aku sudah menyiapkan makan malam untuk kiita. Tapi lebih baik sekarang oppa membersihkan diri dulu baru kita makan malam.
“Kau cerewet sekali nyonya dong mika, apa kau sudah menyiapkan air hangat untukku”
Semua sudah aku siapkan oppa. Maka dari itu lebih baik sekarang oppa mandi dulu. Aku membukakan jas yang dikenakannya, dan tak lupa juga aku membuka dasi yang terlihat melilit dileheernya. “Nah sekarang oppa bisa mandi biar aku siapkan pakaian dulu”
Yongbae oppa hanya tersenyum dan meninggalkanku disudut kamar dan pergi ke arah kamar mandi. Aku sangat senang dan bahagian dengan kehadirannya. Dia benar-benar tidak pernah memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tidak aku suka.
------------------------------------dinner skip-----------------------------------------------------------------------------
Saat in ini kami sedang berbaring di tempat tidur memandang langi-langit atap kamar kami. Oppa dengan manjanya memeluk pinggangku dengan erat dan menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku rasakan irama nafasnya yang bergerak teratur aku tahu pasti dia sangat lelah dengan semua jadwal operasi yang ada dirumah sakit.
"Oppa apa kau bahagia, tanyaku???. Apa kau tidak lelah dengan semua pekerjaan ini."

"Tentu saja aku lelah. Tapi dengan melihat pasiem dapat segera sembuh dan kembali dengan keluarganya. itu sungguh membuatku bahagia. Ada rasa kepuasan tersendiri dalam hati ini. Kau tahu aku sangat senang jika mereka pasien-pasien bisa mengucapkan terima kasih kepada kami." Jawabku atas pertanyaan mika.
"Kau memang hebat oppa. Pantas saja ayah selalu saja memujimu. Bahkan aku jarang sekali mendengar ayah memuji Bum Oppa seperti beliau memujimu."
"Dan seharusnya, kau bangga mempunyai suami sekeren dan sehebat aku". jawabku, yang mampu membuat kami tertawa bersama. 

Mika POV
Sampai saat ini kehamilanku sudah memasuki usia 8 bulan. Berat badan dan ukuran tubuhkupun menjadi bertambah. Aku pernah mengeluh dengan keadaanku yang sekarang, namun dengan telaten dan sabarnya yongbae oppa memberikan nasehat. Bahwa semua itu memang sudah layak terjadi pada wanita yang sedang hamil.
Saat ini aku sedang berdiri sendiri di balkon kamar kami. Kurasakan hembusan angin semilir yang menerpa wajahku sejak tadi. Kepejamkan mataku sejenak. Sungguh betapa beruntungnya aku. Terkadang aku masih saja teringat dengan hyunseung, bagaimana kabarnya sekarang ini. Dan jika aku ingat tentang dia aku akan sangat menjadi pemurung. Jika boleh jujur sampai sekarang aku masih mengharapkan hyunseung akan kembali. Namun sepertinya harapanku sia-sia saja. Seminggu yang lalu aku bertemu dengan Dongwoon Oppa dia adalah sahabat dekat dari hyunseung. Namun dia juga tidak mengetahui keberadaannya. Dengan perlahan aku mencoba untuk melupakan segala sesuatu tentang hyunseung, yah aku harus mencobanya.
Aku tersentak kaget, sat tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar diperutku/ aku menoleh dan mendapati yongbae oppa memelukku dari belakang. Matanya terpejam dan kepalanya dia sandarkan di bahu kananku. Aku tersenyum dan membelai kedua tangannya yang melingkar erat diperutku.
“Kau sedang memikirkan apa, kenapa lama sekali nerdiri di balkon nanti kau bisa masuk angin:. Tanya yongbae Oppa.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari dia. “Tidak ada oppa, aku hanya ingin merasakan angin yang ada disini saja”. Jawabku bohong.
“Benarkah, bagaimana jika kita oergi keluar dan berbelanja keperluan baby?”
Seketika itu juga aku berbalik menghadap yongbae oppa. “Apa oppa tidak ada jadwal, kemarin aku pergi dengan hanna tapi kerena tidak bisa membawa barang yang terlalu banyak sehingga aku hanya membeli sedikit pakaian”. Jawabku.
“Ini hari minggu mika, dan semoga saja tidak ada panggilan darurat dari rumah sakit. Masuklah dan siap-siap. Aku akan menunggumu.”
Aku mengangguk dan sebelum masuk kedalam oppa mencium keningku lembut.

Kau sudah siap ayo kita berangkat sekarang
“Baik, Oppa”
Aku membukakan pintu samping mobil untuk mika. Dia terlihat agak gemukan sekarang dan perutnyapun terlihat besar. Terkadang dia kesusuhan untuk berjalan. Tapi aku memberitahukan dia untuk tidak malas dan manja. Karena semua itu juga demi dirinya. Jika dia bermalas-malasan maka itu akan mempersulit proses persalinan. Sebaliknya dia harus banyak olahraga ringan dan juga senan untuk ibu hamil untuk mempermudah proses persalinan,
Aku mengemudikan mobilku dengan suka cita menuju ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli barang-barang keperluan untuk bayi kami nanti. Sesekali aku menatap Mika dari spion kaca depan. Aku lihat senyum tak pernah lepas dari bibirnya dan sesekali pula dia akan membelai perutnya sendiri.
Baru setengah perjalanan tiba-tiba handphoneku berbunyi.
Aku begitu terkejut setelah mendapatkan panggilan darurat dari suster
cha. Kenapa disaat-saat seperti ini harus ada pasien kritis. Aku
menatap mika dengan pandangan tak yakin, aku tahu dia masih ingin
menghabiskan hari liburan ini bersamaku. Tapi tugasku sebagai seorang
dokterlah yang jauh lebih penting.

"Mika, maafkan aku ada panggilan darurat dari rumah sakit. Aku tidak
bisa menemanimu belanja. Aku harus putar balik sekarang. Ada pasien
kritis dan dia membutuhkan pertolongan segera".

"Tidak apa oppa, kita masih bisa belanja bersama lain kali bukan. Aku
akan menemani oppa kerumah sakit. Tidak mungkin aku pulang, dirumah
sangat membosankan. Tapi pelan-pelan saja oppa mengemudikan mobilnya,
aku takut. Jawabku dengan bibis sedikit aku tekuk,bagaimana tidak
setelah mendapatkan telpon dari rumah sakit oppa menyetir seperti
orang kesetanan".

Aku hanya tersenyum mendengar jawaban dari mika. Dia selalu saja
seperti tidak pernah protes dengan semua jadwal dadakanku. Mungkin dia
juga sudah terbiasa sebelumnya mengingat bahwa ayah, ibu, serta
kakaknya adalah seorang dokter. Aku mulai menurunku kecepatan mobilku,
karena tidak mungkin aku membiarkan mika ketakutan dengan cara
mengemudiku.

Tidak sampai 15 menit aku sudah sampai di Mother Hospital. Aku turun
di depan pintu ugd, mengingat bahwa pasien itu kritis masih diruang
ugd. Sebelum aku membukakan pintu mobil, sudah ada petugas yang
bersiaga membukakan pintu mobil ini. Mungkin dia mengetahui ada
keadaan darurat di dalam ugd sehingga dengan sopannya dia meminta
kunci mobilku dan akan memakirkannya. Aku tersenyum kepada petugas
itu.

"oya, sebelum kau memakirkan mobil ini. Bisakah aku pinta tolong kau
antarkan istriku ke ruang tunggu, dia sedang hamil sekarang"

"Baik dokter yongbae. Akan saya laksanakan."
Dengan segera aku bergegas berlari menuju keruang ugd. Setelah membuka pintu
terluar dari ruangan ini aku sudah disambut oleh suster cha. Dengan
cekatan dan trampil suster cha membuka jas dan juga dasiku, setelah
itu aku mencuci tanganku. Tidak butuh waktu yang terlalu lama untuk
mencuci tangan, setelah itu suster cha sudah siap dengan pakaian dalam
untuk tindakan ditangannya. Kemudian pakaian itu dia kenakan
ditubuhku.

"apa semua berjalan dengan rencana bagaimana keada'an pasien itu,
tanyaku kepada suster cha"

"pasien sudah ditangani oleh tim dokter, dokter ha dan suster lee yang
memimpin tim tersebut. Semua laporan tentang pasien sudah saya
siapkan. Anda tinggal melakukan pertolongan sekaran"
Setelah aku memakai pakaian dalam untuk tindakan dan mencuci tanganku. Segera aku menuju ke tempat dimana sedang dilakukan pertolongan pada pasien tersebut. Nampak olehku 1 tim yang sedang berusaha untuk menolong pasien itu. Tidak lebih dari 9 orang sedang berusaha untuk melakukan CPR. Di sisi sebelah kanan ada doter ha yang bersiap dengan Defibrilasi disampingnya juga yang bertugas untuk memeriksa irama Ekg dalam monitor. Di sisi sebelah kanan ada 5 orang yang bertugas secara bergantian untuk melakukan pijat jantung. 1 orang lagi berdiri disamping dokter ha yang bertugas mencatat segala kebutuhan obat-obatan saat dilakukan pertolongan. Dan dibagian bawah passien ada 1 orang yang bertugas untuk mengatur posisi shock. Selain itu ada satu lagi seorang yang bertugas untuk mencatat segala pertolongan CPR dari awal sampai akhir.

Aku langsung menuju kearah suster lee. Saat ini dia sedang memberikan bantuan pernapasan dan berdiri di atas passien. Suster cha menghampiriku dan meemberikan sepasang handskuen untuk aku pakai. Dengan cepat aku memberikan kedua tanganku ke arah suster cha dan dengan sigap dia memakaikan handscuen tersebut di tanganku.

Aku langsung mengambil alih posisi suster lee di atas pasien dekat kepala untuk memberikan bantuan pernapasan. Aku melihat ke arah dokter ha dia nampak tegang dan juga panik.

“Berapa kali kalian sudah memberikan adrenalin sampai saat ini, tanyaku kepada suster lee.”

“2 kali dokter, adrenalin yang terakhir kami masukkan 1 menit yang lalu”

“Catat semua apa yang kalian lakukan termasuk cairan dan obat-obatan yang telah diberikan, dan segera siapkan intubasi sekarang. Perintahku kepada suster lee”.

“Sedang disiapkan dokter, jawabnya”.
“Dokter ha periksa elektroda apakah sudah terpasang dengan benar atau belum. Cek irama Ekg dan setelah itu cek nadi karotis, perintahku kepada dokter ha.”
“Semua elektroda terpasang dengan benar dok, irama asistole. Dan nadi karotis tidak teraba”
“Lanjutkan memijat jantung pasien ini, aku akan segera memasangkan intubasi”
Dengan cepat suster lee menyiapkan segala peralatan yang diperlukan untuk pemasangan intubasi. Suster lee berikan Orofaring tube. Aku segera memasangkan alat tersebut ke dalam mulut untuk mencegah lidah yang jatuh kebelakang dan juga untuk membantu membuka jalan napas. Setelah itu aku memasang alat faringoskop, tak lupa aku melepas alat orofaring tersebut. Aku memasukkan alat tersebut melalui mulut pasien. Tak lupa terlebih dahulu menyalakan lampu kecil yang terletak di ujung alat tersebut agar lebih mudah untuk melihat trakea. Dan akhirnya aku temukan trakea tersebut, aku meminta endo trakea kepada suster lee. Alat inilah yang akan membantu pasien untuk bernapas secarta spontan walaupun pasien itu tidak bisa bernapas secara spontan namun dengan adanya alat ini akan membantu.
Cepat sambungkan dengan jackson rees beri aliran oksigen 8 liter 100%. Rapikan dan pantau terus irama pernapasannya. Aku bertanya kepadas dokter ha setelah pemasangan intubasi ini irama apa yang tergambar dalam monitor ekg.
“Fentrikel Vibrilasi dokter”
Lakukan Dc-shock sekarang. Ces dengan kekuatan 360 joule. Perintahku kepada dokter ha.
“sekarang akan dilakukan Dc-shock, aku letakkan defib di sebelah kanan sternum dan sebelah kiri dada bagian afek. Hentikan memberikan bantuan pernapasan sekarang. Bawah bebas, atas bebas, samping, bebas, saya bebas”.
Semua bebas jawab kami serempak
Dan dokter ha langsung melakukan Dc-shock. Pasien nampak seperti terlonjak saat dilakukan shock. Aku terus melihat jalannya CPR ini. Aku melihat setiap orang sudah melaksanakan tugasnya masing-masing.
“Liat irama jantung di monitor dan raba nadi karotisnya apakah sudah teraba atau belum. Perintahku lagi”.
“Irama Ventrikel Takikardi dok, dan nadi sudah teraba”
“Bagus, sekarang masukkan amiodaron 150 ml. Dan cek keadaan pasien terus menerus secara berkala, jika irama jantung sudah normal dan pasien dapat bernafas kembali secara spontan, hentikan pijat jantung. Dan berikan oksigen Mask 100%”. Antar pasien ke ruang icu segera mungkin. Laporkan semua keadaan dan tindakan ini dari awal sampai akhir padaku, aku tunggu di ruang dokter.”
Setelah selesai memberikan pertolongan aku langsung menuju ke ruang dokter tak lupa aku melepas handscoen yang aku pakai dan meembuangnya ke tempah sampah medis. Setelah itu aku mencuci tanganku.
Aku duduk di kursi ruang dokter sekarang rasanya, seluruh tubuhku lemas. Padahal hal tadi belum seberapa. Namun bisa menguras tenagaku. Aku melihat suster lee masuk kedalam ruangan ini.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada pasien tersebut suster lee. Kenapa sampai pada kondisi seperti ini”. Tanyaku.
“Pasien datang dalam keadaan tidak sadar dokter. Setelah dilakukan anamnese tiba-tiba pasien tidak bernapas namun jantung masih berdetak. Karena itulah suster cha langsung menghubungi dokter tadi. Karena hanya Dokter yang bersiap siaga jika ada panggilan darurat pada hari minggu.”
“Apa kau membawa laporan pasien tersebut sekarang aku akan melihatnya. Jangan lupa untuk pemeriksaan penunjangnya:.
“Sudah saya siapkan Dokter, anda bisa melihatnya”.
Suster Lee memberikan laporan tersebut padaku.

Mika POV
Setelah turun dari mobil yongbae oppa langsung berlari menuju ruang UGD, aku tahu ini adalah keadaan gawat untuk pasien terseebut. Aku menoleh ke arah samping ada satu petugas yang teersenyum padaku dan membukakan pintu mobil.
“Silahkan nyonya Dong, saya akan mengantarkan anda ke ruang tunggu”.
“Terima kasih paman, tapi anda tidak perlu repot-reepot. Saya bisa melakukannya sendiri”
“Tidak nyonya ini sudah menjadi perintah dokter yongbae jadi saya harus melaksanakannya.”
Aku hanya tersenyum mendengar penuturan jujur petugas ini. Aku berjalan meninggalkan mobil ini terlebih dahulu di ikuti petugas itu. Dan lihat dia langsung mengambil alih tas yang sedang aku bawa. Betapa sigap dan bertanggung jawabnya dia. Sebenarnya aku ragu untuk memberikannya tapi dia tersenyum dan dan mengatakan bahwa semua akan baik-naik saja. Sehingga aku menyerahkan tas yang sedang aku bawa.
Setelah sampai di ruang tunggu. Aku mengambil tempat duduk paling depan. Petugas itu memberikan tasku dan meninggalkanku untuk memarkirkan mobil yongbae oppa. Setiap dokter, petugas atau suster yang lewat pasti mereka akan menyapaku dan membungkukkan badannya. Sebenarnya aku meresa tidak enak untuk hal yang mereka lakukan namun apa boleh buat mereka semua tahu bahwa aku adalah putri kedua dari direktur rumah sakit ini dan juga sekarang aku berstatus istri dari dokter dong yongbae.

Cukup lama aku menunggu disini hampir 3o menit apa mereka sudah selesai. Aku ingin sekali melihat kedalam ruangan itu. Tapi di atas pintu massuk ada lampu merah yang menyala yang menandakan bahwa tidak ada yang boleh masuk. Sekarang sudah jam 1 siang. Bukankah ssudah waktunya untuk makan siang. Lebih baik aku keluar mencari makanan untuk oppa pasti dia lelah.
Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit ini untuk mencari rumah makan disekitar rumah sakit. Cukup lama aku berjalan untuk mencari rumah makan, dan akhirnya aku menemukannya. Tapi sayang rumah makan itu berada di simpang jalan sehingga aku harus menyebrang untuk ke tempat itu.
Karena aku terlalu semangat karena telah menemukan tempat itu aku tidak menyadari langkahku semakit cepat dan dan ku sadari pula aku melangkah terlalu lebar dan melebihi troroar sehingga aku terjatuh.
Apa yang sedang terjadi kenapa aku bisa terjatuh. Kenapa perutku terasa sakit, terang saja aku terjatuh dengan posisi terngkurap dengan perut di bawah. Benar-benar sakit yang tidak aku bisa jabarkan. Aku meringis menahan sakit yang ada di perutku. Aku mencoba untuk beerdiri tapi seketika itu juga pandanganku mulai kabur. Dengan susag payah aku mencoba untuk berdiri, baru saja aku ingin melangkahkan kakiku aku melihat darah mengalir diantara selangkangan kakiku. Tidak, tidak mungkin. Ini tidak boleh terjadi. Oppa tolong aku. Ayah, ibu tolong aku. Rasanya aku siudah tidak bisa menahan semuanya. Rasa sakit yang ada bercampur dengan ketakutanku akan keadaan kandunganku. Aku mencoba untuk terus berjalan kembali menuju rumah sakit. Aku mohon bertahanlah sayang. Aku bicara sendiri dengan anak yang ada dalamm kandunganku. Ku pegang perutku karena aku sudah tidak bisa menahan kesakitan ini.
Tuhan tolong selamatkan aku dan juga anak ini, aku mohon padamu tuhan kuatkan aku untuk segera sampai dirumah sakit. Aku sudah tidak kuat untuk beerjalan namun aku harus tetap kuat. Seapapun yang melihatku tolong bantu aku....
Berapa lama aku berjalan kenapa rasa sakit ini semakin kuat aku rasakan. Sebentar lagi, ku mohon sebentar lagi bangunan rumah sakit itu sudah terlihata olehku. Aku terus berjalan, namun kakiku sudah tidak bisa untuk berjalan terlalu jauh lagi. Aku tidak kuat dan pandanganku semakin kabur. Aku tidak tahu apa yang terjadi seterusnya yang aku ingat ada satu orang yang berlari menghampiriku, setelah itu ku rasakan semuanya gelap.

Nampak seorang petugas dari rumah sakit itu yang sedang berjaga di depan lobi. Dia melihat seorang wanita yang berjalan terseok-seok menuju rumah sakit. Dan baru dia sadari bahwa wanita itu adalah nyunya Dong mika sekitaa itu juga petugas berteriak untuk suster yang berjaga di luar UGD untuk meengambil Brangkat. Dengan segera dia berlari ke arah mika untuk menolongnya. Dan setelah tiba ti tempat mika terbaring tidak berdaya. Petugas itu barun menyadari bahwa mika pingsan dengan banyak darah yang keluar dari sela-sela kakinya.
Dengan cekatat petugas itu mengangkat mika dan berlari menuju UGD di depan UGD sudah bersiap petugas yang akan menolong mika. Tanpa menunggu banyak waktu mika langsung dibawa ke ruang gawat darurat.
“Apa yang sedang terjadi pasien dengan kassus apa sekarang kenapa semua terlihat panik, tanya suster cha dari ruang UGD”
“Maafkan kami suster Cha sepertinya Nyonya Mika dalam keadaan gawat saya menemukannya dalam keadaan pingsan dan juga banyak darah yang keluar dari selangkangannya, jawab petugas itu..”
“Apa ???? Nyonya mika cepat kau bawa masuk dalam kamar operasi UGD, dan cepat hubungi dokter Kwon Jiyong minta dia untuk segera datang ke rumah sakit katakan, bahwa Mika dalam keadaan gawat saat ini.”
Suster Cha langsung berlari menuju ruang dokter. Dalam pikirannya dia harus secepatnya untuk memberitahukan keadaan mika kepada dokter yongbae.
“Maaf sayamengganggu dokter tapi ada hal yang penting yang harus saya katakan.”
“baiklah, katakan”
“Sekarang Nyonya mika sedang berada di Ruang operasi UGD, dia mengalami perdarahan”
“Apa yang baru saja kau katakan, mika perdarahan bagaimana mungkin. Kenapa kau baru memberitahukanku sekarang!!!”
Yongbae langsung berlari ke ruang itu untuk memastikan keadaan mika. Dan betapa terkejutnya dia mendapatiu mika terbaring tak berdaya dengan darah yang sudah mengalir terlalu banyak dari sela-sela kakinya.
“Bagaimana keadaannya, suster Lee”
“sepertinya mika harus segera di operasi, karena perdarahannya terlalu banyak aku takut akan terjadi sesuatu dengan bayi yang dikandungnya.”
“Baiklah siapkan semuanya, apa kau sudah menghubungi dokter Kwon?”
“Dokter Kwon dan dokter Oh sedang dalam perjalani kesini”.
“Kenapa harus dokter Oh, aku bisa mendampingi Dokter Kwon untuk melakukan operasi ini”
“Aku tidak bisa membiarkan kau mendampingi dokter Kwon untuk melakukan Operasi Mika bagaimanapun juga kau adalah suaminya, aku tidak yakin kau bisa melakukannya dengan benar. Aku tahu kemampuanmu tapi akan lebih baik jika Dokter Anasthesi yang mendampingi dokter Kwon adalah Dokter Kwon. Dan untuk sekarang lebih baik anda berada diluar dok biar kami lebih leluasa menyiapkan untuk proses operasi ini.”
“Apa kau sekarang berusaha untuk memerintahkanku, Suster Lee. Teriak yongbae emosi.”
“Dalam protap rumah sakit, saya berhak untuk meengusir anda keluar karena anda bukanlah doketr yang menangani mika. Dan dokter Kwon setuju bila Dokter Oh yang akan mendampinginya. Jadi silahkan anda tunggu di luart sekarang.”
“Kau benar-benar. Apa kau lupa dia adalah istriku. Apa kau tega membiarkan aku melihat dia menderita seperti itu. Kau sahabatnya sejak kecil Suster lee”
“Saya hanya melaksanakan tugas sesuai dengan Protab Rumah sakit. Dan saya tahu dan ingat betul bahwa anda suami dari mika, namun dalam posisi ini anda harus menunggu mika di luar. Percayakan semua kepada kami. Kami yang akan menolong mika.
Dengan perasaan penuh emosi dan juga kekhawatiran akhirnya yongbae meeninggalkan ruangan tersebut dan memilih untuk menunggu di luar.


Aku berusaha untuk tenang. Segera aku menghubungi ayah dan ibu untuk memberi tahu keadaan mika sekarang ini. Mereka sangat panik setelah mengetahui keadaan mika. Dan aku juga tak lupa untuk memberitahukan ibuku. Yah bagaimanapun juga beliau harus tahu.
Aku hanya mampu duduk terdiam ddikursi menunggu mika yang ada didalam. Dari kejauhan aku melihat Kwon jiyong dan Dokter Oh yang berlari menuju Ruangan itu. Mereka berhenti sebentar dan meneloh kepadaku. Aku tidak bisa menyembunyikan wajah khawaatirku. Kwon jiyong mengangguk padaku dan tersenyum kemudian dia langsung masuk kedalam. Sedangkan dokter Oh menghampiriku dan dengan tenang berkata “aku akan menolongnya dengan kemampuanku juga tim yang akan mengoperasi dia, kau tenanglah dan berdoa semoga semua lancar.” Dia tersenyum dan berbalik untuk segera menuju ruang operasi.
Aku mempercayakan semuanya nyawa  mika dan juga nyawa bayi yang di kandungnya kepada mereka. Aku hanya bisa berdoa kepada tuhan., semua dia melindungi mereka semua.
Tak lama setelah itu ayah dan ibu datang. Ibu sudah menangis mendengar keadaan Mika. Beliau tidak percaya kenapa semua bisa terjadi. Dan aku hanya menunduk bersalah karena tidak bisa melindungi mika bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana kejadian itu bermula. Sedangkan ayah hanya diam memeluk ibu dan menenangkannya.
Hampir 30 menit kami menunggu proses operasi  itu. Dan tak lema setelah itu aku melihat suster lee keluar.
“Aku akan menyampaikan keadaan mika dan juga bayinya, bayi mika lahir dengan selamat namun karena usia kehamilannya belum cukup dan dia terlahir dengan asfiksia sedang sehingga bayi itu harus di incubator. Selamat Dokter anak anda perempuan. Tapib sampai saat ini dokter Kwon danm Dokter Oh sedang berusaha untuk meenyelamatkan Mika, karena terlalu banyak perdarahan yang dia alami keadaannya sangat lemah. Hanya itu yang bisa saya katakan. Saya harus segera kembali ke dalam sekarang”.
“Terimaa kasih suster Lee, tolong upayakan yang terbaik untuk anak kami.”
“Baik dokter han”
Setelah itu suster lee masuk kembali ke dalam ruang operai. Dan ibu tak henti-hentinya menangis mendengar keadaan bayi itu dan juga Mika. Kenapa semua ini harus terjadi tidak cukupkah penderitaan yang di alami mika selama ini. Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam dan menunduk lesu. Ayah menghampiriku dan menepuk punggung kananku, beliau berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Sudah 1 jam lebih kami menunggu namun belum juga ada tanda-tanda apakah operasi tersebut berhasil atau tidak.
Aku semakin cemas menunggu, aku sudah hampir masuk kedalam ruangan itu namun ayah mampu menahanku. Dan kembali aku hany bisa pasrah.
Dan tak lama setelah itu Kwon jiyong keluar.
“Maafkan kami karena terlalu lama. Operasi berhasil, namun kami belum bisa memastikan keadaan mika. Untuk saat ini dia masih kritis dan akan segera kami pindahkan ke RR. Untuk sampai saat ini keadaannya masih stabil. Dan untuk bayi mika kami sudah memindahkannya ke ruang PICU.”
Ayah nampak berjalan ke arah Dokter Kwon dan memeluknya serta berulang-ulanng kali mengucapkan terima kassih. Sedangkan ibu dia menatapkan dan menghampiriku, beliau memelukku dan mengucapkan selamat. Aku tak mampu laagi membendung air mata yang sudah sejak tadi aku tahan.
Sudah lewat dari 3 hari setelah operasi itu tapi mika belum juga sadar. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan. Setiap malam aku selalu pergi ke gereja untuk minta kepada tuhan demi kesembuhan mika. Sedangkan keadaan bayi kami relatif stabil walaupun sekarang dia tetap harus berada di inkubator.
Sekarang mika dirawat di ICU tidak lagi di RR. Aku menatap wajahnya yang semakin hari semakin pucat. Bibirnya kering tubuhnya juga terasa dingin. Aku menatap iba tubuh mika, di sekujur tubuhnya terdapat alat-alat bantu untuk kesembuhannya. Elektroda maih terpasang ditubuhnya. Selang infus, masker oksigen, selang kateter, NGT. Aku tidak kuat jika harus membiarkannya seperti ini lebih lama lagi. Perlahan ku genggam tangannya yang masih saja terasa dingin.
Aku duduk dikursi sebelah tempat tidur dimana mika berbaring sekarang. Ku pejamkan mataku. Aku mohon Mika bangunlah apa kau tidak inginn melihat bayi kita. Dia sangat cantik sepertimu. Dia menunggumu. Kau haruss kuat dan juga segera bangun. Karena itu juga akan menjadi ssumber kekuatan bayi kita.

Kenapa semua tubuhku terasa lemah sekali. Dan juga aku merasa pegal-pegal di sekujur tubuhku. Dengan perlahan aku membuka mataku. Dimana ini kenapa tubuhku terpasang alat-alat medis mungkinkah aku berada di rumah sakit sekarang. Dan kenapa sebelah tanganku terasa berat. Setelah aku berusaha untuk melihatnya ternyata yongbae oppa sedang menggenggam tanganku dan dia tertidur dengan posisi duduk seperti itu. Apa tidak capek?
“Oppa...panggilku lirih”
“Oppa...bangunlah.” aku berusaha membangunkan yongbae Oppa dan menggoyang-goyangkan tanganku.”
Aku terkejut mendengar bisikan yang memanggilku oppa, serta tanganku yang bergerak-gerak. Aku bangun dan betapa bahagianya. Aku mendapati mika sudah membuka matanya dan tersenyum ke arahku.
“Kau sudah sadar, kapan kau sadar. Apa masih terasa sakit. Dimana kau merasakan sakit”
“Aku baik-baik saja oppa, aku baru saja membuka mata dan mendapati oppa tidur disebelahku”. Jawabku dengan suara lemah.
“Bagaimana kamu bisa baik-baik saja kau dalam keadaan koma selama lebih dari 3 hari mika. Dan kau tahu kau membuat kami semua merasa khawatir. Kami takut kehilanganmu.”
“Tapi yang penting sekarang aku sudah sadar kan Oppa” jawabku lagi dengan sedikit senyuman.
“Terima kasih kau sudah sadar mika”. Aku tersenyum kearahnya dan juga mencium kening Mika.
Setelah beberapa hari keadaan mika semakin membaik dan Dokter Kwon mengijinkan mika untuk meninggalkan rumah sakit. Tapi tidak untuk bayi kami.
“oppa aku ingin melihat bayi kita.”
“Apa kau siap untuk melihatnya”. Jawabku.
“iya oppa aku sudah tidak sabar untuk melihatnya selama lebih dari 4 hari kau tetap saja tak membiarkanku menemuinya. Dia anakku oppa”. Jawabku dengan cenberut.
“Baiklah, nyonya mika mari saya antarkan”.
Mika POV
Aku begitu terkejut mendapati tubuh anakku di dalam inkubator. Memang yongbae oppa mengatakan bahwa bayi kami harus di inkubator. Namun aku tidak pernah membayangkan bahwa keadaannya seperti ini. Rasanya aku ingin menangis melihat anakku bagaimana dia bisa seperti ini. Disekujur tubuhnya penuh alat-alat medis sama persis saat aku dalam keadaan koma. Aku sudah tidak bisa menahan tangisku lagi. Yongbae oppa menggenggam tanganku erat dan berkata “kau harus kuat, maka dia juga akan kuat” aku tidak mampu lagi mengucapkan kata-kata. Begitu menderitanya anak ini bahkan ketika pertama kali dia dilahirkan harus menderita.
“Jika kau tidak kuat melihatnya, kita bisa keluar dari sini.”
‘Tidak oppa. Aku ingin disini. Sudah lama aku tidak menemaninya. Bahkan aku tidak tahu keadaannya akan seperti ini.”
“Baiklah”. Jawabku dengan tersenyum
“Oppa apa kau sudah memberikannya nama”.
“Belum, aku menunggumu sadar dan melihatnya. Aku mau kita berdua yang memberikannya nama”.
“Hemmm............bagaimana jika Dong Hyun Mi”.
Yongbae oppa terdiam cukup lama. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah kenapa ekspresi wajahnya berubah dan oppa tetap diam. Astaga aku tidak sadar bahwa hyun mi, hyun bisa berasal dari nama hyunseung. Kenapa disaat-saat seperti ini aku bisa melakukan kesalahan. Sejak melihat wajah anak ini pertama kali. Wajah hyunseunglah yang terlintas dalan otakku. Matanya, hidung, dan juga bibirnya sangat mirip dengan hyunseung oppa. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku sangat takut.
“Baiklah. Dong hyun mi tidak buruk untuk dia. Dia sangat cantik, pantas jika mendapatkan nama yang cantik pula”. Jawabku dengan senyuman. Tapi aku melihat dia sangat terkejut mendengar jawabanku tadi. Yah aku sempat berfikir bahwa naama hyun mi ada sangkut pautnya dengan hyunseung. Tapi aku mencoba untuk menepis pikiran itu. Dan mensetujui nama dari Mika.
1 bulan sudah hyunmi dirawat dirumah sakit dan hari ini dai sudah boleh pulang. Aku sangat senang akhirnya kami bertiga bisa berkumpul juga. Aku tertawa melihat tingkaah yongbae oppa, dia sangat bersemangat menyiapkan segalanya untuk menyambut kepulangan hyun mi. Ayah dan ibu juga dan tentu juga ibu dong. Aku harap semua ini adalah awal dari semua kebahagiaan kami.

1 tahun kemudian
“Oppa cepatlah kita sudah hampir terlambat. Apa kau tidak tahu hyun mi semakin hari semakin bertambah berat badannya. Aku capek jika harus menggendongnya terus”.
“Sebentar mika, aku harus mencari bingkisan yang akan kita berikan kepada ayah nanti”.
Yah itulah Dong yongbae dia sangat pelupa juga sangat teledor walau dia sangat hebat sebagai seorang dokter tapi dia juga mempunyai banyak kekurangan. Hari ini adalah ulang tahun ayah. Dan kita semua akan merayakannya di rumah ayah. Bum oppa juga datang dari jepang. Ini adalah untuk kesekian kalinya kami berkumpul satu keluarga setelah acara ulang tahun hyun mi bulan lau. Dan sekarang usia hyun mi 13 bulan. Aku sangat senang dengan kebahagiaan ini.
“Ayo kita berangkat”
“kau terlalu lama oppa, ayah bisa marah jika kita terlambat datang kau tahu itukan”.
“Maafkan aku. Tadi aku lupa menaruh bingkisan untuk ayah”.
“Kau selalu saja seperti itu oppa.”. jawabku ngambek dan langsung menuju mobil.
“Silahkan tuan putri”. Tanpa terasa aku tersenyum saat yongbae oppa mengatakan kalimat itu dan membukakan pintu mobil untukku.
Incheon Airport
Di tengah hiruk pikuk kesibukan masing-masing orang yang berada di airport itu. Nampak seorang laki-laki yang berjalan dengan angkuhnya. Dia nampak mengenakan kemeja merah kotak-kotak yang di buka kancing depannya dan didalamnya dia mengenakan t-sirt vneck nya warna putih. Dia terlalu asik mendengarkan earphonenya sehingga dia tidak memperhatikan bahwa semua pasang mata memperhatikannya. Dengan cepat dia menarik 1 kopernya dan masuk kesebuah taksi yang berhenti di depannya.
Sebelum masuk dia tersenyum dan membuka kaca mata hitamnya serta melepas topi hitam yang dia kenakan.
“Mika, aku datang untukmu”
Dengan tersenyum Pria itu masuk kedalam taksi dan menutup pintu taksi tersebut.
“Tolong antarkan aku ke alamat ini”
Pria tersebut menyerahkan sebuah kertas kecil kepada sopir taksi yang berisikan sebuah alamat rumah.
--------------------------------------------------------Bersambung--------------------------------------------------------------