BigBang Song

Lalala, My girl, BigBang is Vip, This Love (Gdragon), Last farawel, Lies, Haru Haru, My Heaven, With you, Gara gara Go, Beautivul Hangover, Lets me hear your Voice, Make love, Lollipop ft 2Ne1, Lollipop 2, Sunset glows, Hot Issue, Ora Yeah, Stay, Good Person, Tell me goog Bye, Hands Up, Always, Bringing youre love, Forever with you GDTOP ft BOM, Number 1, stylist, We Belong together, Dirty Clas, Tonight, Somebody To love, What is Right, Stupit Liar, Love song, Blue, Bad Boy, Love Dust, Ain't No Fun, Fantastic Baby, Wink's (Daesung), Ego, Feeling. "Taeyang" wedding Dress, Look Only At Me, I Need A Girl, Move ft Teddy, Prayer ft Teddy, Friend ft TOP, Where U at. "Gdragon" HeartBreker, Korean dreams, Shine a Light, She is Gone. "Seungri" What can i do, Strong Baby, VViP. "Daesung " Baby dont Cry, Try To lough. "GDTOP" High High, Oh Yeah, Baby Good Nigh, Jibe Gajima, Dancing on My Own ft Pixie Lott. Monster, Bingle Bingle, Still Alive

Sabtu, 31 Maret 2012

(Keperawatan) Askep Kusta


KUSTA
DEFINISI
Kusta (lepra atau morbus Hansen) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae (M. leprae) penyakit ini menular yang menahun yang menyerang saraf perifer, kulit dan jaringan tubuh lainnya
  
ETIOLOGI
M. leprae merupakan basil tahan asam (BTA), bersifat obligat intraseluler, menyerang saraf perifer, kulit, dan organ lain seperti mukosa salurean napas bagian atas, hati, dan sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat. Masa membelah diri M. leprae 12-21 hari dan masa tunasnya antara 40 hari – 40 tahun. M. Leprae atau kuman Hansen adalah kuman penyebab penyakit kusta yang ditemukan oleh sarjana dari Norwegia, GH Armouer Hansen pada tahun 1873. Kuman ini bersifat tahan asam berbentuk batang dengan ukuran 1,8 micron, lebar 0,2-0,5 micron. Biasanya ada yang berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat di kultur dalam media buatan. Kuman ini dapat mengakibatkan infeksi sistemik pada binatang Armadillo.

EPIDEMIOLOGI
            Cara penularan yang pasti belum diketahui, tetapi menurut sebagian besar ahli melalui saluran pernapasan (inhalasi) dan kulit (kontak langsung yang lama dan erat). Kuman mencapai permukaan kulit melalui folikel rambut, kelenjar keringat, dan diduga juga melalui air susu ibu. Tempat implantasi tidak selalu menjadi tempat lesi pertama.
            Timbulnya penyakit kusta pada seseorang tidak mudah sehingga tidak perlu ditakuti. Hal ini bergantung pada beberapa faktor, antara lain sumber penularan, kuman kusta, daya tahan tubuh, sosial ekonomi dan iklim.
            Sumber penularan adalah kuman kusta utuh (solid) yang berasal dari pasien tipe MB (multy basiler) yang belum di obati atau tidak berobat secara teratur.
            Bila seseorang terinfeksi M. Leprae, sebagian besar (95%) akan sembuh sendiri dan 5% akan menjadi indeterminate. Dari 5% indeterminate, 30% bermanisfestasi klinis menjadi determinate dan 70% sembuh.

Insiden tinggi pada daerah tropis dan sub tropis yang panas dan lembab. Insidens penyakit kusta di indonesia pada maret 1999 sebesar 1,01 per 10.000 penduduk.
            Kusta dapat menyerang semua umur, anak-anak lebih rentan daripada orang dewasa. Frekuensi tertinggi pada kelompok dewasa ialah umur 25-35 tahun, sedangkan pada kelompok anak umur 10-12 tahun.

PATOGENESIS
            Meskipun cara masuk M. Leprae ke tubuh belum diketahui pasti, beberapa penelitian, tersering melalui kulit yang lecet pada bagian tubuh bersuhu dingin dan melalui mukosa nasal.
            Setelah M. Leprae masuk ke dalam tubuh, perkembangan penyakit kusta bergantung pada kerentanan seseorang. Respon tubuh setelah masa tunas dilampaui tergantung pada derajat sistem imunitas seluler (cellular mediated immune) pasien. Kalau sistem imunitas seluler tinggi. Penyakit berkembang ke arah tuberkuloid dan bila rendah, berkembang ke arah lepromatosa. M. Leprae berpredileksi di daerah-daerah yang relatif lebih dingin, yaitu daerah akral dengan vaskularisasi yang sedikit.
M. Leprae ( Parasis Obligat Intraseluler ) terutama terdapat pada sel macrofag sekitar pembuluh darah superior pada dermis atau sel Schwann jaringan saraf, bila kuman masuk tubuh tubuh bereaksi mengeluarkan macrofag ( berasal dari monosit darah, sel mn, histiosit ) untuk memfagosit.
Tipe LL ; terjadi kelumpuha system imun seluler tinggi macrofag tidak mampu menghancurkan kuman dapat membelah diri dengan bebas merusak jaringan.
Tipe TT ; fase system imun seluler tinggi macrofag dapat menghancurkan kuman hanya setelah kuman difagositosis macrofag, terjadi sel epitel yang tidak bergerak aktif, dan kemudian bersatu membentuk sel dahtian longhans, bila tidak segera diatasi terjadi reaksi berlebihan dan masa epitel menimbulkan kerusakan saraf dan jaringan sekitar.

            Derajat penyakit tidak selalu sebanding dengan derajat infeksi karena respons imun pada tiap pasien berbeda. Gejala klinis lebih sebanding dengan tingkat reaksi seluler daripada intensitas infeksi. Oleh karena itu penyakit kusta dapat disebut sebagai penyakit imunologis.

MANIFESTASI KLINIS
            Diagnosis didasarkan pada gambaran klinis, bakterioskopis, dan histopatologis. Menurut WHO (1995), diagnosis kusta ditegakkan bila terdapat satu dari tanda kardinal berikut.
  1. Adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas.
Lesi kulit dapat tunggal atau multipel, biasanya hipopigmentasi tetapi kadang-kadang lesi kemerahan atau berwarna tembaga. Lesi dapat bervariasi tetapi umumnya berupa makula, papul, atau nodul.
Kehilangan sensibilitas pada lesi kulit merupakan gambaran khas. Kerusakan saraf terutama saraf tepi, bermanifestasi sebagai kehilangan sensibilitas kulit dan kelemahan otot. Penebalan saraf tepi saja tanpa disertai kehilangan sensibilitas dan/atau kelemahan otot juga merupakan tanda kusta.
  1. BTA positif.
Pada beberapa kasus ditemukan basil tahan asam dari kerokan jaringan kulit.
Bila ragu-ragu maka dianggap sebagai kasus dicurigai dan diperiksa ulangn setiap 3 bulan sampai ditegakkan diagnosis kusta atau penyakit lain.

KLASIFIKASI
            Klasifikasi berdasarkan Ridley dan Joping adalah tipe TT (tuberkoloid), BT (borderkine tuberkoloid), BB (mid borderline), BL (borderline lepromatous), dan LL (lepromatosa). Sedangkan departemen kesehatan Dirjen P2MPLP (1999) dan WHO (1995) membagi tipe menjadi tipe pause basiler (PB) dan multy basiler (MB). Dan membagi klasifikasi kusta berdasarkan gambaran klinis, bakteriologik, histo patologik, dan status imun penderita menjadi
1.      TT : Lesi berupa makula hipo pigmantasi/eutematosa dengan permukaan kering dan kadang dengan skuama di atasnya. Jumlah biasanya yang satudenga yang besar bervariasi. Gejala berupa gangguan sensasibilitas, pertumbuhan langsung dan sekresi kelenjar keringat. BTA ( - ) dan uji lepramin ( + ) kuat.
2.      BT : Lesi berupa makula/infiltrat eritematosa dengan permukaan kering bengan jumlah 1-4 buah, gangguan sensibilitas ( + )
3.      Lesi berupa mamakula/infiltrat eritematosa permukaan agak mengkilat. Gambaran khas lesi ”punched out” dengan infiltrat eritematosa batas tegas pada tepi sebelah dalam dan tidak begitu jelas pada tepi luarnya.
Gangguan sensibilitas sedikit, BTA ( + ) pada sediaan apus kerokan jaringan kulit dan uji lepromin ( - ).
4.      BL : Lesi infiltrat eritematosa dalam jumlah banyak, ukuran bervariasi, bilateral tapi asimetris, gangguan sensibilitas sedikit/( - ), BTA ( + ) banyak, uji Lepromin ( - ).
5.      LL : Lesi infiltrat eritematosa dengan permukaan mengkilat, ukuran kecil, jumlah sangat banyak dan simetris. BTA ( + ) sangat banyak pada kerokan jaringan kulit dan mukosa hidung, uji Lepromin ( - ).
WHO membagi menjadi dua kelompok, yaitu :
1.      Pansi Basiler (PB) : I, TT, BT
2.      Multi Basiler (MB) : BB, BL, LL

PEMERIKSAAN KLINIS
  1. inspeksi. Pasien diminta memejamkan mata, menggerakkan mulut, bersiul, dan tertawa untuk mengetahui fungsi saraf wajah. Semua kelainan kulit diseluruh tubuh diperhatikan seperti adanya makula, nodul, jaringan parut, kulit yang keriput, penebalan kulit, dan kehilangan rambut tubuh (alopesia dan madarosis).
  2. Pemeriksaan sensibilitas pada lesi kulit dengan menggunakan kapas (rasa raba), jarum pentul yang tajam dan tumpul (rasa nyeri), serta air panas dan dingin dalam tabung reaksi (rasa suhu).
  3. Pemeriksaan saraf tepi dan fungsinya dilakukan pada : n. Auricularis, n. Ulnaris, n. Radialis, n. Medianus, n. Peroneus, dan n. Tibialis posterior. Hasis pemeriksaan yang perlu dicatat adalah pembesaran, konsistensi, penebalan, dan adanya nyeri tekan. Erhatikan raut muka pasien apakah ia kesakitan atau tidak saat saraf diraba.
  4. Pemeriksaan fungsi saraf otonom. Yaitu memeriksa ada tidaknya kekeringan pada lesi akibat tidak berfungsinya kelenjar keringat dengan menggunakan pensil tinta.

GAMBARAN KLINIS
Menurut klasifikasi Ridley dan Jopling
1.      Tipe Tuberkoloid ( TT )
·         Mengenai kulit dan saraf.
·         Lesi bisa satu atau kurang, dapat berupa makula atau plakat, batas jelas, regresi, atau, kontrol healing ( + ).
·         Permukaan lesi bersisik dengan tepi meninggi, bahkan hampir sama dengan psoriasis atau tinea sirsirata. Terdapat penebalan saraf perifer yang teraba, kelemahan otot, sedikit rasa gatal.
·         Infiltrasi Tuberkoloid ( + ), tidak adanya kuman merupakan tanda adanya respon imun pejamu yang adekuat terhadap basil kusta.
2.      Tipe Borderline Tuberkoloid ( BT )
·         Hampir sama dengan tipe tuberkoloid
·         Gambar Hipopigmentasi, kekeringan kulit atau skauma tidak sejelas tipe TT.
·         Gangguan saraf tidak sejelas tipe TT. Biasanya asimetris.
·         Lesi satelit ( + ), terletak dekat saraf perifer menebal.
3.      Tipe Mid Borderline ( BB )
·         Tipe paling tidak stabil, jarang dijumpai.
·         Lesi dapat berbentuk macula infiltrate.
·         Permukaan lesi dapat berkilat, batas lesi kurang jelas, jumlah lesi melebihi tipe BT, cenderung simetris.
·         Lesi sangat bervariasi baik ukuran bentuk maupun distribusinya.
·         Bisa didapatkan lesi punched out, yaitu hipopigmentasi berbentuk oralpada bagian tengah dengan batas jelas yang merupaan ciri khas tipe ini.
4.      Tipe Borderline Lepromatus ( BL )
Dimulai makula, awalnya sedikit lalu menjadi cepat menyebar ke seluruh tubuh. Makula lebih jelas dan lebih bervariasi bentuknya, beberapa nodus melekuk bagian tengah, beberapa plag tampak seperti punched out. Tanda khas saraf berupa hilangnya sensasi, hipopigmentasi, berkurangnya keringat dan gugurnya rambut lebih cepat muncil daripada tipe LL dengan penebalan saraf yang dapat teraba pada tempat prediteksi.
5.      Tipe Lepromatosa ( LL )
·         Lesi sangat banya, simetris, permukaan halus, lebih eritoma, berkilap, batas tidak tegas atau tidak ditemuka anestesi dan anhidrosis pada stadium dini.
·         Distribusi lesi khas :
o        Wajah : dahi, pelipis, dagu, cuping telinga.
o        Badan : bahian belakang, lengan punggung tangan, ekstensor tingkat bawah.
·         Stadium lanjutan :
o        Penebalan kulit progresif
o        Cuping telinga menebal
o        Garis muka kasar dan cekung membentuk fasies leonine, dapat disertai madarosis, intis dan keratitis.
·         Lebih lanjut
o        Deformitas hidung
o        Pembesaran kelenjar limfe, orkitis atrofi, testis
o        Kerusakan saraf luas gejala stocking dan glouses anestesi.
o        Penyakit progresif, makula dan popul baru.
o        Tombul lesi lama terjadi plakat dan nodus.
·         Stadium lanjut
Serabut saraf perifer mengalami degenerasi hialin/fibrosis menyebabkan anestasi dan pengecilan tangan dan kaki.
6.      Tipe Interminate ( tipe yang tidak termasuk dalam klasifikasi Redley & Jopling)
·         Beberapa macula hipopigmentasi, sedikit sisik dan kulit sekitar normal.
·         Lokasi bahian ekstensor ekstremitas, bokong dan muka, kadang-kadang dapat ditemukan makula hipestesi dan sedikit penebalan saraf.
·         Merupakan tanda interminate pada 20%-80% kasus kusta.
·         Sebagian sembuh spontan.
Gambaran klinis organ lain
·         Mata : iritis, iridosiklitis, gangguan visus sampai kebutaan
·         Tulang rawan : epistaksis, hidung pelana
·         Tulang & sendi : absorbsi, mutilasi, artritis
·         Lidah : ulkus, nodus
·         Larings : suara parau
·         Testis : ginekomastia, epididimitis akut, orkitis, atrofi
·         Kelenjar limfe : limfadenitis
·         Rambut : alopesia, madarosis
·         Ginjal : glomerulonefritis, amilodosis ginjal, pielonefritis, nefritis interstitial.

PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGIS
Ketentuan pengambilan sediaan adalah sebagai berikut :
  1. sediaan diambil dari kelainan kulit yang paling aktif.
  2. kulit muka sebaiknya dihindari karena alasan kosmetik, kecuali tidak ditemukan lesi di tempat lain.
  3. pemeriksaan ulangan dilakukan pada lesi kkulit yang sama dan bila perlu ditambah dengan lesi kulit yang baru timbul.
  4. lokasi pengambilan sediaan apus untuk pemeriksaan M. Leprae ialah :
    1. cuping telinga kanan/kiri
    2. dua sampai empat lesi kulit yang aktif di tempat lain.
  5. sediaan dari selaput lendir hidung sebaiknya dihindari karena :
    1. Tidak menyenangkan pasien
    2. Positif palsu karena ada mikrobakterium yang lain
    3. Tidak pernah ditemukan M. Leprae pada selaput lendir hidung apabila sediaan apus kulit negatif
    4. Pada pengobatan, pemeriksaan bakterioskopis selaput lendir hidung lebih dahulu negatif daripada sediaan kulit ditempat lain
  6. indikasi pengambilan sediaan apus kulit :
    1. semua orang dicurugai menderita kusta
    2. semua pasien baru yang di diagnosis secara klinis sebagai pasien kusta.
    3. Semua pasien kusta yang diduga kambuh (relaps) atau karena tersangka kuman resisten terhadap obat.
    4. Semua pasien MB setiap satu tahun sekali.
  7. pemeriksaan bakteriologis dilakukan dengan pewarnaan tahan asam, yaitu Ziehl Neelsen atau Kinyoun-Gabett
  8. cara menghitung BTA dalam lapangan mikroskop ada 3 metode, yaitu cara zig zag, huruf z, dan setengah/seperempat lingkaran. Bentuk kuman yang mungkin ditemukan adalah bentuk utuh (solid), pecah-pecah (fragmented), granular (granulates), globus, dan chumps.

PENATALAKSANAAN
            Tujuan utama program pemberantasan kusta adalah menyembuhkan pasien kusta dan mencegah timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai penularan dari pasien kusta terutama tipe yang menular kepada orang lain untuk menurunkan insidens penyakit.
            Program multy drug therapy (MDT) dengan kombinasi rifampisin, klofazimin, dan DDS dimulai tahun 1981. program ini bertujuan untuk mengatasi resistensi dapson yang semakin meningkat, mengurangi ketidaktaatan pasien, menurunkan angka putus obat, dan mengeliminasi persistensi kuman kusta dalam jaringan.
            Rejimen pengobatan MDT di indonesia sesuai rekomendasi WHO (1995) sebagai berikut :

Tipe B
Jenis obat dan dosis untuk dewasa :
  1. rifampisin 600 mg/bulan diminum didepan petugas.
  2. DSS tablet 100 mg/hari diminum dirumah.
Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan dan setelah selesai minum 6 dosis dinyatakan RFT (released from treatment = berhenti minum obat kusta) meskipun secara klinis lesinya masih aktif. Menurut WHO (1995) tidak lagi dinyatakan RFT tetapi menggunakan istilah completion of treatment cure dan pasien tidak lagi dalam pengawasan.

Tipe MB
Jenis
  1. rifampisin 600 mg/bulan diminum didepan petugas.
  2. klofazimin 300 mg/bulan diminum didepan petugas dilanjutkan dengan klofazimin 50 mg/hari diminum dirumah.
  3. DSS 100 mg/hari diminum dirumah.
Pengobatan 24 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan. Sesudah selesai minum 24 dosis dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif. Menurut WHO (1998) pengobatan  MB diberikan untuk 12 dosis yang diselesaikan dalam 12-18 bulan dan pasien langsung dinyatakan RFT.

Dosis untuk anak
- klofazimin :     umur dibawah 10 tahun : bulanan 100 mg/bulan
                                                                 Harian 50 mg/2 kali/minggu
                        Umur 11-14 tahun             bulanan 100 mg/bulan
                                                                 Harian 50 mg/3 kali/minggu
- DDS                                                       1-2 mg/kg berat badan
- rifampisin                                                10-15 mg/kg berat badan

Pengobatan MDT terbaru
Metode ROM adalah pengobatan MDT terbaru. Menurut WHO (1998), pasien kusta tipe PB dengan lesi hanya 1 (satu) cukup diberikan dosis tunggal rifampisin 600 mg, ofloksasin 400 mg, dan minosiklin 100 mg dan pasien langsung dinyatakan RFT, sedanngkan untuk tipe PB dengan 2-5 lesi diberikan 6 dosis dalam 6 bulan. Untuk tipe MB diberikan sebagai obat alternatif dan di anjurkan digunakan sebanyak 24 dosis dalam 24 bulan.

Putus obat.
Pada pasien kusta tipe PB yang tidak minum obat sebanyak 4 dosis dari yang seharusnya maka dinyatakan DO< sedangkan pasien kusta tipe MB dinyatakan DO bila tidak minum obat sebanyak 12 dosis dari yang seharusnya.

Evaluasi
Evaluasi pengobatan menurut buku panduan pemberantasan penyakit kusta depkes (1999) adalah sebagai berikut :
  1. pasien PB yang telah mendapat pengobatan MDT 6 dosis dalam waktu 6-9 bulan dinyatakan RFT tanpa diharuskan menjalani pemeriksaan laboratorium.
  2. pasien MB yang telah mendapat pengobatan MDT 24 dosis dalam waktu 24-36 bulan dinyatakan RFT tanpa diharuskan menjalani pemeriksaan laboratorium.
  3. RFT dapat dilaksanakan setelah dosis dipenuhi tanpa diperlukan pemeriksaan laboratorium. Dikeluarkan dari register pasien dan dimasukkan dalam register pengamatan (surveillance) dan dapat dilakukan oleh petugas kusta.
  4. masa pengamatan
pengamatan setelah RFT dilakukan secara pasif :
    1. Tipe PB selama 2 tahun
    2. Tipe MB selama 5 tahun tanpa diperlukan pemeriksaan laboratorium.
  1. hilang/out of control (OOC)
pasien PB maupun MB dinyatakan hilang bilamana dalam 1 tahun tidak mengambil obat dan dikeluarkan dari registrasi pasien.
  1. relaps (kambuh)
terjadi bila lesi aktif kembali setelah pernah dinyatakan sembuh atau RFT.

INDIKASI RUJUKAN
  1. memastikan diagnosis penyakit kusta
  2. neuritis akut dan sebakut
  3. reaksi reversal berat
  4. reaksi ENL berat
  5. komplikasi pada mata
  6. reaksi terhadap antikusta
  7. tersangka resisten terhadap antikusta
  8. pasien cacat yang memerlukan rehabilitasi medik
  9. pasien dengan keadaan umum buruk atau darurat
  10. pasien kusta yang membutuhkan latihan fisioterapi
  11. pasien kusta yang membutuhkan terapi okupasi
  12. luka lebar dan dalam pada anggota gerak
  13. pasien kusta yang membutuhkan tindakan bedah septik
  14. pasien yang memerlukan protese
  15. indikasi sosial

KOMPLIKASI
            Cacat merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada pasien kusta akibat kerusakan fungsi saraf tepi maupun karena neuritis sewaktu terjadi reaksi kusta


REAKSI KUSTA
            Reaksi kusta atau reaksi lepra adalah suatu episode akut dalam perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan reaksi kekebalan (respon seluler) atau reaksi antigen-antibodi (respon humoral) dengan akibat merugikan pasien.
            Reaksi ini dapat  terjadi pada pasien sebelum mendapat pengobatan, selama pengobatan dan sesudah pengobatan. Namun sering terjadi pada 6 bulan sampai setahun esudah mulai pengobatan.

JENIS REAKSI
  1. reaksi tipe I (reaksi reversal, reaksi upgrading, reaksi boederline)
Terjadi pada pasien tipe borderline disebabkan meningkatnya kekebakan seluler secara cepat. Pada reaksi ini terjadi pergeseran tipe kusta ke arah PB. Faktor pencetusnya tidak diketahui secara pasti tapi diperkirakan ada hubungan dengan reaksi hipersensitivitas tipe lambat.
Gejala klinis reaksi tipe I berupa perubahan lesi kulit, neuritis (nyeri tekan pada saraf), dan/atau gangguan keadaan umum pasien (gejala konstitusi).

  1. reaksi tipe II (reaksi eritema nodosum leprosum)
Reaksi ini terjadi pada pasien tipe MB dan merupakan reaksi humoral, dimana basil kusta yang utuh maupun tak utuh menjadi antigen. Tubuh akan membentuk antibodi dan komplemen sebagai respon adanya antigen. Reaksi kompleks imun terjadi antara antigen, antibodi, dan komplemen. Kompleks imun ini dapat mengendap antara lain di kulit berbentuk nodul yang dikenal sebagai eritema nodosum leprosum (ENL), mata (iridosiklitis), sendi (artritis), dan saraf (neuritis) dengan disertai gejala konstitusi seperti demam dan malaise, serta komplikasi pada organ tubuh lainnya.
Hal-hal yang mempermudah terjadinya reaksi kusta adalah stres fisik (kondisi lemah, menstruasi, hamil, setelah melahirkan, pembedahan, sesudah mendapat imunisasi, dan malaria) dan stres mental. Perjalanan reaksi dapat berlangsung sampai 3 minggu. Kadang-kadang timbul berulang-ulang dan berlangsung lama.

PENATALAKSANAAN
  1. prinsip pengobatan
    1. pemberian obat anti reaksi
obat yang dapat digunakan adalah aspirin, klorokuin, prednison, dan prednisolon sebagai anti implamasi. Dosis obat yang digunakan sebagai berikut :
Aspirin 600-1200 mg yang diberikan tiap 4 jam, 4-6 kali sehari
Klorokuin         3x150 mg/hari
Prednison         30-80 mg/hari, dosis tunggal pada pagi hari sesugah makan atau dapat juga diberikan secara dosis tertinggi misalnya : 4x2 tablet/hari, berangsur-angsur diturunkan 5-10 mg/2 minggu setelah terjadi respon maksimal.
Untuk melepas ketergantungan pada kortikosteroid pada reaksi tipe II digunanakan talidomid. Dosis talidomid 400 mg/hari yang berangsur-angsur ditirunkan sampai 50 mg/hari. Tidak dianjurkan untuk wanita usia subur karena talidomid bersifat teratogenik.
Setiap 2 minggu pasien harus diperiksa ulang untuk mellihat keadaan klinis. Bila tidak ada perbaikan maka dosis prednison yang diberikan dapat dilanjutkan 3-4 minggu atau dapat ditingkatkan (misalnya dari 15 mg menjadi 20 mg sehari). Setelah ada perbaikan dosis diturunkan.
Untuk mencegah ketergantungan terhadap steroid, dapat diberikan klofazimin. Klofazimin hanya diberikan pada reaksi tipe II (ENL kronis). Dosis klofazimin ditinggikan dari dosis pengobatan kusta. Untuk orang dewasa 3x100 mg/hari selama 1 bulan. Bila reaksi sudah berkurang maka dosis klofazimin itu diturunkan menjadi 2 x 100 mg/hari, selama 1 bulan diturunkan lagi menjadi 1 x 100 mg/ hari selama 1 bulan. Setelah reaksi hilang pengobatan kembali ke dosis semula, yaitu 50 mg/hari
    1. Istirahat/imobilisasi
    2. Pemberian analgesik dan sedatif
Obat yang digunakan sebagai analgesik adalah aspirin, parasetamol, dan antimon. Aspirin masih merupakan obat yang terbaik dan termurah untuk mengatasi nyeri (aspirin digunakan sebagai antiinflamasi dan analgesik). Menurut WHO (1998), parasetamol juga dapat digunakan sebagai analgesik. Sedangkan antimon yang digunakan pada reaksi tipe II untuk mengatasi rasa nyeri sendi dan tulang kini jarang dipakai karena kurang efektif dan toksin. Dosis obat yang digunakan sebagai berikut.
Aspirin 600-1200 mg yang diberikan tiap 4 jam, 4-6 kali sehari
Parasetamol      300-1000 mg yang diberikan tiap 4-6 x sehari (dewasa)
Antimon           2-3 ml diberikan secara selangn seling, maksimum 30 ml
    1. Obat-obat kusta diteruskan dengan dosis tidak diubah
Untuk semua tipe reaksi, bila tidak ada kontra indikasi, semua obat anti kusta dosis penuh harus tetap diberikan.
  1. pengobatan reaksi ringan
    1. pemberian obat antireaksi.
Aspirin dan talidomin biasa digunakan untuk reaksi. Bila dianggap perlu dapat diberikan klorokuin selama 3-5 hari.
    1. Istirahat/imobilisasi
Berobat jalan dan istirahat dirumah
    1. Pemberian analgetik dan sedatif
Pemberian obat analgetik dan penenang bila perlu
    1. Obat-obat kusta diteruskan dengan dosis tidak di ubah.
  1. pengobatan reaksi berat
    1. pemberian obat antireaksi
pada reaksi berat diberikan preednison dalam dosis tunggal atau terbagi
    1. istirahat/imobilisasi
imobilisasi lokal pada anggota tubuh yang mengalami neuritis. Bila memungkinkan pasien dirawat inap di rumah sakit.
    1. Pemberian analgetik dan sedatif
    2. Obat-obat kusta diteruskan dengan dosis tidak diubah

REHABILITASI
            Usaha-usaha rehabilitasi meliputi medis, okupasi, dan sosial. Usaha medis yang dapat dilakukan untuk cacat tubuh antara lain operasi dan fisioterapi. Meskipun hasilnya tidak sempurna kembali ke asal, fungsinya dapat diperbaiki. Lapangan pekerjaan dapat diusahakan untuk pasien kusta yang sesuai dengan cacat tubuh. Tetapi kejiwaan berupa bimbingan mental diupayakan sedini mungkin pada setiap pasien, keluarga, dan masyarakat sekitarnya untuk memberikan dorongan dan semangat agar dapat menerima kenyataan dan menjalani pengobatan dengan teratur dan benar sampai dinyatakan sembuh sacara medis. Rehabilitasi sosial bertujuan memulihkan fungsi sosial ekonomi pasien sehingga menunjang kemandiriannya dengan memberikan bimbingan sosial dan peralatan kerja, serta membantu pemasaran hasil usaha pasien.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KUSTA

PENGKAJIAN
Dasar data pengkajian klien
·         aktivitas atau istirhat
1.      gejala :malaise
·         sirkulasi
tanda : td normal/sedikit dari jangkauan normal ( selama curah jantung tetap meningkat ), kulit hangat kering, bercahaya,pucat, lembab, burik ( vasokontriksi )
·         eliminasi
1.      gejala : diare
·         makanan/cairan
1.      gejala : anoreksia, mual/muntah
2.      tanda : penurunan BB, penurunan lemak subkutan/massa otot ( malnutrisi ), pengeluaran haluaran, konsentrasi urine, perkembangan ke arah oliguri, anuria
·         neurosensori
1.      gejala : sakit kepala, pusing, pinsang
2.      tanda : gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientasi, delirium/koma
o        nyeri/kenyamanan
1.      gejala : kejang abdominal, lokalisasi rasa sakit, urtikaria/pruritas umum
·         pernapasan
1.      tanda : takipnea dengan penurunan kedalaman pernapasan, suhu : umunya meningkat ( 37.95 oc atau lebih ), tetapi kadang sub normal ( <>
§         seksualitas
1.      gejala : pruritas perineal
2.      tanda : maserasi vulva, pengeringan vgina purulen
·         penyuluhan/pembelajaran
1.      gejala : masalah kesehatan kronis/melemahkan, misalnya : hati, ginjal, DM, kecanduan alkohol, penggunaan anti biotik ( baru saja atau jangka panjang )

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Gangguan konsep diri : HDR b/d inefektif koping indifidu
2.      Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d proses reaksi
3.      Gangguan aktivitas b/d post amputasi
4.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi kuman pada kulit dan jaringan subkutan.
5.      Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan berkurangnya elastisitas kulit
INTERVENSI
Gangguan konsep diri : Harga diri rendah berhubungan dengan inefektif koping indifidu
Tujuan :
Klien dapat memnerima perubahan dirinya setelah diberi penjelasan dengan kriteria hasil :
·         Klien dapat menerima perubahan dirinya
·         Klien tidak merasa kotor (selalu menjaga kebersihan)
·         Klien tidak merasa malu
Intervensi :
·         Bantu klien agar realistis, dapat menerima keadaanya dengan menjelaskan bahwa perubahan fisiknya tidak akan kembali normal.
·         Ajarkan pada klien agar dapat selalu menjaga kebersihan tubuhnya dan latihan otot tangan dan kaki untuk mencegah kecacatan lebih lanjut.
·         Anjurkan klien agar lebih mendekatkan pada Tuhan YME.
Gangguan rasa nyaman : nyeriberhubungan dengan luka amputasi
Tujuan :
Rasa nyaman terpenuhi dan nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan, dengan kriteria hasil :
·         Klien merasakan nyeri berkurang di daerah operasi
·         Klien tenang
·         Pola istirahat-tidur normal, 7-8 jam sehari
Intervensi :
1.      Kaji skala nyeri klien
2.      Alihkan perhatian klien terhadap nyeri
3.      Monitor keadaan umum dan tanda-tanda vital
4.      Awasi keadaan luka operasi
5.      Ajarkan cara nafas dalam & massage untuk mengurangi nyeri
6.      Kolaborasi untuk pemberian obat antibiotik dan analgetik.
Perubahan pola aktivitas berhubungan dengan post amputasi
Tujuan :
Klien dapat beraktivitas mandiri sesuai keadaan sekarang setelah dilakukan tindakan keperaatan dengan kriteria hasil :
·         Klien dapat beraktivitas mandiri
·         Klien tidak diam di tempat tidur terus
Intervensi :
1.      Motivasi klien untuk bisa beraktivitas sendiri
2.      mengajarkan Range of Motion : terapi latihan post amputasi
3.      Motivasi klien untuk dapat melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya.
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi kuman pada kulit dan jaringan subkutan
Tujuan:
Klien mampu merawat luka/lesi yang ada di kulit sehingga tidak mempengaruhi konsep diri dengan kriteria hasil :
1.      klien mampu beradaptasi dengan orang-orang disekitarnya
2.      klien tidak lagi merasa malu karena luka/lesi yang ada
3.      klien mampu mengetahui bahwa lesi harus selalu dirawat agar tidak bertambah parah
Intervensi :
·         kaji/catat ukuran, warna, dan kedalaman luka
·         gunakan krim kulit 2xsehari setelah mandi
·         pijat kulit dengan lembut untuk memperbaiki sirkulasi kulit

Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan berkurangnya elastisitas kulit
Tujuan :
Klien mengetahui dengan keadaan sekarang maka sangat rentan terhadap berbagai macam bakteri dan virus yang akan masuk kedalam tubuh sehingga klien akan lebih berhati-hati dan juga merawat diri. Dengan kriteria hasil :
1. tidak ada bakteri/virus lain yang ada dalam tubuh klien
Intervensi :
·         cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas walaupun menggunakan sarung tangan seteril
·         pantau adanya tanda-tanda infeksi
·         gunakan selalu alas kaki dan jangan berjalan terlalu cepat

DAFTAR PUSTAKA

·        Sjamsoe – Daili, Emmi S. 2003. Kusta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta.
·        Sjamsuhidajat. R dan Jong, Wimde. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. EGC : Jakarta.
  • Carpenito, L. J. 1999. Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi, keperawatan, Diagnosis Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, ed. 2. Jakarta. EGC.
  • Mansjoer, Arif M. Kapita selekta kedokteran, jilid 1. 2000. Media aesculapius. Jakarta
  • http://askepkusta.blogspot.com/



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Selamat datang Di Blog Bigbang jangan lupa tinggalkan Jejak ^^. Post Youre Coment